Showing posts with label Dizzy Things. Show all posts
Showing posts with label Dizzy Things. Show all posts

Friday, March 31, 2017

To-Be-(More)-Courageous Survivor!

Tepat seminggu lalu, dunia memperingati hari TB sedunia, 24 Maret. Tanpa bermaksud apa-apa, saya tidak menyangka akan menjadi bagian di dalamnya 😆 Sebenarnya, agak konyol, sih, saya curhat di blog ini. Toh, orang akan bisa membaca blog ini kan, ya? Tapi mungkin cerita saya ini bisa diambil sedikit hikmah buat Anda. Bagaimanapun itu. Karena ternyata saya dan Anda bisa jadi jauh lebih beruntung.

I saw a sign. Ada kejadian berulang. Entah ini sebuah tanda atau apa. Tahun 2007, akhir Januari saat saya dirawat inap karena demam berdarah, sempat terbersit di kepala saya ini, DB bisa membuat saya mati jika telat diobati. Tapi, kewaspadaan itu hanya sebentar saja. Tiga bulan kemudian, kecelakaan lalu lintas membuat saya 6 bulan harus berada di rumah dan cuti kuliah. Disaat waras, saya pikir saya diberi kesempatan hidup kedua oleh AllahSWT. Disaat otak saya miring (Hehehe..), air mata saya berderai-derai saat mau tidur dan saat sembahyang.

Etapi, memang Allah itu Maha Bercanda, ya. Setelah masa tenang saya memasuki usia 20-an, saya seperti diberikan "jalan terbaik". Sepuluh tahun kemarin merupakan usia 20-an yang sangat berkesan. Tidak selalu diatas, tidak juga dibawah terus. Tapi, ada banyaaaaak sekali pembelajaran yang membuat saya bergumam, "Ooohh, ini tho maksud-mu Gusti Allah," Sambil senyam senyum sendiri.

Satu dekade sudah berlalu. Di ulang tahun saya yang ke-30 ini, ternyata saya sakit. Demam naik turun, badan lelah luar biasa, sesekali batuk kering,dan nyeri dada sebelah kanan, terutama saat tidur menghadap kanan. Bolak-balik rawat jalan, obat yang diberikan tidak mempan, akhirnya saya dipaksa suami untuk hospitalized. Dokter observasi khususnya di bagian dada yang diduga menjadi keluhan utama. Foto thorax, tes mantoux, tes dahak, cek darah, cek USG, akhirnya saya ditangani dokter paru dan disarankan untuk sedot cairan yang memenuhi pleura sebelah kanan. Dikira cairannya hanya 500 ml, ternyata pas disedot mencapai 1.2 L. Takjub juga sih, kok gak berasa gitu ya, di badan? Sampai saya keluar RS, dokter paru belum final memvonis saya TB, walaupun 90% mengarah ke penyakit itu. Meski tes mantoux negatif, ya. Lima hari nginep di RS dan keluar hari Senin, Jumatnya saya diminta untuk kontrol pertama dengan membawa semua hasil lab dan radiologi selama saya diopname.

Yak, Sodara- sodara, ternyata betul sekali prediksi dokternya. Saya ingat betul, 10 Februari 2017, saya officially mengidap TB 😊. Analisis cairan pleura yang menguatkan perkataan dokter karena ada bakteri TB yang hidup di cairan tersebut. Seems like.... well, okay, hmm.. any better? Hehehee..  Alhamdulillah, TB saya ada di pleura dan tidak menyebabkan menular. Asal saya bersedia diterapi selama 9 bulan dan tidak putus obat. Dan saya baru tahu, pengobatan TB itu gratis, tis, di luar suplemen, ya. Saya sempat cari second opinion dengan membawa rekam medis. Pernyataan dokter kedua senada. TB. Okay, then! The show must go on, Dear!

Otak miring saya kambuh lagi. Gimana dengan program hamil saya? Kalau melamar kerja dan MCU, sudah pasti ga diterima, terus piye? Terus, lanjut biaya recovery kalau saya resign kerja gimana? Gimana stigma orang-orang sekeliling sama penderita TB? Karena aku berkaca pada diriku sendiri yang punya persepsi lain terhadap mereka (hikkss.. aku menyesal!). Makin tua, kok, makin gak karuan gini ya, mikirnyaaaa...  Saya juga gak nyangka, perasaan saya makin sensitif sampai suami selalu jadi korban kelimbungan saya ini. Saya memutuskan untuk merahasiakan dulu penyakit saya ini kepada orang-orang terdekat, termasuk orangtua saya. Jadi, sekarang yang betul-betul tahu cerita saya sakit TB hanya suami, adik saya, dan dua orang di kantor. Tapi, dukungan suamilah yang paling.... hmm... stop aja deh, bisa-bisa saya mbrebes mili dan gak lanjut ngetik 😐

