Showing posts with label School Things. Show all posts
Showing posts with label School Things. Show all posts

Wednesday, November 7, 2012

Membimbing, Lebih dari Sekadar Angka


Saya sempat bercita-cita menjadi guru. Hmm, tidak spesifik mau jadi guru apa, sih. Tapi saya tertarik dengan bidang psikologi dan komunikasi. Jadi, saya sempat ‘ngayal’,  lucu juga kali ya kalau jadi guru bimbingan konseling atau BK. Tapi, kenyataannya, jauh lebih lucu. Bahwa saya mendapatkan konseling justru dari guru matematika saya yang berlabel 'killer' saat saya masih duduk di bangku SMP, bukan dari guru BK saya. 

Guru matematika saya telah berpulang selamanya sejak saya kuliah (semoga amal ibadah beliau diterima oleh Allah SWT). Ada kesan yang tertinggal selepas itu. Bahwa ia memberikan jejak samar dalam cara saya mengambil keputusan. Matematika adalah salah satu mata pelajaran yang saya senangi, tapi sangat dipengaruhi oleh cara guru mengajar. Saat itu, beliau (alm.) pun tidak memiliki cara yang istimewa dalam mengajar para siswanya. Hanya berbekal papan tulis dan kapur, menggoreskan angka, memberi solusi singkat, lalu memberi tugas kami menyelesaikan sederet soal matematika yang tidak semuanya mudah. Bukan tipikal yang akrab dengan siswa-siswanya. Tipikal pemikir yang cocok dengan bidangnya waktu itu, matematika. Otomatis, saya pun biasa saja. Saya pun beberapa kali izin tidak ikut mata pelajaran beliau untuk latihan basket menjelang kompetisi. 

Semua berjalan datar. Hingga akhirnya, menjelang waktu Ujian Akhir Nasional, saya dipanggil ke meja beliau saat teman-teman saya sibuk bekerja sama menyelesaikan tugas kelompok. Bicara empat mata. Saya ditegur karena nilai saya hampir dibawah rata-rata, apalagi mata pelajaran matematika!

Ternyata beliau memperhatikan catatan akademik saya. Terdiam. Terheran. Dan saya tak menyangka.

Saya tidak tahu banyak tentang kamu. Tapi, kamu cukup aktif di sekolah ikut ini-itu. Sekarang kamu ikut tim basket sekolah. Saya pikir sebaiknya kamu pilah kegiatan mana yang tidak mengganggu jadwal belajar kamu, kalau kamu kesulitan membagi waktu. Kamu tidak bisa jalani semuanya dan kepingin semuanya. Saya cuma mau kamu meningkatkan nilaimu agar kamu bisa bersaing dengan teman-temanmu yang lain.

Itu adalah sepenggal kalimat (atau nasehat) yang saya ingat. Tidak sama sekali menggugah. Tapi, seperti beliau bisa membaca pikiran saya dan saya sedikit tercubit. Saya tidak diabaikan olehnya. Guru yang memperhatikan progres anak didiknya. Beliau tidak menilai dengan sekadar angka, padahal ratusan rumus selalu memenuhi kepalanya.

Ego saya yang biasanya naik, jadi layu. Saya diingatkan untuk berlatih membuat pilihan dalam hidup. Selain logika, ada rasa. Karena ada sebab, ada akibat. Saya tidak dipandang muda oleh beliau dapat membuat pilihan.

Kedekatan antara guru dan muridnya, bukanlah sesuatu yang jamak ditemukan di sekolah. Begitupun saat di perguruan tinggi. Hubungan personal antara guru dan murid, susah-susah gampang. Bagi saya, seorang guru di luar kelas dan guru didalam kelas itu sama. Guru bukan profesi, tapi watak. Tapi pengabdian. Jadi, dimanapun seorang guru memainkan perannya dalam kehidupan sosial, ia tetaplah seorang guru. Berpikiran terbuka, mau ikut belajar terhadap perubahan di sekelilingnya, bersedia terus menggali ilmu yang menjadi kompetensinya, dan mendengar.

