Showing posts with label Review Things. Show all posts
Showing posts with label Review Things. Show all posts

Saturday, July 4, 2015

So Flee to Allah SWT

Alhamdulillah! I am on the 4th Ramadhan as a wife and extremely grateful. I am still surrounded by beloved family, Papa, Mama, my sister, my complete family in law, and seeing they are healthy is all enough for me. So blessed.

Yet, something is keep tickling my mind, about to find unanswerable questions beyond my power as a human. I never lie to myself that i really really want to be trusted and imagine i could be a mom. But, i never thought a journey to conceive is such a looong way to go. It upsides me down and often makes me feel like i am the most pathetic woman in the world. I lost, lost by such "a damn competition that was created by such damn people". Even i do not understand why the competition must exists. When you are a married woman, you must able to be with a child. Then you are proud and publish it to all around the world. Tell me it is just an envy feeling because i can not do the same like any other young mothers. But, from the bottom of my heart, is that what i and my husband want? Pleasing anybody, showing everybody that we act like having a perfect picture.

Say i am offended by that situation. It is all because i have none. Probably i will do the same thing because if i were already a mom, i wouldn't never know what it feels like to wait longer for a baby. So, why bothered?

Until someday, i woke up by reading the wonderful post on someone's blog. Could not help my tears down. Knowing i was a bit angry about where i am now.
The post as follows:

http://www.dianonasis.com/2015/06/anak-itu-hak-allah.html?m=1

Such a relief yet at the same time so embarrassed i denied all His authority. His power. And His bless. Giving a child is His prerogative. I rejected that reality and was fighting with my inner voice about my "why". Why this, why that, why me, why him, why them, and why us.

Thank to the writer so i can remind myself that i still have time to prepare and to learn everything. And after this Dunya, Allah SWT grants us for Jannah. Surely i never hesitate His promise as long as i flee to Allah SWT. When i feel down again, i will talk to myself how tiny me, and my problems actually are. Hope my ego will always listen to my inner angel's voice 😊 Something big, is worth to wait. I learn from my past, seems that true. Allah SWT always by my side obviously.

Ciputat,
17th Ramadhan 1436 H.

Monday, April 21, 2014

The Vow: Lebih dari Sekadar Sumpah

Saya baru menonton film The Vow akhir pekan lalu di salah satu saluran tv kabel. Ternyata filmnya sangat menyentuh. Terutama untuk orang yang mellow seperti saya :p


Sebenarnya, film ini sudah dirilis sekitar Februari 2012 lalu. Cerita berawal dari kehidupan pernikahan Paige (Rachel McAdams) dan Leo (Channing Tatum) yang sangat membahagiakan. Suatu ketika, Paige dan Leo mengalami kecelakaan lalu lintas. Paige mengalami cedera di kepalanya yang mengakibatkan ia lupa akan sebagian memori hidupnya di masa lampau. Gawatnya, ingatannya terhenti ketika ia mengambil sekolah hukum, bertunangan dengan Jeremy, dan masih akur dengan kedua orangtuanya. Paige sama sekali tidak ingat bahwa ia sudah menikah dengan Leo dan hidup sebagai seorang seniman patung yang sukses. Leo sangat terpukul, namun cintanya kepada Paige membuatnya terus berjuang agar Paige kembali mencintainya dengan sisa-sisa ingatannya yang masih ada.

Cerita ini terinspirasi oleh kisah nyata, dokumentasinya di sini. Awalnya saya mengira bahwa cinta tetap "diatur" oleh zat-zat kimia yang terpusat di otak. Paige dan Leo akan berpisah karena perlu pengorbanan besar untuk membantu Paige kembali ingat bahwa ia pernah mencintai suaminya. Tapi, semuanya lebih dari sekadar sumpah yang terucap di hari pernikahan. Sumpah itu yang membuat kita memilih untuk mencintai. Memilih untuk setia kepada satu orang, bagaimanapun bentuknya nanti, bagaimanapun hidup membawa nasib sebuah pernikahan.

Setelah film Titanic dan P.S: I Love You, film ini menjadi salah satu film romantis saya sepanjang masa.
All i need is love. His love, from my beloved husband  :)



Thursday, March 27, 2014

Perspective of Love All About

Mungkin "apa itu cinta" diatas menjadi "pilihan-perspektif" sebagian orang. Kayaknya kok cinta itu "berat" banget ya?

Tapi, kenyataan lain berbicara. Melihat orangtuaku tetap bersama sampai sekarang. Lebih dari seperempat abad. Ada pengertian lain tentang cinta yang indah sehingga membuat mereka terus hidup berdua. Cinta yang membuat mereka "tidak-punya-waktu-mempedulikan" perumpamaan negatif.

Selagi muda, gw berpikiran bahwa cinta itu punya wujud yang indah. Ngirim puisi saat rindu, ngasih boneka dan bunga saat hari jadi, nonton film di malam minggu, kecupan lembut di tengah hujan, genggaman tangan sepanjang jalan atau ratusan seremonial lain yang kita pelajari dari film-film dan novel-novel romantis.
Sekarang, gw bertambah tua dan mulai melihat dunia lebih luas. Pelan-pelan gw menyadari bahwa cinta gw semakin lengkap dengan kehadiran orang yang selalu ada bersama gue di setiap malam. Cinta adalah melihat setiap hari, suami gue selalu tampan seiring usianya yang bertambah pula. Cinta adalah menyanyi bersama lagu kesukaan diatas motor lalu mengubah lirik menjadi sekonyol mungkin, membuat kita tergelak berdua. Cinta adalah kekuatan, sama-sama menabung mewujudkan impian bersama. Saat dua hati memiliki persepsi yang berbeda namun selalu dapat saling mengerti dan mengoreksi.
Cinta memang hidup dalam kenyataan. Cinta dalam dongeng tercipta karena dongeng itu terbentuk dari pengalaman dunia nyata. Cinta itu indah, asal kita mau lihat pelangi setelah badai pergi.


Well, yeah, love is all about perspective. It is all up to you.


*image: Facebook

Saturday, July 13, 2013

Seusai Reuni


Buka puasa kali pertama bersama teman-teman ex-workplace di minggu awal Ramadhan. Quite fun. Seperti biasa, menceritakan hal seputar pekerjaan dan kantor. Dari gosip teman-teman baru yang ajaib, turn-over perusahaan, sampai flashback kenapa resign. Ya. Rindu. Tapi, untuk kembali sepertinya tidak. Walau saya sering membandingkan bahwa di ex-workplace saya tersebut unggul dari beberapa aspek yang tidak saya temukan di dua perusahaan lain tempat saya bekerja. Yeah, klise :)

Berkecimpung di dunia recruitment dan HR mau tak mau membuat saya harus belajar (walau masih pelan-pelan) tentang people development. Hal simpel yang saya temukan adalah saya beruntung bekerja di perusahaan asing yang memiliki SOP taat (bahkan sangat taat prosedur) ketika saya baru menyandang status fresh graduate. Kita jadi memperoleh bekal akan kesiapan kita jika harus beradaptasi di lingkungan baru. Ya, karena tempaan itu tadi, mengajarkan kita bagaimana menghadapi berbagai macam tipe orang, kerjaan yang setumpuk, dan tuntutan deadline yang sangat rigid.