Hampir dua bulan ini, efek samping yang saya rasakan adalah sedikit mual, jantung berdebar-debar (hanya di minggu pertama minum obat), buang air besar jadi lebih lancar di pagi hari(untung tidak diare), dan rasa letih yang masih belum hilang. Saya berusaha untuk menjalani hidup seperti biasa. Sampai saya menulis ini, saya sudah seperti orang normal saja, kecuali selalu harus ingat bawa obat kemana-mana setiap hari dan rutin kontrol sesuai jadwal yang diberikan dokter.

Jujur, meski saya optimis penyakit saya ini akan sembuh dengan obat dan support dari suami, tapi secara mental dan psikologis, saya benar-benar limbung. Cemas dan stres yang sangat sangat sangat tinggi, seakan ini puncaknya, karena sampai lelah ke badan juga. Sebenarnya, saya kasihan sama suami saya dan menahan perasaan saya ini, tapi malah hanya ibarat menunggu gunung api meledak saja. Sebab, apapun bisa mengganggu pikiran dan hati saya.

Nyatanya, sabar saja gak cukup. Masih ada ikhlas yang sepertinya, kok, susah ya di tahap itu. Itu membuat saya kepingin nangis sendiri. Seringkali. Mungkin sekarang ini Allah mengajak saya "bercanda". Tapi. saya belum bisa tertawa. Time will heal the pain, ceunah. Saya yakin saya akan bisa tertawa atas candaan Tuhan ini.

Nanti.

Kalau saya udah ngerti.


Saturday, April 23, 2011

Easy Breezy...Dizzy!!




5 months-to-go........

I still try to keep my balance. But i have 3 super things that i must finish:

1. My thesis 
2. The BIG day
3. My endless work 

First thing first. Unfortunately, each thing needs to be finished immediately. So, i try to put notes on paper in case i forget many priority stuff that i need. But, now, i just post on my blog then i feel so asleep. And i gratitude for my menses period. It is enhance my blood pressure. ...and i need double-me in cloning version. 



Thursday, February 3, 2011

Pagi-pagi Buta Main ke Imigrasi #Cuapcuap3 _ Tamat



Oke...lanjut! 


29 Des 2010

Jam 07.45 WIB saya baru sampai di Kanim Jakpus - Kemayoran. Seperti biasa, Kanim sudah penuh dan saya masih saja sedikit linglung memulai dari mana, karena memang membingungkan.

Setelah nongkrong di depan sebuah loket, nama saya pun terpanggil. Sebelumnya, saya sudah tanya sesama pemohon paspor sana-sini. Lalu, saya dapat nomor antrian untuk pembayaran. Menunggu dipanggil (lagi).



Saturday, December 25, 2010

Pagi-pagi Buta Main ke Imigrasi #CuapCuap 2

Di #CuapCuap 1, persiapan dokumen sangat penting karena menjadi permasalahan utama yang menentukan lolos atau tidaknya kita ke tahap selanjutnya.

Di #CuapCuap 2 ini, saatnya untuk pergi ke Kanim. Kalau saya yang berdomisili di Jakarta Pusat, saya memilih di Kanim Kemayoran, Jl. Merpati no.2. Walau sebenarnya di Kanim mana saja kita bisa asal di pilihan aplikasi online, kita tentukan dulu Kanim yang kita mau.

Friday, December 24, 2010

Pagi Buta Main-main ke Imigrasi -Siapkan Dokumen Kependudukan#CuapCuap 1



Selama sebulan ini, urusan pribadi yang saya targetkan adalah membuat paspor! Bukan, bukan. Saya belum melamar menjadi TKI (kenapa TKI konotasinya selalu "budak" ya?), tapi saya percaya pada masa depan yang baik dan tahi lalat di jempol kaki kanan saya yang akan membawa saya melanglang buana (masih ingat dengan Vena Annisa? Penyiar top Radio Prambors itu juga punya tahi lalat di kakinya dan dia memang hobi jalan2 juga *ngasal*). Tapi, cita-cita luhur saya tetap Keliling Indonesia, kok. The dangerously beautiful country.

Kenapa saya selalu tergelitik untuk mencicipi segala macam bentuk urusan tetek bengek kependudukan dan data identitas diri akhir-akhir ini? Entahlah. Saya penasaran. Sekaligus biar bisa langsung damprat petugas-petugas yang "tunduk" banget sama falsafah: Kalo bisa dipersulit, kenapa harus dipermudah?