Bahkan seorang guru pun harus mendengar muridnya. Mau tak mau, bapak ibu guru di kota besar, seperti Jakarta, adalah pengganti ayah ibu di rumah. Sadar atau tidak disadari, tanggung jawab dalam membimbing manusia dalam pertumbuhannya amatlah besar. Banyak celetukan guru yang saya ingat sebagai kalimat kutipan yang (menurut saya) ‘kena’. Diantaranya:

Guru agama SMP saya pernah berkata:
Jangan kelewatan mencintai cewek atau cowok karena itu bisa berbalik menjadi kamu benci sama dia. Begitu juga kamu jangan berlebihan membenci orang. Karena siapa tahu kamu jadi suka. Biasa saja. Tidak boleh berlebihan dalam bersikap.

Guru sejarah SMP saya pernah berujar:
Dalam keturunan, ia mewariskan gen maupun sifat dari kakek, nenek, ayah, ibunya. Hingga akhirnya membentuk dinasti. Bagus tidaknya dinasti itu, ditentukan oleh bagaimana keturunan yang ada di dinasti tersebut.”

Guru SD saya pernah menjelaskan:
Kutub magnet utara dan utara tidak akan ketemu karena sama. Kutub positif dan negatif baru bisa nempel. Manusia juga begitu. Kita berbeda, tapi menyatu.”

Di usia wajib belajar 12 tahun, apa yang kita serap kebanyakan dari kehidupan sekolah. Secara tak langsung kita terbentuk dari bagaimana pergaulan kita di sekolah, bagaimana seorang guru mengajar, menghibur teman menangis saat ia curhat tidak cukup biaya untuk masuk sekolah favoritnya, atau menahan diri untuk tidak menyontek saat ujian. Tak berlebihan, jika saya menyatakan kualitas pendidikan tak lepas dari kualitas para guru didalamnya. Bimbingan guru membekas mempengaruhi di setiap jenjang hidup kita. Ada mantan pacar, mantan bos, tapi tidak ada mantan guru.

Oh iya, ada satu keharuan ketika tahun lalu saya menyerahkan undangan pernikahan kepada Kepala Sekolah Dasar saya, yang tak lain adalah orang tua dari teman SD saya juga. Sambil mencium tangannya, beliau berkata sambil tertawa renyah,” Alhamdulillah, gak nyangka, si jangkung kriting ini akhirnya udah mau kawin.” :-)

Nostalgia bersama TK Batutis, Bunga Matahari Di Ladang Pelangi


Setelah menikah, saya dan suami mencoba untuk mengkonstruksi masa depan bagi keluarga kami. Setahun menjalani pernikahan yang seru (ya, dalam arti kata sebenarnya), meski kehidupan kami berdua belum dihiasi tangis dan tawa bocah kecil sang buah hati. Itu betul-betul absolut kuasa Tuhan, sambil berusaha, saya dan suami saya pun menerawang, memiliki anak asuh yang bisa kami bantu dia sekolah agar bisa mandiri. Ah, tapi itu masih jauh. Sekarang kami masih hanya mampu menabung untuk kebutuhan hidup kami berdua.

Tapi, niat itu sedikit menggelitik batin dan pikiran saya.

Saya pernah merasakan keindahan “berbagi” itu. Mengabadikannya. Empat tahun lalu, dilatarbelakangi oleh keinginan saya mendapat nilai sempurna di mata kuliah Fotografi Jurnalistik, saya menemukan tempat yang bisa memenuhi misi saya waktu itu. TK Batutis. Baca-tulis-gratis. Saya mendapat informasi tentang sekolah itu dari Majalah Gatra, yang memuat review buku “Rumah Kisah: Selamat Datang Di Garasi” ditulis oleh Siska Y. Massardi, tak lain adalah pendiri sekolah tersebut. Hmm, pikir saya waktu itu seru juga. Dan begitu tahu tempatnya di Bekasi, saya nyengir. Jauh amat dari rumah saya di Cempaka Putih. Tapi, ternyata semuanya berjalan tak sesulit yang saya bayangkan. Berhasil menghubungi Ibu Siska dan membuat janji, saya siap menyambangi TK Batutis.