Nah, perempuan dan karir itu dibilang sejalan, tidak juga. Dibilang perempuan sekarang kudu mandiri, memang iya. Semuanya lagi-lagi dikembalikan ke masing-masing individu. Ketika masih single, tentu career objective saya berbeda dengan status saya kini. Sekarang, saya lebih memilih tempat bekerja yang sekiranya bisa memberikan saya balancing life, antara rumah, kantor, dan bergaul dengan teman-teman. Tapi ngomong-ngomong, saya merasa tidak nyaman jika ibu muda yang sudah berumah tangga dan memiliki anak, tapi sering mengeluhkan sesuatu di akun media sosialnya. Begitu pula, dengan ibu muda bekerja yang melakukan hal serupa. Yah, gak masalah, sih. Toh, saya cuma bisa komen saja di blog space. Hihihihi.

Have a good day, Ladies!


Sunday, April 7, 2013

Madre The Movie: Smells Like Vintage Spirit

Akhir Maret lalu, saya menonton film Madre bersama suami. Film yang diambil dari cerita novel karya Dee ini menjadi pilihan karena kata Mase, setting-nya bagus. Saya pun manut saja, tak ada beban karena saya juga belum pernah membaca novel tersebut. Malah, (teganya) expectation saya rendah mengingat film Perahu Kertas yang dinilai 'garing' dari review Leila S. Chudori-nya Tempo dan Herita Endriana (Chudorinya Koran Sindo, ehehehehe...).

Tapi, ternyata lokasi setting sebagian besar diambil di Braga (one of my fave spots in Bandung). Ulalala.... dan art-nya keren sekali! Sayang, saya melewati siapa Art Director saat pemunculan credit title. Rasanya kepingin punya rumah kuno seperti itu, dengan atap yang tinggi, cat putih, dan gelas berukuran besar seperti dulu dimiliki eyang-eyang.


Karena saya hanya penonton film, saya hanya menikmati apa yang saya suka. Subyektif banget ya :) Sebagian besar art setting-nya dan wardrobe. Busana pemain itu penting! Memperkuat karakter atau malah mengaburkannya. Menurut saya, busana yang dikenakan Laura alias Meilani di film Madre sangat cantik. Sangat pas sebagai selera busana dari karakter Meilani yang classy, simpel, feminin, effortless. Dominasi warna pastel menjadi benang merah dari style-nya Meilani. Saya hanya mendapatkan dokumentasi-dokumentasi ini dari google, jadi tidak terlalu banyak untuk memamerkan apa yang saya maksud.




T-shirt yang dikenakan Vino juga keren kok. Efek lusuh bersablon nama-nama band menguatkan karakternya yang cuek tapi sentimentil sebagai Tansen. Meski film ini film drama ringan yang berdurasi hampir dua jam, tapi ada diatas ekspektasi saya. Ya, karena setting dan wardrobe-nya yang memanjakan mata saya.

Duh, duh...jadi pengen ke Braga lagi. Foto-foto gedung tua disana, art-deco favorit saya. Soal nama Tan de Bakker yang menjadi merek dagang toko roti di cerita ini, jadi ingat Tan Ek Tjoan. Sama-sama berawalan Tan, toko roti yang jadul, dan berlokasi di daerah historical. Yang satu di Braga - Bandung, yang satunya di Cikini - Jakarta.

Oh ya, satu yang bikin ilfil dengan Madre the Movie. Lagu soundtrack-nya. Salah satunya dinyanyikan Afgan. Kesannya maksaaaaa banget. Seharusnya OST. Madre itu dinyanyikan oleh Payung Teduh. Apalagi yang judulnya 'Angin Pujaan Hujan'. Pastinya akan tambah melengkapi spirit vintage dari mood latar film ini.
Kalau sudah dengar lagu dan menonton Madre, Anda setuju dengan pendapat saya, 'kan? :)

*Gara-gara nonton film ini juga, suami saya yang penggemar roti mendadak homesick berat kepingin roti kepuh. Roti yang berasal dari Desa Kepuh, Wonogiri, kampung halamannya. Bingung saya carinya dimana di Jakarta...


Sunday, March 3, 2013

Quarter Life of Century

Usia saya 26 tahun! Dengan suami yang luar biasa, bekerja di bidang yang baru, segera menempati rumah sendiri, sedang menyelesaikan tesis, keluarga yang masih lengkap, dan.... ternyata nikmat Tuhan itu sungguh tak bisa dihitung saking banyaknya! Astagfirullah... Nikmat Alloh mana yang saya dustakan?

Lantas, apa "REPELITA" saya? Repelita itu Rencana Pengembangan Diri Lima Tahun (hehehe..maksa). Terus terang, impian saya yang ada di depan mata saja. Kalau ketinggian, takut mati karena iri. Tak mau membandingkan dengan langit yang lebih tinggi, takut jadi kufur, tak mau bersyukur. Padahal, sebagai manusia kita hanya saling melihat. Lihat teman yang sudah punya anak, bahagia kelihatannya. Tahu teman naik jabatan, sukses namanya. Tapi, sebenarnya kita sadar, hidup pasti ada tidak sempurnanya. Kita pun setidaknya ada lebihnya. Apa alasan untuk tidak bersyukur?

Yang jelas, sekarang saya makin senang membaca artikel keuangan, bagaimana cara mengatur keuangan rumah tangga yang efektif, bagaimana menabung dengan hasil maksimal yang logis, bagaimana berinvestasi melalui produk keuangan yang sesuai kemampuan keluarga.Menjadi tambah kaya, itu bonus. Tapi yang lebih penting, bagaimana kita memanfaatkan rejeki yang datang untuk merasakan hidup yang berkecukupan, agar bisa terus beribadah di jalan-Nya. 

Dan saya belajar ini semua dengan melihat dan mendengar orang-orang di sekeliling saya. 

Beautiful cupcakes from my beautiful boss ^^



Thursday, February 16, 2012

Menerjang Batas


Rating:
Category:Books
Genre: Sports
Author:Estu Ernesto
Pertama. Saya merasa tidak perlu memberi rating karena review kali ini sungguh subjektif sekali. Kedua, saya tidak suka & tidak paham sepak bola. Ketiga, karena penulis novel ini adalah suami saya :-p

Saturday, November 26, 2011

Gengsi Di Ujung Kaki



Sepatu.
Barang yang satu itu tak jarang membuat saya garuk kepala. Pertama, kaki saya termasuk spesial karena stok barang nomor sepatu 40 atau 41 tentu lebih sedikit daripada nomor sepatu wanita Indonesia pada umumnya, yakni 38 atau 39 yang dominan menghiasi etalase toko. Jadi, saya sering girang sendiri begitu ada sepatu di etalase yang saat saya coba, langsung pas! Tidak perlu meminta bantuan pramuniaga mencarikan nomor sepatu yang sesuai ukuran kaki saya.