Saturday, May 9, 2009

Sajadah Merah dan Bisikan Malam

Malam ini. Mulai lagi.

Aku tak pernah keberatan ketika dia menggelarku dan mulai berdiri melihat ke ujung kepalaku. Aku tergelar di ubin dingin kamarnya atas nama kesetiaan. Aku sudah ditakdirkan untuk setia selamanya padanya. Aku dan dia membentuk visual sebuah sudut siku-siku. Dia berdiri dengan tegaknya dengan pakaian semacam jubah lebar dan menutup kaki. Dan aku disini. Menunggunya duduk bercerita. Ada apa lagi dengannya?

Warnaku merah. Dia sangat menyukai warna merah pada benda sepertiku. Entah. Mungkin secara psikologis, warna merah sering diartikan sebagai warna penyemangat (tak usah disangkutpautkan dengan kemarahan.) Lebih tepatnya warna merah yang selalu kebasahan. Bagaimana tidak, aku sering dimandikan dengan air matanya. Air mata yang mengandung banyak kegelisahan dan keharuan.

Dia sering begitu. Dia suka bercerita apa saja pada Tuhannya. Dia selalu berdoa untuk semua orang yang dia sayangi. Meski kenyataannya, dia bisa saja menjadi orang yang paling menyebalkan seantero jagad. Dia tidak suka dianggap manis karena dia "mendingan" dianggap ngeselin sekalian tapi sebenarnya dia orang yang sangat tidak tegaan. Aneh. Dia salah seorang yang aneh diantara banyak manusia yang aneh.

Dan malam ini si bebal memohon ampun lagi. Sederhana. Orang-orang tak perlu repot "memperhatikan"-nya. Dia hanya perlu dirinya sendiri dan Tuhannya. Semua yang dia lakukan, hanya untuk orang-orang terkasihnya. Dan dia sering bergumam diatasku, katanya dia tak mengharap apa-apa. Selain Tuhan berbaik hati mengampuni atas semua kekhilafan yang telah dia lakukan dan dia sering mengeluarkan air mata itu untuk hal itu... Termasuk malam ini.

Dia hanya duduk diatasku. Diam. Sedetik dua detik dia sering berbisik-bisik. Bisikan itu istigfar. Dan doa untuk sebuah kekuatan.

Friday, May 1, 2009

Cerita Satu Hari di Kamis Mendung

Siang ini Jakarta diguyur hujan deras yang menggoda untuk tetap diam di rumah dan membatalkan janji dengan teman saya. Tapi, berhubung saya sudah 'gerah' di rumah dan janji adalah utang, saya membuang jauh rasa malas dan bergegas mengurus keperluan saya hari ini.

Ketika saya ke bank (ah, ini karena kecerobohan saya lupa mencatat PIN atm baru. Ugh!), saya ditawari account di salah satu program tabungan yang menurut saya resikonya rendah. Sebut saja kali, ya, saya akhirnya setuju membuka account di Tabungan Rencana Mandiri. Simpelnya, tak ada salahnya menabung, lagipula persyaratannya cukup mudah dan saya bisa memiliki simpanan untuk "keselamatan finansial". Hehee..

Berbincang sebentar dengan Costumer Service, saya 'ditantang' untuk menaruh aplikasi lamaran saya di Bank Mandiri dan dia bisa membantu mengirimkannya karena setiap hari ada supir dari kantor kanwil yang mengantar surat2 kantor. Hmmm, kenapa tidak? Namanya juga usaha dan saya pun tidak berharap banyak, tidak seperti caleg yang stres karena memasang target kelewat tinggi...*hooppp!!! balik lagi ke topik..*

Hujan mereda dan saya sampai di kampus yang sudah diramaikan oleh acara musik (kampus saya kebanyakan 'seniman'. Hihihi). Namun, saya mendapat kabar duka bahwa ayah teman sekelas saya pas kuliah meninggal dunia. Saya berniat ke rumah teman saya selepas solat magrib di kampus karena teman saya ini orangnya sangat baik. Saya dijenguk olehnya ketika saya bolak-balik diinfus di RS dan bersedia mengantar saya ke Palmerah siang bolong.

Pas sebelum solat magrib saya lagi-lagi mendapat kabar duka bahwa ibu dari senior saya di kampus meninggal dunia, juga karena sakit. Lalu, ketika saya melewati daerah Palmerah, juga ada bendera kuning plastik lain yang bertengger di mulut gang. Innalillahi wa inna ilaihi raji'uun...

Untung saya sampai di rumah teman saya dengan selamat dan tidak nyasar (hahay, saya tidak takut nyasar, kok!). Kondisi teman saya baik dan terlihat sabar, bahkan dia masih sempat cubit-cubit lengan saya, dan balasannya saya selalu menggeram kesal padanya.