TK Batutis Al-Ilmi adalah TK gratis untuk anak-anak dhuafa yang didirikan oleh Ibu Siska. Dengan semangatnya dan orang-orang terdekat di sekitarnya, TK Batutis sudah berkembang. Saya lihat di linimasa Facebook milik Ibu Siska, TK Batutis sudah memiliki lahan sendiri plus mendirikan SD. Akhirnya, impian tim TK Batutis waktu itu alhamdulillah kini sedikit demi sedikit tercapai.
Entah ada semangat apa waktu itu hingga saya bersedia menempuh perjalanan hampir dua jam hanya untuk foto dengan tema anak-anak. Saya pun tidak mempersiapkan peralatan khusus jika dikatakan ingin photo-shoot. Saya hanya membawa kamera saku. Tiga kali datang di siang hari, dalam beberapa jam saya ikut kegiatan mereka.

Saya berkenalan dengan beberapa guru yang waktu itu keseluruhan adalah perempuan. Saya pun mencoba berbincang dengan anak-anak usia TK yang belajar di sana. Kesahajaan. Itulah atmosfir yang saya hirup dari suasana disana. Di garasi rumah Ibu Siska, mereka menjalankan kegiatan belajar-mengajar. Large classroom in small space. Mungkin itu ungkapan tepat. Alat-alat tulis, krayon, kertas, poster berhitung, gambar-gambar hewan, rak-rak buku, terbilang lengkap mengajak anak-anak menggambar, mewarnai, mengenal huruf dan angka, dan semua hal yang mendukung kegiatan bermain sambil belajar. Tidak cuma di kelas, anak-anak pun diajak menonton film DVD tentang edukasi  dan belajar shalat. Sungguh, mereka ini adalah anak-anak yang manis. Di balik kepolosan mereka, tersimpan bekal harapan besar orang tua mereka supaya mereka tidak juga mengalami hidup prihatin. Oh iya, mereka juga  melakukan sebagian kegiatan kelas di teras rumah tetangga Ibu Siska yang bersedia dipakai sebagai tempat belajar anak-anak batutis. Ah, lagi-lagi indahnya berbagi...

Bicara tentang langkah mulia yang Ibu Siska ambil tak akan ada habisnya. Beliau punya keinginan kuat untuk mengembangkan Batutis Al-Ilmi. Terlihat dari progres yang beliau buat dengan mengikuti pelatihan-pelatihan metode pendidikan dan terus mengembangkan sarananya. Then, I got the message. Jika seseorang betul-betul ikhtiar mewujudkan impiannya, entah bagaimana semesta ikut membantunya mencapai impian itu. Beliau tak hanya seorang guru, tapi seorang pembelajar. TK Batutis sebagai sekolah unggulan bagi dhuafa juga sudah dipublikasikan beberapa media massa.
Tapi, ulasan saya ini bukan memuja Ibu Siska dan TK Batutisnya. Saya hanya terharu dan amazed ternyata semangat seorang guru bisa begitu besarnya. Saya tahu ada banyak guru-guru luar biasa lain yang mempunyai kualitas unggul dan turut berkontribusi terhadap dunia pendidikan di Indonesia. Saya ingin bertemu dengan guru-guru lain yang menciptakan atmosfir baru, yang bisa menggugah semangat anak-anak didiknya untuk memiliki harapan. Dan saya pun bisa belajar dari bapak dan ibu guru ini. Seorang guru dihormati, karena ia mampu menunjukkan kepada anak didiknya bahwa ia memiliki pengetahuan luas dan pikiran serta hati yang terbuka. Menjadi role-model bagi siswa-siswinya. Ini menjadi tabungan pengetahuan dan pengalaman saya untuk menjadi orang tua kelak. Orang tua yang tidak hanya memberi komando, tapi juga mengajak anaknya bergandengan melihat dunia seperti seorang teman. Hmmm, ingin rasanya main ke Batutis lagi.
Lantas, bagaimana dengan misi penyelesaian tugas akhir kuliah fotografi jurnalistik saya? Well, mission accomplished! Waktu itu, dengan penuh percaya diri saya menyerahkan esai foto TK Batutis ini kepada dosen. Hasilnya? Huruf A pun terpampang di transkrip nilai saya. :-)
Ketika aku paham...
Bahwa aku betulan merasakan alam adalah sekolahku
Semua orang adalah guruku
Aku bisa melihat relung dalam mata letihmu walau samar
Ada segenggam bekal yang akan engkau berikan
Dan aku bawa untuk perjalanan usia senjaku