Saturday, April 23, 2011

Easy Breezy...Dizzy!!




5 months-to-go........

I still try to keep my balance. But i have 3 super things that i must finish:

1. My thesis 
2. The BIG day
3. My endless work 

First thing first. Unfortunately, each thing needs to be finished immediately. So, i try to put notes on paper in case i forget many priority stuff that i need. But, now, i just post on my blog then i feel so asleep. And i gratitude for my menses period. It is enhance my blood pressure. ...and i need double-me in cloning version. 



Friday, February 25, 2011

My Indonesia, The Dangerously Beautiful Country




You can find some adventures in Indonesia with low cost-high impression! There i was, in Selaparang Airport (AMI), Lombok Island, West Nusa Tenggara. Now, Lombok has new international airport: Lombok International Airport (LOP), which replace AMI in Ampenan near the capital of Mataram. LOP is closer to Tanjung Aan than Senggigi or Gili.





Desa Sade, I was in. Prominent village to visit before Tanjung Aan Beach. You can shop a lot of traditional goods there. Negotiable price. You can also see the women are doing their tenun-work.







There i went to Tanjung Aan Beach. Superb! The sands look like black pepper. Blue ocean, sunny sky, clean, are the perfect combination.





I was in Senggigi, to handle an event. I wore simply traditional clothes of Balinese. Oh, i forgot the flowers :D


Do you believe that she was my Grandma? I was her lost grand daughter. ;-p

It would be great if you share your vacation to Lombok as well. Because i have never been to Gili. Actually, i prefer Lombok than Bali. But, Bali is still Indonesia's jewelry. C'mon, visit Indonesia!

Sunday, December 6, 2009

Solusi JK


Rating:★★★
Category:Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author:Hamid A
I miss books. Klasik ya, kalau saya bilang kesibukan kerja menyita waktu untuk sekadar membaca buku. Tapi, memang begitu kenyataannya, 'kan? Jadi, saya menguatkan diri untuk memborong buku, termasuk buku2 kuliah, buku2 fiksi, atau buku2 bermanfaat lainnya. Hhohooo..this activity always makes me guilty.

Sudah basa-basinya. Kita masuk ke penilaian saya pada buku ini. JK. Dua huruf yang kondang dan menyisakan kesan positif selepas menjadi wapres. Ingat media tv pernah menayangkan saat beliau bermain bersama cucu-cucunya di rumah saat lepas tugas jadi wapres? Bagi saya itu cukup menyentuh. Sosoknya yang tidak 'sok kuasa', tidak jaim (jaga image), dan penuh humor menjadi nilai plus tersendiri di mata publik.

Nah, segi positif JK dalam berpikir, bersikap, bertindak, menjadi inti dari isi buku ini. Terlepas dari keterbatasan beliau sebagai manusia, sisi positif siapapun bisa menjadi contoh tauladan. Jujur dari opini pribadi saya, saya angkat topi untuk kerja keras beliau. Terlahir dari keluarga Sulawesi Selatan dengan tipikal budaya yang khas, beliau membuktikan bahwa beliau mampu dan berusaha sebaik-baiknya menjadi seorang pemimpin.

Pemikirannya yang mencerminkan 'terbiasa terjun ke lapangan' memberi solusi tersendiri yang kadang terkesan ekstrem, tidak mainstream. Yang jelas, buku ini bisa jadi pelajaran yang baik bagaimana saat kita menjadi pemimpin dan memperlakukan orang lain dengan sebaik-baiknya tanpa memandang siapa dan dari keluarga mana orang itu berasal.

Sedikit menyoal Golkar disini, Papa saya pendukung Golkar. Pandangan politiknya mengarah ke pohon beringin itu sejak dulu sampai sekarang. Tapi, saya menyarankan Papa untuk jadi "fans" saja, tak usah "tercebur" langsung. Berada di luar lingkaran memudahkan kita untuk menjadi obyektif. Oke, balik ke topik. Termasuk ketika JK mencalonkan diri jadi presiden, tanpa ragu Papa saya mencontreng wajah JK. Juga keluarga Kalla ternyata mendapat tempat tersendiri di hati Papa saya. Dan beliau antusias saat saya membeli buku ini dan kapan-kapan ingin ikut membaca juga.

Tapi, maaf ya, Pa, belum selesai aku baca sampai sekarang, hihihii....

Saturday, August 29, 2009

Jihadnya Jihan

Aku teringat kala itu menjelang senja di kota kecil sebelah selatan ibukota. Ia orang yang pendiam namun ramah. Tapi yang aku ingat, senyumnya yang manis kala kami berkenalan dan ia menyebut namanya: Jihan. Ia selalu melewati toko sepeda, toko tempat aku bekerja, dan menyapa penjual lontong sayur yang mangkal depan toko. 


Saat bulan puasa, aku tambah sering melihatnya, hingga suatu saat waktu mempertemukan kami untuk saling mengenal. Aku kira ia datang sendiri setiap kali tarawih di masjid. Tapi, tidak. Ia selalu menemani seseorang. Perempuan tua yang aku tahu ibunya Jihan. Saat aku bertanya mana anggota keluarga yang lain, Jihan lagi-lagi hanya tersenyum. "Tak ada. Saya hanya bersama mamak."

Perlu kesabaran untuk menekan rasa penasaranku agar bisa mengetahui riwayat keluarganya. Entah kenapa, Jihan seperti memiliki magnet yang tak biasa dimataku. "Mengapa saya harus menceritakannya padamu, Ridwan?" tanya Jihan sendu. Aku hanya mengedikkan bahu.

Sampai pada akhirnya, Jihan berkenan menceritakan keluarganya. Ibunya yang renta, Jihan yang harus bekerja siang malam, Ayahnya yang telah tiada, dan kakaknya yang pergi entah kemana.

"Abang sudah lama pergi." Aku terus menyimak tuturannya. "Katanya dia ingin belajar, berilmu. Tapi saya enggak ngerti. Tapi sekarang saya mulai tahu, apa yang dimaksudnya 'belajar'," ungkap Jihan dengan menekan volume suara pada kata 'belajar'.

"Lantas, belajar apa?" Akhirnya aku bertanya.
Jihan menatap mataku sebentar, lalu memalingkan muka. "Belajar bagaimana caranya ke surga."

Lama di otakku seperti terputar film hitam putih rekaanku sendiri mencocokkan adegan dari apa yang diceritakan Jihan. "Dia bertahun-tahun enggak pulang sampai bapak meninggal dan mamak sakit-sakitan. Dia terlalu jauh belajar, kurasa."