Pulangnya, saya meneduh di mulut gang di kedai kopi yang tutup. Di situ ada seorang Bapak sedang nongkrong sambil merokok. Dan saya suka mengobrol dengan orang asing. Tapi ini sangat mengandalkan insting saya dan alhamdulillah selama ini saya dilindungi Allah SWT. Kami bercerita (dan saya bercerita ala kadarnya) dan begitu tahu bahwa saya seorang jobseeker, Bapak itu turut mendoakan agar saya segera dapat kerja (AMIN!) dan insya Allah berjodoh dengan pria yang akan menjemput saya sebentar lagi. Amin, amin!

Waktu sudah menunjukkan jam 21.30. Ketika sampai di rumah, saya mengobrol sebentar dengan Bapak via telepon. Menanyakan kabar dan mempersilahkan Bapak untuk menyempatkan diri datang ke rumah saat Beliau ke Jakarta Juli nanti bersama cucunya nonton MU! Alhamdulillah, Bapak mau menyempatkan diri datang dan ingin melihat saya (heheee..).

Dan Beliau juga menanyakan apakah saya sudah mendapat pekerjaan. Tumben, saya dengan ringan menjawab, "Belum, Pak. Saya sudah melamar tapi belum dipanggil-panggil." Beliau mengajak saya untuk berpikir pada jalur lain.

"Insya Allah nanti dapat. Allah belum memberi berarti Allah mau kita merasakan prihatin dulu. Kalau langsung dapat nanti kita kesenengan. Yang penting tetap meminta, saya juga sebagai orang tua hanya bisa mendoakan anaknya."

..............
.............
.............

Saya merasa bersyukur dan adem. Bagaimana tidak, saya memiliki dua Bapak dan Bapak yang satu itu sangat mampu menentramkan hati saya. Doaku untuk Bapak dan keluarga disana, semoga selalu diberkahi kesehatan dan keselamatan. Matur sembah nuwun, Pak.


P.S; Turut berduka cita atas wafatnya ayahanda Bari di Rawa Belong dan ibunda Bang Rahmat MP di Klender. Semoga Allah menerima amal ibadah beliau dan keluarga diberi ketabahan. Amin.




Friday, April 10, 2009

Harapan / Kenyataan

Di tengah ketidakpastian. Terus berdoa kepada Tuhan bahwa ia mampu menjalani semua. Di bawah purnama, ia hirup hawa jalanan berpolutan. Memejamkan mata meyakinkan diri semua akan berjalan baik. Menanamkan benak bahwa Tuhan selalu bersamanya. Aliran darah pun menderas seiring kuatnya hati yang berharap. Membuka mata. Meraba kembali kenyataan. Tapi, yang disayanginya menggenggamnya lembut. Seolah juga dapat merasakan.  Tanpa harus berucap, tanpa harus berseru. Bahwa mereka akan menghadapinya bersama.

040909
Sudirman

Friday, January 16, 2009

TERIMA KASIH ATAS UJI COBA JAM MASUK SEKOLAH 6.30

Memang saya sudah kuliah dan sebentar lagi akan lulus (amin, amin, amin….!!!). Tapi, jelas hal ini mencuri perhatian saya karena saya pernah menjadi anak sekolah dan adik saya pun sekarang masih usia sekolah. Kalau dalam keilmuan yang saya pelajari, saya dan persoalan ini memiliki “proximity” (kedekatan).
Sebut saja, macet. Banjir. Kriminalitas. Urbanisasi. Pemerintah DKI memang punya banyak PR yang harus segera dikerjakan dan dibenahi. Salah satu “kerjaan” mereka ya ini, anak-anak sekolah jadi uji coba untuk mengurangi kemacetan di Jakarta. Lhaaa…, kok anak sekolah yang kena getahnya? Sekarang, panjang jalanan Jakarta sudah terdesak oleh berbagai kendaraan bermotor. Lucu. Anak sekolah yang harus mau digeser jam sekolahnya lebih pagi oleh pemerintah.

 Sudah dua minggu uji coba peraturan dijalankan. Eh, tapi, apa masih jadi uji coba? Sampai kapan? Anggap saja sudah diberlakukan tetap. Tapi, apa kabar macet? Bisa kita lihat sendiri dan tentu saja peraturan ini buang-buang tenaga dan sama aja memble-nya.

Jumlah anak sekolah hanya sekian persen dibanding jumlah pekerja kantoran dan pengguna lalu-lintas lainnya. Ibu-ibu (dan supir kalau punya supir pribadi) harus bangun lebih pagi dan waktu belajar anak-anak jadi kepagian.
 