Jadi, kala kita sudah sama menjadi orang yang tua
Ayolah,
Maukah kau berdansa denganku lagi?
Aku tahu bagaimana balas budi
Walau tuaku nanti tak punya apa-apa lagi
Dan aku hanya mampu memberi ini...

Sekuntum bunga matahari
Yang dulu pernah kita tanam di padang pelangi
Aku rindu usapanmu
Dan aku akan terus menghormatimu...
Dengan apa adanya dirimu, guruku 

Friday, February 26, 2010

Back To School (Yiippiiieee...!)

Di kelas Metode Penelitian Kuantitatif bersama Ir. Enisar Sangun, Ph.D




Di bawah ini saat kuliah pengganti Statistik Dalam Penelitian Sosial bersama Dr. Mei Darmawiredja
Kalau dibawah ini memang pada dasarnya kita2 narsis semua (heheee...)
"Kuliah lagi nih ceritanya?"
Ya. Back to school adalah judul yang tepat dalam hidup saya mulai Oktober 2009. Setelah berdiskusi dengan keluarga dan orang terdekat saya, akhirnya saya membulatkan tekad untuk berkomitmen belajar selama dua tahun ke depan menempuh gelar S2 di bidang ilmu komunikasi (again?? hahaaa..coz that is my core).

"Ga capek, lo, Del?"
Hmmm...tak perlu dijawab panjang lebar kali ya karena biasanya saya hanya tersenyum ketika seorang teman bertanya seperti itu. Saya anggap pertanyaan itu sebagai bentuk kepedulian mereka karena tanpa jawaban gamblang, pasti mereka sudah tahu kalau bekerja sambil kuliah itu benar2 menyita waktu, tenaga, dan pikiran.

"Emang kuliah dimana?"
Tercatat sebagai mahasiswa S2 Magister Ilmu Komunikasi Universitas Prof. DR. Moestopo (Beragama), Jakarta, tugas-tugas yang saya temui ternyata buuaannnyyaaaakk tenaann! Tapi untunglah banyak kolega yang membantu (heheee..thanks, Teman2!) dan dukungan dari keluarga dan pacar yang tiada duanya. Tentunya bos dan supervisor di kantor yang juga maklum kalau saya "kabur" duluan jam 5 teng!

"Susah enggak, sih?"
Segala macam rumor kalau lulusnya susah, tugas yang melimpah, tenaga dikuras seperti sapi perah, itu semua berusaha saya lihat sebagai tantangan. Untuk yang satu ini, saya terus belajar untuk mengatur syaraf2 di otak kalau semua badai pasti akan berlalu. *Tssaaaahhh...*

"Ngapain aja, Del?"
Kuliah seperti kuliah pada umumnya, tapi memang lebih banyak berkutat pada teori dan sudah lebih spesifik dan fokus mempersiapkan mau angkat penelitian (tesis) apa. Analisis kasus dan segudang paper pastinya siap menanti. Jedddeerrr! Masih belum punya ide nih mau angkat tentang permasalahan apa buat tesis. 