Aku menelan ludah. Masih menantikan cerita-cerita Jihan. "Sampai saya berjanji pada diri sendiri dan Allah, jika abang pulang, saya akan mengenakan kerudung, menutup aurat....," kata Jihan sambil menerawang.

Aku gatal untuk tidak bertanya. "Kenapa harus menunggu abangmu?" Lalu aku menyesal bertanya sebab mata Jihan mulai berkaca-kaca.

"Entah. Tapi akan saya tunjukkan sama abang kalau belajar itu tak perlu jauh-jauh sampai tak ada kabar dan menelantarkan keluarganya. Akan saya tunjukkan jihad itu tak perlu menyengsarakan banyak orang. Akan saya beri tahu bahwa jihad itu... jihad itu...."

Dan gawat. Jihan mulai menangis. Aku bingung bukan kepalang untuk menenangkannya. Di tempat sepi begini, terlalu mengkhawatirkan menemui sepasang anak muda duduk berdua dan si perempuan menangis kencang. Belum sempat aku bersuara, Jihan mengeluarkan robekan kertas koran berisi daftar nama orang-orang yang diburu polisi karena melakukan pengeboman.

Aku tertegun.

"Akan saya teriak di depan muka dia bahwa kita bisa berjihad. Menjaga nama baik dan mengurus orangtua dan membantu saudara sendiri itu jihad, bersekolah sampai menuntut ilmu untuk menyebar pengetahuan dan kebaikan itu jihad, tetap jujur diantara yang munafik itu jihad, bekerja seperti anjing demi melanjutkan hidup dan berusaha keras menjemput rejeki dari Allah juga jihad. Hidup kita kan sudah susah, Ridwan, apa yang bisa kita perbuat selain itu?"

Sunday, June 21, 2009

Gue Anak Jakarta!


Jakarta.

Kata yang didominasi oleh huruf A. Nama yang angkuh tapi menggoda. Katanya merana tapi tetap kaya. Saya menulis ini tentu akan menghasilkan tulisan yang sangat subjektif. Saya tidak keberatan dibilang anak Jakarta (dengan segala stereotip yang melekat dan sesungguhnya ITU TIDAK ADIL). Saya lebih suka dibilang orang Jakarta. Sebab dari ari-ari saya yang dikubur, suka duka keluarga dan persahabatan, cinta sederhana, juga pengalaman dicopet dan berjejalan di dalam bis kota, saya sudah terglembeng di Jakarta.

Jakarta masuk dalam 12 kota besar di dunia dengan segala historikal yang mengelilinginya, namun sayangnya kota ini tergerus oleh modernisasi yang menyentuh aspek lansekap, arsitektur kota, sampai gaya hidup yang sangat metropolis (saya risih ketika menulis kalimat terakhir tadi).

Jakarta di usianya yang 482 menanggung beban tersendiri. Tak perlu saya tulis lagi ya untuk mengingatkan soal banjir, macet, sampah, dan polusi. Beban kota besar seperti itu (tidak hanya dialami Jakarta) memang akan membuat penduduknya “setengah gila”. Sayangnya, pemerintah DKI juga maju kena mundur kena. Empat hal menyebalkan yang saya tulis di atas tetap menjadi momok yang entah kapan akan benar-benar terselesaikan. Tapi, mungkin lain cerita kalau Jakarta jadi penyelenggara olimpiade. Seperti China, yang merombak kebijakan dan peraturan berkaitan dengan lingkungan akibat parahnya polusi di kota-kota besarnya, misalnya di Beijing, demi suksesnya perhelatan tersebut.

Kilas balik. Tanah Jakarta yang sebenarnya rawa-rawa, yang akhirnya digeruk untuk pembangunan kota menjadikan Jakarta langganan banjir. Saya sempat baca di sebuah artikel, konon, dulu JP Coen sempat ditentang oleh sesama orang Belanda untuk menjadikan Jakarta sebagai pusat aktivitas publik (pemerintahan, perdagangan, pendidikan, dan sebagainya) karena kontur tanah yang tidak tinggi (ceritanya orang Belande sono udah ngarti gimane rasanye punya negeri yang tanahnya lebih rendah daripada laut). Salah satu solusinya, ya, Jakarta harus dibangun kanal-kanal. Serahkan saja kepada insinyur Belanda soal ini, begitu kira-kira perintah Gubernur Jenderal saat itu. Kita mah yang inlander nurut-nurut aja.

Sanitasi, apa kabar? Daerah Kelapa Gading, Tanjung Priok, dan area Jakarta Utara lainnya sudah maklum air tanah mereka sudah terasa agak asin sekarang. Akhirnya merembet ke daerah yang terdekat, seperti Sumur Batu, Cempaka Putih, dan sekitarnya. Air tanah sudah terkontaminasi logam dan padatnya pemukiman membuat kebersihan menjadi urusan nomor kesekian. Sekitar awal abad 20, Batavia (Oud Jakarta = jakarta zaman dulu, maksudnya)
pernah diserang penyakit menular yang menelan banyak korban, macam kolera dan tifus, seiring dengan Kali Ciliwung yang mulai tercemar sehingga kurang baik untuk dikonsumsi.

Perubahan zaman otomatis akan berdampak pada perubahan gaya hidup, lingkungan, pola pikir, dan kebijakan-kebijakan pemerintahnya. Tapi, Jakarta dikuasai oleh orang-orang pendatang sehingga kesadaran untuk merawat dan menjaga kota ini sangatlah kurang. Namanya juga bukan “rumah”-nya sendiri. Mana mau orang repot-repot merawat tempat yang bukan rumahnya? Lantas sekarang, apa yang bisa saya lakukan untuk (dan di ) Jakarta?

Selamat Ulang Tahun Jakarta-ku atas cinta dan segala perjuangan hidup.
 

Thursday, June 11, 2009

PR I'm in Love! (BELAJAR KOMUNIKASI DARI KASUS PRITA)

Kasus Prita menjadi bahan yang dapat dilihat dari perspektif ilmu komunikasi. Bagaimana Prita menjadi sosok yang diperhatikan oleh banyak orang sampai tindakan RS Omni yang menimbulkan banyak opini publik.

Saya jadi ingin kembali kuliah dan berkecimpung di PR. Padahal, dulu saya paling malas disuruh baca buku ‘Effective Public Relation’. Tulisan Pak Luthfi ini sengaja saya unggah soalnya saya anggap bisa menambah wawasan saya. Semoga penulis tidak keberatan karena saya kutip dari Rubrik Opini Koran SINDO (10 Juni 09) dan news.okezone.com.