 Kenapa pajak kendaraan bermotor tidak dinaikkan? Kenapa transportasi massal tidak diperbaiki fasilitas dan pelayanannya SECARA TOTAL sehingga aman dan nyaman (kadang bis-bis kota tidak memanusiakan manusia)? Kenapa jalanan yang rusak tidak segera diperbaiki? Kenapa uji emisi kendaraan bermotor tidak diterapkan SECARA TOTAL? Sayang, kita harus telan bulat-bulat “kenapa” itu.

Wednesday, October 15, 2008

Penting Itu Relatif

Bagi Anda sesuatu kurang penting, bagi saya justru bisa menjadi penting. Makanya judul yang tepat untuk tulisan saya saat ini.

Saya pernah baca di kaus salah seorang gadis bule di Museum Nasional.
"My friends will become nothing,
 My foes will become nothing,
 Me, will become nothing
 And then, all will become nothing" -Dalai Lama

Kurang lebih begitu inti pesan dari tulisan grafis di kaus gadis berambut kuncir kuda yang sedang berdiri di depan saya.

Ah. Nihilisme? Hmm..entah saya belum tahu. Ketika saya menulis ini, saya belum mengecek lebih jauh 'aliran' Dalai Lama dan Dalai Lama yang mana. Tapi, bisa jadi mengupas tentang kedamaian. Iyalah, manusia sudah sampai pada tahap 'advanced' jika dia bisa menerima semua dengan sangat ikhlas dan legowo. Apapun!

Yaa..karena semuanya ada awal. Dan awal itu, kita yang hanya manusia, akan selesai. Sekarang saya tak ingin bermetafora. Sekarang saya malas bersuperlatif ria. Ketika saya sedih, kamu tak perlu tahu seberapa deras air mata saya. Ketika saya bahagia, kamu tidak usah repot ikut tertawa bersama saya.

Seperti hari ini.

Saya datang memberi senyum kepada teman-teman yang jadi wisudawan.

Hahaha. Terkesan tidak ikhlas ya saya memberi mereka ucapan selamat?

Saya hanya sedih. Bukan iri. Denotasi 'sedih'. Seharusnya hari ini saya juga sama seperti mereka . Bersama mama papa tentunya.

Lucu.

Kenyataan mendesak masuk dan saya harus terima apa yang ada sekarang.

Jadi, kenapa saya harus sedih terus? Cengeng! Semua 'kan akan ada waktunya.

Saya memang berkali-kali ditegur Tuhan karena sombong. Semoga 1429 H / 2008 dan seterusnya saya bisa menjadi perempuan sederhana. Kalau bisa, plus mengenyangkan batin orang.

Satu kata buat kamu, Adel: Cengeng!



Tuesday, August 19, 2008

Pinka & Biru




Saya tinggal di Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Polusi? Jangan ditanya. Kawasan pun sudah padat. Tapi, setiap pagi ketika saya shalat subuh, masih bisa terdengar kicau burung gereja dan burung lain yang saya tidak tahu apa. Rasanya tenteram banget. Mereka masih suka hinggap di atap balkon depan jendela kamar saya dan nangkring di tali tiang listrik seperti Pinka dan Biru itu.

Sampai kapan mereka akan menemani saya ketika "curhat" dengan Kekasihku? Ada pohon mangga besar yang berusia lebih tua dari saya (mungkin sudah 25 tahun). Semoga pemilik rumah tetap mempertahankan pohon itu supaya saya masih bisa menikmati nyanyian burung-burung mungil di pagi hari.

P.S: Stop Illegal Logging

Monday, June 16, 2008

SAYA MAU SKRIPSI BEGITU

Date                 : June 13 2008
Time                 : 08.10 WIB
Place                : Graha Elnusa Lantai 15
Mood               : Bloody sleepy!!!!
Song                : Like You’ll Never See Me Again by Alicia Keys

Sembari menunggu kerjaan dari supervisor saya, sembari menghabiskan waktu yang masih saya anggap pagi buta, sembari menghilangkan rasa kantuk saya, jadi terpikir membahas tentang skripsi. Bukan. Bukan tentang judul apa yang apik untuk dianalisis. Sederhana saja. Tentang teknis pengerjaan skripsi.

Teman saya lagi mengeluh kekurangan uang karena skripsi menguras biaya hidupnya beberapa bulan belakangan ini. Biaya paling terasa adalah biaya cetak-mencetak dan itu sangat berhubungan dengan kertas.