"Ada penjurusannya gak?"
Sama dengan S1-nya penjurusan nanti, ada jurnalistik, periklanan, dan humas (corporate PR). Tapi, saya kok lagi2 belum bisa memastikan penjurusan yang saya ambil apa yah *garuk-garuk kepala*

Sebagian pertanyaan yang sering dilontarkan para sahabat tersebut jadi semacam pengingat buat saya agar terus semangat belajar. Ga munafik sih, beasiswa yang saya dapat dari S1 sebelumnya jadi magnet terbesar agar saya bisa punya gelar master ini. Tapi, saya coba memandang lebih jauh karena saya yakin ilmu yang saya punya ini akan bermanfaat di kemudian hari, setidaknya untuk saya sendiri dulu.

Mentang-mentang S2, ga usah mikir bakal dapat gaji gede dulu kali yeee karena dari artikel pengembangan karyawan juga banyak menyebutkan kalau perusahaan kebanyakan lebih senang melihat track record dan pengalaman kerja si pelamar dibanding sekadar gelar S2. Makanya, saya juga jor-joran dan belajar untuk jadi lebih tangguh, terus bekerja sambil kuliah, pun belajar menguasai lingkup kerja, metodologi, mekanisme sistem (dan networking tentunya)

No pain no gain.




..............ngomong-ngomong, semoga semester 1 ini lulus deh ya (rada cemas juga nunggu hasil nilai semester awal
)


Thursday, June 11, 2009

PR I'm in Love! (BELAJAR KOMUNIKASI DARI KASUS PRITA)

Kasus Prita menjadi bahan yang dapat dilihat dari perspektif ilmu komunikasi. Bagaimana Prita menjadi sosok yang diperhatikan oleh banyak orang sampai tindakan RS Omni yang menimbulkan banyak opini publik.

Saya jadi ingin kembali kuliah dan berkecimpung di PR. Padahal, dulu saya paling malas disuruh baca buku ‘Effective Public Relation’. Tulisan Pak Luthfi ini sengaja saya unggah soalnya saya anggap bisa menambah wawasan saya. Semoga penulis tidak keberatan karena saya kutip dari Rubrik Opini Koran SINDO (10 Juni 09) dan news.okezone.com.


BELAJAR KOMUNIKASI DARI KASUS PRITA
Luthfi Subagio
PR Consultant, Tinggal di Jakarta

Barangkali dokter dan owner Rumah Sakit (RS) Omni Internasional Alam Sutera, Banten, Tangerang saat ini susah mengaso. Kasus Prita seperti mimpi buruk siang bolong. Begitu dahsyatnya sehingga melumpuhkan brand RS bermerek internasional tersebut. Bahkan di mesin pencari dunia maya, nama Prita dan RS Omni mempunyai hit tinggi, tentu saja dengan tendensi negatif dan destruktif.

Saat ini bisa kita lihat dampak dari krisis komunikasi yang tak terbayangkan sebelumnya. Butuh waktu dan biaya yang tidak sedikit untuk melakukan recovery karena kini RS itu menjadi musuh publik. Tingkat kepercayaan tentu langsung turun, bahkan DPR meminta izinnya dicabut. Bayangkan ini: orangtua sebuah keluarga yang lewat di depan RS itu akan menggunjing dan didengar anak-anak mereka, yang akan terus diingat. Lengkaplah penderitaan itu.

Salah Langkah

Sejak awal RS Omni memakai paradigma yang salah dalam menangani persoalan, yaitu dengan paradigma palu dan paku. Oleh RS Omni, pasien hanya dianggap sebagai "paku kecil" yang perlu "digetok" lantas beres masalahnya. Kesalahan ini bisa dianggap makin fatal jika benar dalam menggetok itu RS Omni mendapatkan masukan dari penasihat hukum atau dukungan aparat penegak hukum.

Kasus ini sebenarnya tidak perlu berujung menistakan RS Omni jika RS itu punya manajemen komunikasi (public relation/PR) yang berjalan dengan baik karena bagaimanapun layanan jasa itu menyangkut kepuasan orang. Di sini bisa kita lihat bukannya fungsi PR yang mengemuka, melainkan fungsi hukum. Padahal harusnya keduanya berjalan bersama jika terjadi krisis komunikasi. Wajar RS Omni tidak bisa menghitung ancaman yang bakal terjadi jika sampai memasukkan Prita ke penjara. Pikirannya pun sederhana, dengan mengirim Prita ke penjara, semua orang akan jera dan tidak akan main-main lagi menistakan RS Omni.