BELAJAR KOMUNIKASI DARI KASUS PRITA
Luthfi Subagio
PR Consultant, Tinggal di Jakarta

Barangkali dokter dan owner Rumah Sakit (RS) Omni Internasional Alam Sutera, Banten, Tangerang saat ini susah mengaso. Kasus Prita seperti mimpi buruk siang bolong. Begitu dahsyatnya sehingga melumpuhkan brand RS bermerek internasional tersebut. Bahkan di mesin pencari dunia maya, nama Prita dan RS Omni mempunyai hit tinggi, tentu saja dengan tendensi negatif dan destruktif.

Saat ini bisa kita lihat dampak dari krisis komunikasi yang tak terbayangkan sebelumnya. Butuh waktu dan biaya yang tidak sedikit untuk melakukan recovery karena kini RS itu menjadi musuh publik. Tingkat kepercayaan tentu langsung turun, bahkan DPR meminta izinnya dicabut. Bayangkan ini: orangtua sebuah keluarga yang lewat di depan RS itu akan menggunjing dan didengar anak-anak mereka, yang akan terus diingat. Lengkaplah penderitaan itu.

Salah Langkah

Sejak awal RS Omni memakai paradigma yang salah dalam menangani persoalan, yaitu dengan paradigma palu dan paku. Oleh RS Omni, pasien hanya dianggap sebagai "paku kecil" yang perlu "digetok" lantas beres masalahnya. Kesalahan ini bisa dianggap makin fatal jika benar dalam menggetok itu RS Omni mendapatkan masukan dari penasihat hukum atau dukungan aparat penegak hukum.

Kasus ini sebenarnya tidak perlu berujung menistakan RS Omni jika RS itu punya manajemen komunikasi (public relation/PR) yang berjalan dengan baik karena bagaimanapun layanan jasa itu menyangkut kepuasan orang. Di sini bisa kita lihat bukannya fungsi PR yang mengemuka, melainkan fungsi hukum. Padahal harusnya keduanya berjalan bersama jika terjadi krisis komunikasi. Wajar RS Omni tidak bisa menghitung ancaman yang bakal terjadi jika sampai memasukkan Prita ke penjara. Pikirannya pun sederhana, dengan mengirim Prita ke penjara, semua orang akan jera dan tidak akan main-main lagi menistakan RS Omni.

Pendekatan yang dipakai Omni juga lebih terasa kental sebagai pendekatan perusahaan daripada pendekatan RS yang lebih mementingkan servis dan pelayanan yang excellent. Maka harus dimaklumi jika publik kemudian marah. Bisakah Anda bayangkan, besarnya impact yang ditimbulkan dari siaran langsung televisi yang mengetengahkan Prita yang menangis karena kangen anak-anaknya? Dahsyatnya pula, TV menayangkan gambar dua anak itu yang seperti itik kehilangan induk. Hati siapa yang tidak tergedor, siapa pula yang tidak mengumpat RS Omni? Pada kasus ini, jangan membicarakan yang rasional. Karena rasionalitas pasti tidak jalan.

Publik sudah marah dan ketika marah, publik kehilangan rasionalitasnya, yang ada hanya satu kata: "lawan". Karena itu, sikap gagah-gagahan dengan menyerahkan semuanya kepada hukum untuk menindak aparat yang terbukti tidak profesional sama dengan penyataan bunuh diri. Suasana makin buruk ketika Ikatan Dokter Indonesia (IDI) juga tidak membela RS Omni karena rekam jejak kesehatan adalah hak pasien. Dalam kondisi krisis seperti ini, komunikasi yang terjadi menjadi invalid sehingga perlu penanganan khusus.

Misalnya RS Omni sangat yakin bahwa pihaknya berada dalam posisi yang benar, padahal sebagai dokter yang juga manusia, masih mungkin mereka salah. Ini yang membuat publik makin geregetan. Mereka hanya menyerahkan masalah ini pada hukum yang berlaku. Tidak ada sifat rendah hati dan maaf yang tecermin dalam klarifikasi di media (atau mungkinkah media juga marah)? Antipati publik merupakan respons alami yang bisa dijelaskan. Publik seketika akan mengidentifikasikan dirinya sebagai Prita yang merupakan cerminan warga kebanyakan.

Dapat kita lihat betapa banyak ibu-ibu penggemar Facebook yang merasa terancam. Berbagai pertanyaan membayangi pikiran mereka seperti apakah saya dan keluarga saya aman bila berobat ke sana? Apa yang bisa saya lakukan untuk melindungi diri dan keluarga saya? Siapa yang menyebabkan semua ini? Apa yang bisa kita lakukan untuk Prita?

Krisis Komunikasi

Jika memang ada proses komunikasi yang berjalan baik di RS itu, kasus semacam Prita ini justru bisa menjadikan poin penting untuk membangun ikon kebesaran RS tersebut. Biayanya tentu jauh lebih murah daripada beriklan.

Sejak awal harusnya ada pola yang memungkinkan pimpinan RS melihat bahwa Prita bisa menjadi "agen kebaikan" dari RS tersebut. Tetapi ini memang tidak mudah karena diperlukan kecerdasan PR, sebuah kecerdasan yang dihasilkan dari pikiran-pikiran menyamping yang berpikir menyamping dan out of the box sehingga memungkinkan mengubah ancaman jadi peluang dan memecahkan masalah yang paling pelik pun. Ujungnya tentu saja melindungi imej perusahaan dari kejadian-kejadian yang tidak diinginkan.

Bahkan sebelum memutuskan untuk mengambil jalan hukum, harusnya RS melakukan mapping intelligent tentang siapa Prita dan paham impact yang akan ditimbulkannya jika mengambil langkah hukum. Bila fungsi PR berjalan, yang akan terjadi selanjutnya adalah melakukan lokalisasi persoalan agar tidak sampai membuat imej atau nama baik perusahaan terancam. Karena itu, perlu melakukan langkah-langkah teknis, misalnya mulai dari content analysis, mapping opinion sampai way out yang harus dijalankan. Pada saat itu "teman" terdekat seorang PR adalah media.

Karena media berhubungan langsung kepala publik, itulah pintu yang paling lebar yang harus dijaga. Dari pintu itu pula semua persoalan di-manage sedemikian rupa sehingga semua under control. Tantangan bidang kerja PR dan fungsi PR bisa amat sangat berat. Karena targetnya mengacu pada membangun image dan mempertahankannya. Bagi perusahaan yang mapan dan sadar imej, apa pun dilakukan untuk menyelamatkan imej korporasi mereka.

Karena mereka sadar, bila sudah jatuh, akan sulit membangunnya kembali. Sering kali di sinilah dibutuhkan pemikiran yang lateral tadi, pemikiran yang tidak biasa dan terobosan-terobosan untuk sebuah kemenangan branding. Contohnya, bagaimana KPK yang superbody itu goyang dihantam krisis Antasari. Sekarang bertanyalah kepada diri sendiri, apakah Anda melihat KPK masih sama seperti dulu atau sedikit berubah? Kasus-kasus krisis komunikasi semacam ini memang perlu ditangani secara extra-ordinary. Dibutuhkan latihan untuk mengenali ancaman krisis komunikasi.