Bagaimana tidak, sekali revisi dengan dosen, sekali coret, kita harus mengulang cetak lagi berkali-kali. Kertas sekarang memang mahal harganya. Jadi, saya punya ide (kalau pantas disebut ide), kenapa saat bimbingan tidak menggunakan skripsi versi digital? Maksud saya, kita tidak perlu mencetak banyak. File naskah skripsi cukup disimpan di USB. Saat bimbingan, bagi mahasiswa yang punya laptop, tunjukkan naskah skripsi itu dari layar laptopnya saja. Atau kampus punya banyak unit komputer di perpustakaan bagi mahasiswa yang tidak punya laptop. Jadi, tinggal colok USB saja.

Dengan begitu, menghemat kertas ’kan? Saat naskah skripsi sudah paten, sudah dirasa benar dan mantap, baru deh cetak dengan hard-cover, soft cover, dan cukup maksimal 3 kali mengkopi keseluruhan naskah skripsi.

Ide sederhana dan cupu ini secara tak langsung atas nama penghematan penebangan pohon. Tak bisa dipungkiri, permintaan kertas tetap banyak tapi pohon semakin berkurang. Indonesia sebagai paru2 dunia sudah mulai ’panik’ gara2 hutan2nya gundul (heelllooo..illegal logging issue). Ah, kalau begini ceritanya, saya harus cepat2 skripsi dong? Dua tahun lagi harga kertas untuk fotokopi dan percetakan pasti membengkak. Oh, Gusti!

Friday, April 18, 2008

CURHATAN ANGKATAN TUA

Tanggal            : 15 April 2008
Waktu              : 23.18 WIB
Tempat             : Kasur tersayangku
Mood               : Lelah luar biasa
Lagu                 : Almamateurs by Morrisey

Zianita              : Dhel, boleh ngeluarin uneg2 ga? Knapa ya kayaknya udah mau 4 thn gw kuliah, ga ada sesuatu yang berarti yang gw dapetin. Apa adel merasakan sesuatu yang sama?

Adelia              : Lu kate kagak, Zi. Gw dapat pengetahuan malah dari orang2 disekitar gw, termasuk MP. Makanya, gw bilang kacrut nih kampus, kompensasi buat mahasiswa bayar mahal ga sebanding.Gw ud lakukan kewajiban gw sbg mahasiswa. Tapi yang gw dapat apa dgn selama ini yg udah gw lakukan? Emang kenapa, Zi? Lagi galau, ya? Hehe.

Z          : Gw ngerasa, gw berhenti kerja karena mau kuliah, tapi ternyata di kampus gw ga bisa dapetin apa yg udah gw rela tinggalin (resign kerja). Gw agak rugi aja, ketahuan gw kerja. Jadi, kalau ga ada dosen sekalipun, gw ga rugi2 amat. Dan masih ada yang ngasih gw duit tiap bulan. Ini gw malah buang2 uang & gw ga dapat apa2. Krn skrg di pikiran gw gimana caranya gw bisa menghasilkan uang. Bukannya buang2 uang.

A         : Apa boleh buat? Kita teriak2 ampe jumpalitan belum tentu digubris. Kalau lo mah, rejeki bakal datang, Zi. Tenang aja. Gw yang mesti jemput bola. Sabar ya, Zi. Tenang aja. Nasehat buat diri gw sendiri sih sebenarnya. Yah, setidaknya kita lulus untuk membayar pengorbanan ortu biayain kita kuliah.

Z          : Makanya gw malas ke kampus, kalau ga ada yang penting2 banget. Lulus jd sarjana, ga ada yang bisa ngw banggain dari almamater gw. Tapi, udah pilihan gw sih kuliah di sini.

A         : Gw juga kampus nyampah aja. Gw cuma bisa jalanin yang didepan mata. Kadang gw mikir, apa gunanya nilai A semua di transkrip nilai? Kalau kita gak punya skill dan kalah saingan dengan lulusan yang lebih cling.Huhu. Ya sudah. Semoga matahari esok mencerahkan hari kita. Hop..Hop..!!

Monday, March 10, 2008

PROVOKE YOU!



MOESTOPO: KEMANA SAYA DAPAT MENGADU? (busuk!)

Selasa (4/3/08)

Hari pengisian KRS untuk angkatan 2004 tiba. Dan sudah berkali-kali saya menyiapkan mental untuk:
1. Mengambil slip bayaran uang heregistrasi
2. Ke Bank BNI untuk membayar uang kuliah
3. Mengambil kartu hasil studi semester sebelumnya (antri!)
4. Melihat jadwal perkuliahan yang ditempel di tembok kampus (rebutan)
5. Berkonsultasi dengan Pembimbing Akademik (hanya formalitas -antri juga)
6. Ke loket untuk cetak kartu rencana studi (antri banget!)
7. Belum lagi jika ada jadwal yang saya inginkan bentrok atau ada perubahan mata
    kuliah, maka saya harus lari bolak-balik ke lantai bawah yang temboknya ditempel
    jadwal perkuliahan untuk re-schedule
8. Cetak KTM (ngantri cuuuyyy..) yang sebenarnya KERTAS tanda mahasiswa (belum
    lagi kalau lupa bawa pas foto)
9. Sudah selesai? Belum!
Unfinished bussines of mine:
Saya tidak boleh (bukan tidak bisa) mengambil mata kuliah Penulisan Kreatif karena saya mendapat E semester lalu (perlu ditekankan karena CUTI SAKIT). Padahal, ketika saya semester enam, saya dan kawan-kawan langsung bisa mengambil mata kuliah itu tanpa kuliah prasyarat. Apalagi ketika saya ngeh kalau Penulisan Kreatif HARUS sudah lulus Hukum & Sistem Media Massa. Heelllloooo..., apa salah cetak? (saya sampai melotot meneliti super seksama bersama teman-teman saya).
Pertama, Penulisan Kreatif itu adalah subjek mata kuliah mencakup pengertian, karakteristik, jenis, dan teknik penulisan kreatif (cerpen, novel, puisi, esai, naskah iklan, skenario film. Apa relevansinya dengan Hukum & Sistem Media Massa?
Untuk jelasnya, Hukum & Sistem Media Massa secara garis besar mencakup pengertian hukum dan sistem media massa, aspek-aspek hukum dalam liputan media massa, delik-delik pers, undang-undang pers dan/atau media massa, hukum media massa dan dinamika sosial, berbagai sistem media massa, keterkaitan hukum dan sistem media massa dengan praktik humas, jurnalistik, dan periklanan. Ada yang bisa beritahu saya kira-kira kenapa Hukum & Sistem Media Massa menjadi subjek prasyarat untuk Penulisan Kreatif?
Kedua, ketika saya mengadu kepada salah satu staf akademik yang biasa mengurus nilai dan mata kuliah, jawabannya: “Saya hanya menjalankan pelaksanaannya. Saya tidak tahu.” Jawaban senada juga datang dari Wakil Dekan I, “Yang mengurus tim kurikulum dan saya juga tidak tahu.” Oh, bukankah Wakil Dekan I juga mengurusi bidang akademik dan termasuk soal kurikulum, ya? Aneh. Saya bilang aneh sebab saya diberi jawaban yang ‘gantung’.
Saya mengadu ke Kepala Jurusan Fikom, sebelas dua belas. “Mungkin penulisan yang sesuai koridor hukum dan jurnalistik.” The big question mark is: Apa semua teknik penulisan kreatif itu terpayungi hukum? Ada hukum menulis cerpen yang benar? Semester enam lalu, dosen penulisan kreatif kelas sore memang mengajarkan saya seperti yang dimaksud di atas. Lha, yang salah dosen atau kurikulumis (apalah itu namanya). Tolong segera beritahu saya!
Saya masih dongkol. Saya menghadap Pembimbing Akademik, setali tiga uang. Saya belum bertemu dengan salah satu penyusun kurikulum yang (kata Wadek I) sekarang sudah menjadi Wakil Rektor. Saya sudah SKEPTIS, apa saya akan mendapat jawaban yang jelas?
 Ironis. Apa salah ketika salah seorang mahasiswanya bertanya dan menganggap sesuatu ada yang salah? Tolong, lama-lama mulut saya pun terbungkam. Tapi, hati-hati, Jenderal. Diam bisa berarti bodoh. Atau malah sedang menyiapkan amunisi?


Saturday, December 29, 2007

KAMPUS MERAH PUTIH: BENCI TAPI CINTA

Apa yang anda lakukan setiap pagi kalau anda baru beraktivitas di siang hari? Kalau saya minum segelas air putih, menonton infotainment (senang lihat yang cakep-cakep, gregetan lihat betapa retoris dan diplomatisnya seleb menjawab pertanyaan), masih leha-leha di sofa sambil sarapan sereal, sampai akhirnya jarum jam menusuk-nusuk bokong saya agar lekas mandi lalu pergi beraktivitas.