Dalam aplikasinya, seorang yang mengendalikan fungsi komunikasi seharusnya adalah orang-orang yang sangat paham dengan media, punya keahlian komunikasi, paham tentang psikologi, dan awas terhadap perubahan mendadak di lingkungannya. Konsultan komunikasi sama pentingnya dengan konsultan hukum, tetapi belum banyak yang menyadari itu. Ada sebuah cerita. Suatu saat maskapai penerbangan Jepang Japan Airlines (JAL) mengumumkan membatalkan penerbangan dari San Fransico, AS, ke Jepang karena pesawat rusak oleh badai salju.

Semua penumpang dipindahkan dan hampir semua penumpang menerima dengan senang hati. Namun ada seorang ibu yang tidak mau dan ngotot akan menunggu perbaikan pesawat JAL hingga selesai. Akhirnya manajemen mengabulkan penerbangan ibu yang dari muda selalu naik JAL itu. Hanya saja sekarang dia di-upgrade di kelas bisnis sambil ditemani wartawan! Bayangkan apa yang terjadi.(*)

Tuesday, February 17, 2009

Catatan Hati di Setiap Sujudku


Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author:Asma Nadia, dkk
Terima kasih, Opie, sudah menghadiahiku buku ini. Ternyata telepati kita nyambung, ya. Aku pengen buku ini dari kapan tahu tapi tertunda terus kalah sama barang lain yang harus aku beli. Bukunya bagus sampai aku gak berhenti baca dari cerita satu sampai terakhir karena dalam buku ini persis kumpulan cerpen tapi nonfiksi. Kamu baca cerita pertama aja udah sedih banget, kan?

Di setiap udara yang kau temukan
Di sana akan kau jumpai Allah
Yang senantiasa mendengar doamu

Kalau aku ditanya tentang bait di atas, aku bakal jawab, “Iya. Gue bangeeett..!” Setiap aku mau tidur, bangun tidur, selagi bengong di kamar mandi, selagi jalan kaki (pokoknya ‘me time’) aku sering review apa yang sudah terjadi dan membayangkan apa yang akan terjadi. Alhamdulillah, aku bisa berpikir objektif jadi lebih santai.

Eh, tahun ini kita berdua sama-sama punya target lulus, ya? Makanya kita lagi rajin-rajinnya salat. Hehee. Ada maunya. Tapi, nyadar gak sih kalau Allah memang suka dipinta? Dia Yang Maha memampukan yang tak berdaya. Dia yang menjadi segenap tumpuan doa. Dan Dia suka dirayu, kita mengiba pada-Nya. Siapa sih yang tidak suka dirayu sama seseorang yang kita sukai?

Dan kita hanya perlu meminta. Insya Allah Dia akan memberi jalan yang tidak terduga.

Semoga usiaku yang ke-22 ini segalanya dilancarkan oleh Allah dan diberi kekuatan apapun yang terjadi. Walau aku masiih punya banyak salah, bisa jadi orang yang jahat, tapi Allah tetap memberikan aku karunia yang tak ternilai; mama papa, adik, sahabat, mas Tatu, rezeki sehat dan napas di ruang matahari yang selalu bersinar berganti dengan bulan yang malu-malu temaram. Kadang aku kalau lagi waras sering terbersit, kita semua kecil banget. Ini sebuah insting. Perasaan. Bahwa ada sesuatu zat yang besar. Allahu Akbar.

Tuesday, December 30, 2008

Tapol


Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Ngarto Februana
This book was totally emotional! the setting was about Gestapu '65. I read this by Mas Tatu's recomendation (thank's, Hon...). He said that this was a romantic book. What?! I thought this book was only 'kiri' issue. (indonesian called communist is 'kiri'). I spent only 4 hours. Because the book is only 170's pages.I could read hundred pages of books. hehe.

The interesting parts are Ngarto was on the right rail to tell us about Indonesia Communist Party in 60's. He took some references about its history and mixed it into his story, tell us about Gestapu's victim and how they survive in 20 years later. It was great. To you, fiction readers, this one is recommended. This book is light, u can get the point without complication.

FYI, Indonesia Communist Party was about the giants of this Republic. Soekarno (his Nasakom), Soeharto (and his hell soldiers), and student movements. Then, Ngarto could combine three elements became a sentimental fiction. Can u imagine when u're innocent but this government injustice to u as their people however? And the government can destroy all side of ur life? The tragedy of Gestapu is an unforgiven sin in this Republic!

Tuesday, December 9, 2008

A Cat In My Eyes, Karena Bertanya Tak Membuatmu Berdosa


Rating:★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Fahd Djibran
Guru yang baik pasti selalu mengajak murid-murid di kelasnya untuk selalu bertanya. Orangtua yang baik akan menanyakan sesuatu untuk meyakinkan mereka sendiri kalau anaknya baik-baik saja. Teman yang baik selalu menanyakan apa kita butuh bantuannya di kala kita sedang sedih. See, berarti bertanya itu tidak membuat seseorang menjadi abnormal karena bertanya itu (sungguh) tak membuatmu berdosa.

Premis itu yang menggerakkan Fahd Djibran menulis berbagai macam pertanyaan (yang tak seluruhnya bisa terjawab) ke dalam prosa, puisi, sketsa, dan cerita pendek yang terangkum dalam sebuah buku.

Judulnya sangat representatif dengan isi bukunya yang sekilas ‘ringan’ tapi ternyata bisa bikin kedua ujung alis kita bertemu juga. A Cat In My Eyes. Kucing di dalam mataku? Secara harafiah memang sedikit membingungkan. Tapi coba perhatikan hewan yang menjadi inspirasi Fahd ini; matanya tajam, selalu awas, dan curious. Dan Fahd pun sangat tepat mengumpamakan isi buku ini dengan mata kucing itu.

Penulis yang juga pendukung Persib ini mampu menenggelamkan pembaca sehingga pembaca tersadar akan segala pertanyaan yang dalam kehidupan sehari-hari terkesan biasa saja.

Walau kita yang membaca kebanyakan ikut merenungi sesuatu dan tidak mendapat jawaban secara gamblang, Fahd membebaskan diri kita sendiri untuk menemukan jawaban yang sesuai dengan kadar pengetahuan dan keimanan kita.

Coba baca bab “Pertem(p)u(r)an Dengan Tuhan”. Sisi spiritual Fahd membuat kita terharu sehingga kita berkaca pada diri sendiri kapan terakhir kali kita berjibaku dengan Tuhan.

Tapi, Fahd juga bisa ‘jahil’ dalam merangkai dan menentukan ending ceritanya. Saat kita membaca judul “Matamu Yang Sepi” dan membaca tiap alinea ceritanya, kata-kata yang tertulis sangat romantis bak pria sedang kasmaran. Tapi, kita sebagai pembaca akan ‘nyengir’ dan merasa sedikit ditipu Fahd kalau membaca bab ini sampai habis.

Atau buat para cewek, membaca bab yang berjudul “Cantik”, akan membayangkan perlakuan manis cowok kita saat mereka bilang kalau kita ini perempuan miliknya yang paling cantik sedunia. Hmmm…

Ke-27 bab tulisan Fahd ini memiliki benang merah meski cerita antara bab satu dan bab lain belum tentu sama. Kita seperti membaca curhatnya Fahd dalam hal hidup, perasaan cinta yang universal, kemisteriusan waktu, sampai keyakinannya pada Tuhan.

Latar cerita dari kehidupan sehari-hari menjadi kunci agar pembaca dapat dengan mudah memahami maksud dan pertanyaan Fahd yang banyak banget (siap-siap deh, ada banyak tanda tanya pada buku ini).

Namun, ritme keseluruhan cerita yang hampir serupa bisa jadi membuat pembaca harus tarik napas sebentar atau lanjut membuka halaman selanjutnya beberapa saat kemudian. Kata-kata dalam buku ini membuat kita berpikir, sih.

Untungnya, font dan grafis yang dipakai cukup simpel sehingga tidak bikin mata kicer. Eh, masih ingat buku yang berjudul Dunia Sophie? A Cat In My Eyes bisa dibilang satu tipikal dengan buku filsafat itu. Atau Filosofi Kopi karya Dee? Konsepnya memang agak mirip. Tapi, buku ini hadir dengan versi Fahd sendiri, tentunya. Dan Fahd masih punya banyak waktu untuk bereksplorasi sehingga bisa menelurkan karya-karya lain yang juga cerdas.

Tuesday, September 9, 2008

The Pony-Mad Princess 3:Teka-Teki Untuk Putri Ellie


Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Childrens Books
Author:Diana Kimpton
Penerbit : PT Primamedia Pustaka Kelompok Gramedia Majalah
Tahun terbit : Desember 2005
Tebal : 96 halaman

Tak sengaja saya menemukan buku mungil ini ditumpukan majalah bekas di salah satu kios terminal Senen. Warna sampulnya sangat ‘princessa’; pink dan kuning. Judulnya juga lucu yang bisa menggugah rasa ingin tahu pembaca dari segmen anak-anak. Ketika saya membuka-buka halaman buku ini, font-nya juga nyaman dimata. Plus ilustrasi sketsa gambar-gambar yang cute tentang karakter tokohnya. Saya langsung tawar dan dapat potongan harga sekitar 80% dari harga asli buku ini. Untuk keponakan saya? Hahaha. Bukan! Saya beli untuk saya sendiri.

Sayang, saya hanya dapat salah satu edisi dari keempat edisi serial Putri Ellie. Putri yang memiliki sifat sedikit bebal ini tergila-gila dengan kuda poni. Walau Raja dan Ratu sempat melarang Ellie (sang putri lebih suka dipanggil begini daripada Aurelia) karena tentu saja akan membuat putri tampak kotor dan bau. Soalnya, Ellie lebih memilih menunggang kuda poni dan membersihkan kandang kuda daripada menemani tamu kerajaan.

Putri Ellie sangat mencintai keempat kuda poninya. Ketika ia berkeliling hutan bersama sahabatnya, Katie, cucu juru masak kerajaan, kuda poni yang ditunggangi Ellie menolak untuk masuk lebih jauh ke dalam hutan. Apa Rainbow, kuda Putri Ellie, melihat hantu? Mereka pun merasakan sesuatu yang aneh ketika berada di hutan yang dingin. Tapi, Ellie malah makin penasaran dan berniat memecahkan teka-teki ini. Kira-kira benar ada hantu enggak, ya?

Apa yang membuat saya memberi empat bintang untuk novel anak-anak ini?
1. Putri Ellie sangat pemberani dan rendah hati. Ia tidak risih bersahabat
dengan cucu juru masak kerajaan.
2. Pecinta binatang.
3. Walau orangnya cuek, Putri Ellie tahu ia harus sopan ketika menemani
tamu kerajaan yang awalnya tidak ia sukai
4. Putri Ellie suka sebel karena tidak semua kamar dan pakaian seorang
putri harus berwarna pink ‘kan?
5. Putri Ellie tidak manja. Dengan senang hati ia merawat keempat kuda
poninya
6. Sayang, Putri Ellie suka malas menyisir rambut *Hihihi…*
7. Putri Ellie berjiwa feminis.
8. Putri yang cerdas

Thank God I’m female! Seperti kebanyakan gadis kecil lain, dari dulu saya suka cerita putri-putrian. Sampai sekarang saya pun mengoleksi serial Princess Diaries. Kartini juga saya anggap seorang putri walau ayah bundanya bukan raja dan ratu. Seorang putri tidak melulu menunggu pangeran berkuda dan hidup bak di negeri dongeng. Helllloooo.., seorang putri sejati adalah dia harus punya keberanian. Itu saja. Agar dia bisa menjaga dirinya sendiri dan tak seorang pun mampu membuat jiwanya mati.

Tuesday, July 15, 2008

Black Interview


Rating:★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Andre Syahreza
Judul : Black Interview
Penulis : Andre Syahreza
Penerbit : Gagas Media
Tebal : 240 halaman


Jakarta dengan segala problema dan kisah manisnya. Jakarta dengan segala atribut harapan dan simbol metropolitan dalam kemajuan zaman. Jakarta dengan segala aneka rupa dan karakteristik yang memberi sejuta warna. Seribu anekdot, pujian, dan kritik tentang Jakarta berpadu menghasilkan karya yang dituang dalam bentuk seni. Baik itu berupa sastra, lukisan, film, lagu, ataupun grafis.

Jakarta telah menginspirasikan banyak orang untuk menulis lika-liku dinamikanya. Ada banyak buku yang mengisahkan kehidupan masyarakat Jakarta yang tak pernah habis cerita. Tengok saja di jajaran rak toko-toko buku ternama. Karya kontroversial milik Moammar Emka menjadi salah satu yang mencuri perhatian masyarakat. Emka membeberkan kehidupan seks Jakarta”. Bukunya laris manis sampai terbit hingga beberapa edisi. Pun Seno Gumira Ajidarma (SGA) dengan “Affair”-nya menjadikan kota Jakarta sebagai inti isi karyanya.

Andre Syahreza, jurnalis yang matanya juga sangat terbuka lebar terhadap kisah manis getirnya Jakarta. Setelah mengumpulkan laporan jurnalistiknya menjadi sebuah buku The Innocent Rebel : Sisi Aneh Orang Jakarta (GagasMedia, 2006), pria ini kembali mengemas kisah kota kelahirannya dengan sudut pandang yang tentunya berbeda. Black Interview menjadi salah satu karyanya yang -boleh dibilang- lebih “bandel”.