Tapi, berhubung empat bulan ini saya harus off tiba-tiba dari seluruh kegiatan sehari-hari saya, jadi belakangan ini tidur saya tambah larut dan bangun tidur saya tambah siang setelah sembahyang sampai saya tidak pernah lagi mendengar suara penjual bubur berteriak di pagi buta. Emptiness syndrome (sindrom ruang kosong) dan berbagai sindrom-sindrom psikis lain yang harus saya nikmati tiap malam membuat pikiran saya sering kemana-mana. Sampai akhirnya, timbul kata-kata umpatan dan betapa payahnya kenyataan lalu saya sadar mungkin itu adalah bagian dari godaan syaitan yang membuat saya tidak mensyukuri nikmat hidup. Namun, satu hal ini, bukan karena godaan syaitan. Karena ini adalah salah satu introspeksi diri dan sok mengkritik keadaan lingkungan saya.

Adakah kampus yang ideal?
Ya. Adakah kampus yang ideal? Maaf. Ini hanya versi saya. Ketika kita bisa menikmati waktu kuliah dan merasakan sibuknya tugas-tugas laknat tapi (padahal) bisa memperkaya wawasan kita, dan MEMBAYAR MAHAL UNTUK PENDIDIKAN, tentu kita berharap lebih pada institusi pendidikan tempat kita menuntut nilai (HA! Yang penting lulus dapat nilai bagus katanya). Sekali lagi, saya hanya sok mengkritik karena terjebak dalam hegemoni petinggi yang sok benar 100%.

Versi ideal MENURUT SAYA:
  1. Dosen yang capable, credible, dan “bel-bel” lainnya. Kreatif, inovatif, kooperatif (tidak apa-apa tegas dan super disiplin tapi harus fair dan tidak egois)
  2. Saat keluar kelas dan pada jam istirahat, tak apa tidak punya kantin, tapi memang seharusnya ada kantin dengan makanan “bersih” dan tidak mahal (walau mahal itu relatif)
  3. Toilet yang ada tiga wastafel, kloset jongkok, pisah untuk laki dan perempuan, kaca, air kran, bersih pastinya!
  4. Buku di perpustakaan juga harus lengkap banget, pakai sistem komputer (disertai kartu yang ada foto kita dan PIN), dan pustakawan yang ramah tapi tegas. Oya, ada internet GRATIS dan ruang AC tentu
  5. Kalau ujian, pakai kartu yang ada foto pesertanya. Tidak perlu pakai sistem komputer segala. Manual tapi “jujur” tak apa.
  6. Komputernya Pentium 4, gigabyte yang besar, bisa on-line, ada daftar nilai dan sistem pembayaran kuliah yang bisa kita akses lewat internet dan ATM
  7. Laboratorium memang harus lengkap dan harus dimanfaatkan
  8. Ruang kelas AC? Jelas!
  9. Ikatan alumni yang solid
  10. TERAKHIR TAPI PENTING! Diperbolehkan cuti hamil & melahirkan, menerima izin untuk mengikuti seminar & workshop yang relevan di luar kampus (jadi absen masuk kelas tak membebani), dan kemudahan bagi mahasiswa yang tidak bisa kuliah dalam jangka waktu tertentu (karena sibuk kerja atau masih sakit dan harus dirawat). Jadi, mereka-mereka itu tidak menjadi mahasiswa marjinal. Mereka masih bisa mengikuti kuliah on-line via internet, mengumpulkan tugas via internet, dan berdiskusi dengan dosen juga via internet. Tidak ketinggalan pelajaran dong, pastinya walau tidak masuk kelas karena alasan yang rasional.
  11. BEASISWA DIMUDAHKAN BIROKRASINYA UNTUK MAHASISWA YANG TIDAK MAMPU SECARA FINANSIAL
  12. Semester pendek bisa untuk memperbaiki nilai dan atau mencuri waktu untuk beberapa mata kuliah di semester selanjutnya
  13. Birokrasi jelas tapi tidak menindas!

Tak usahlah ada parkir mobil. Kendaraan pribadi cuma bisa bikin macet dan polusi. Yang penting ada aula besar buat acara2 kampus seperti konser dan seminar ;)

Itulah top 13 kampus ideal nan simpel versi si penulis. Hmm.., mungkin nanti saya bisa jadi rektor ya biar tidak omong doang! Easier said than done. Tapi, yang paling esensial dan substansial adalah niat dan tekun dari mahasiswa itu sendiri dalam menjalani kuliah. Kuliah sekalipun di universitas unggulan, kalau orang itu malas-malasan, ya sami mawon!

Tapi, yang paling saya sesali adalah saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk teman-teman saya yang terpaksa tidak kuliah karena biaya padahal semangat untuk jadi sarjana masih ada (gelar masih menjadi momok dalam keluarga tertentu & untuk melamar kerja). Siapapun WNI berhak mendapat pengajaran dan pendidikan, YA KAN??? Satu pertanyaan yang selalu ada di kepala: ada apa dengan republik kita?

-Orang kalut yang hanya bisa menulis kegundahan hatinya