Black Interview merupakan nama rubrik di majalah djakarta! sejak edisi ke-48 ketika djakarta! masih berbentuk majalah bulanan (hal. viii). Seperti dalam chapter “Classical Black” yang berisi wawancara imajiner dengan tokoh-tokoh bikinan Andre. Kemudian, Black Interview ini mengalami perubahan konsep di edisi 84 dengan menekankan setting waktu dan “terungkap” bagaimana keadaan Jakarta satu abad mendatang.

Memang bukan seluruhnya interview yang bisa ditemukan di buku ini. Pun bukan hasil ramalan Andre. Penyebab semua kisah Jakarta pada seratus tahun kemudian merupakan kebalikan dari logika-logika yang sedang terjadi kini. Apa yang bisa kita lihat sama-sama dari jakarte kite sekarang? Macetnya, penduduk padatnya, gubernurnya, budaya konsumerismenya, menjadi beberapa topik dari sekian banyak gambaran kehidupan Jakarta.

Jangan harap pembaca dapat menemukan wajah Jakarta yang cantik seratus tahun mendatang. Yang ada hanyalah orang gila, gubernur yang goblok, kota yang berbahaya, dan serangkaian hitamnya Jakarta yang membuat kita berpikir: jangan-jangan Andre juga ikutan gila. Cerita milik pria yang selama kurang lebih lima tahun sebagai editor-in-chief majalah djakarta! ini kental dengan aroma sarkastis. Andre mengklaim bukunya kali ini berkonsep baru, yakni black comedy - sindiran- dengan ending yang terkadang bikin gemas. “Manusia Bulan” dan “Danger Tour”, contohnya.

Membaca tulisan-tulisannya yang mirip cerpen, ada kekaguman terhadap cara Andre mengkonstruksi setting Jakarta dengan segala keanehan isi kotanya. Berpadu dengan tulisan yang dibuat layaknya penulisan berita, sepertinya kita akan “dipaksa” membuka halaman selanjutnya untuk ikut mereka-reka akan jadi apa Jakarta. Atau bisa jadi malahan sebaliknya. Kita jadi tidak kuat, muak, serta takut apa yang ditulis Andre ada benarnya juga. Semua tergantung interpretasi kita sebagai seorang pembaca. Toh, Andre punya hak untuk beropini ria.

Apakah keadaan Jakarta sekarang hanya akan mewarisi bobroknya Jakarta buat cucu-cicit kita nantinya? Banyak kalimat di buku ini sekilas membuat kita beranggapan bahwa Andre membenci Jakarta. Tapi, siapa tahu kalau jauh di alam bawah sadar Andre (juga kita) mencintai -dan justru SANGAT care dengan mengkritik- Jakarta?

-Rizky Adelia
Anggota aktif LPM Media Publica
Universitas Prof. DR. Moestopo (Beragama), Jakarta

Thursday, June 26, 2008

HAK ANGKET : DPR PUNYA GAYA


Oleh: R Adelia R

Juni ini saya disuguhkan media massa mengenai macam-macam berita yang membuat saya terus geleng-geleng kepala dan menghela napas panjang. Dari berita yang membuat saya gregetan kalau melihat sosok “necis”-nya Artalyta, Inggris yang ternyata tidak ikut main di Euro Cup 2008 (Bohong. Saya tidak sampai prihatin, kok, hanya sebatas menyayangkan), sampai isu terpanas minggu-minggu ini berkaitan dengan wafatnya mahasiswa UNAS dan aksi brutal pengunjuk rasa pada Selasa (25/6) lalu.

Sampai rumah, jarang-jarang saya sudah sampai jam delapan malam. Ketika makan malam dan menonton TV  bersama ayah dan ibu (nah, kalau situasi ini sudah jarang terjadi pada saya saat hari kerja. Kali ini tidak bohong), salah satu stasiun TV menayangkan diskusi tentang hak angket DPR. Ayah saya serius menonton, ibu serius beres-beres meja makan, saya serius menggerutu. DPR bikin apa lagi, sih?

Secara tidak langsung, hak angket dilaksanakan karena tekanan dari para pengunjuk rasa yang meminta pemerintah membatalkan kenaikan harga BBM. Tak usah ditanya lagi mengapa DPR baru melaksanakannya. Di salah satu surat kabar memuatnya sebagai headline dan mencetak partai mana saja yang setuju dan tidak setuju akan hak angket ini. Walhasil, bisa ditebak. Partai Golkar dan Partai Demokrat memilih untuk tidak setuju. Yang lain? Jelas setuju. Hmm, mumpung ada kesempatan ”unjuk gigi”.

Tapi, yang perlu digarisbawahi adalah hak angket bukan untuk membatalkan kenaikan harga BBM. Hal tersebut sudah tidak mungkin diturunkan lagi. Hak angket tersebut adalah untuk menyelidiki dan menuntut alasan SBY dan tim yang sepakat menaikkan harga BBM. Jeda sebentar. Lantas? Apa gunanya hak angket? Toh, nyatanya adalah harga BBM sudah positif naik di Indonesia. Tarik napas sebentar. Lalu, berarti mahasiswa selama ini teriak-teriak menyuarakan aspirasi rakyat jadinya percuma? Unfortunately, yes. Jadi, masyakarat hanya disuguhkan cerita ”macan ompong”? Kurang lebih begitu.

Walau sudah ”kadung”, media dan masyarakat jangan menyerah dan tetap menjadi watchdog pemerintah karena ada banyak PR yang harus dituntaskan pejabat negara itu. Salah satunya adalah kasus suap jaksa BLBI dan korupsi dari hasil warisan kolonial. Ngomong-ngomong, para pelaku tersebut jelas merugikan hajat hidup orang banyak dan merusak citra negara. Jahatnya saya, mengapa tidak dihukum mati sekalian? Orang Indonesia itu sudah tambeng¸ susah jeranya kalau hanya hukuman seumur hidup. Ironisnya, hukum sekarang bisa diperjual-belikan (catatan : profesi lain; makelar kasus)

Kembali ke soal hak angket. Sebelumnya, pasti kita pernah mendengar hak interpelasi. Apa beda kedua hak DPR tersebut? Simpel saja. Hak angket bertujuan menyelidiki kebijakan pemerintah yang krusial. Sedangkan hak interpelasi adalah meminta keterangan pemerintah tentang kebijakan yang diambil pemerintah.

Yang jelas, hak-hak ini menimbulkan kemungkinan. Bisa berdampak akan ketidakpercayaan DPR terhadap pemerintah. Atau pemerintah yang justru sebel dengan DPR karena gagalnya hak angket atau hak interpelasi dan menganggap DPR tidak konsisten. Ehm, kita semua sudah cukup tahu ketiga lembaga (eksekutif, yudikatif, legislatif) itu ketahuan ”borok”-nya seperti apa. The big question mark is: Pada siapa rakyat percaya dan meminta perlindungan?