Pendekatan yang dipakai Omni juga lebih terasa kental sebagai pendekatan perusahaan daripada pendekatan RS yang lebih mementingkan servis dan pelayanan yang excellent. Maka harus dimaklumi jika publik kemudian marah. Bisakah Anda bayangkan, besarnya impact yang ditimbulkan dari siaran langsung televisi yang mengetengahkan Prita yang menangis karena kangen anak-anaknya? Dahsyatnya pula, TV menayangkan gambar dua anak itu yang seperti itik kehilangan induk. Hati siapa yang tidak tergedor, siapa pula yang tidak mengumpat RS Omni? Pada kasus ini, jangan membicarakan yang rasional. Karena rasionalitas pasti tidak jalan.

Publik sudah marah dan ketika marah, publik kehilangan rasionalitasnya, yang ada hanya satu kata: "lawan". Karena itu, sikap gagah-gagahan dengan menyerahkan semuanya kepada hukum untuk menindak aparat yang terbukti tidak profesional sama dengan penyataan bunuh diri. Suasana makin buruk ketika Ikatan Dokter Indonesia (IDI) juga tidak membela RS Omni karena rekam jejak kesehatan adalah hak pasien. Dalam kondisi krisis seperti ini, komunikasi yang terjadi menjadi invalid sehingga perlu penanganan khusus.

Misalnya RS Omni sangat yakin bahwa pihaknya berada dalam posisi yang benar, padahal sebagai dokter yang juga manusia, masih mungkin mereka salah. Ini yang membuat publik makin geregetan. Mereka hanya menyerahkan masalah ini pada hukum yang berlaku. Tidak ada sifat rendah hati dan maaf yang tecermin dalam klarifikasi di media (atau mungkinkah media juga marah)? Antipati publik merupakan respons alami yang bisa dijelaskan. Publik seketika akan mengidentifikasikan dirinya sebagai Prita yang merupakan cerminan warga kebanyakan.

Dapat kita lihat betapa banyak ibu-ibu penggemar Facebook yang merasa terancam. Berbagai pertanyaan membayangi pikiran mereka seperti apakah saya dan keluarga saya aman bila berobat ke sana? Apa yang bisa saya lakukan untuk melindungi diri dan keluarga saya? Siapa yang menyebabkan semua ini? Apa yang bisa kita lakukan untuk Prita?

Krisis Komunikasi

Jika memang ada proses komunikasi yang berjalan baik di RS itu, kasus semacam Prita ini justru bisa menjadikan poin penting untuk membangun ikon kebesaran RS tersebut. Biayanya tentu jauh lebih murah daripada beriklan.

Sejak awal harusnya ada pola yang memungkinkan pimpinan RS melihat bahwa Prita bisa menjadi "agen kebaikan" dari RS tersebut. Tetapi ini memang tidak mudah karena diperlukan kecerdasan PR, sebuah kecerdasan yang dihasilkan dari pikiran-pikiran menyamping yang berpikir menyamping dan out of the box sehingga memungkinkan mengubah ancaman jadi peluang dan memecahkan masalah yang paling pelik pun. Ujungnya tentu saja melindungi imej perusahaan dari kejadian-kejadian yang tidak diinginkan.

Bahkan sebelum memutuskan untuk mengambil jalan hukum, harusnya RS melakukan mapping intelligent tentang siapa Prita dan paham impact yang akan ditimbulkannya jika mengambil langkah hukum. Bila fungsi PR berjalan, yang akan terjadi selanjutnya adalah melakukan lokalisasi persoalan agar tidak sampai membuat imej atau nama baik perusahaan terancam. Karena itu, perlu melakukan langkah-langkah teknis, misalnya mulai dari content analysis, mapping opinion sampai way out yang harus dijalankan. Pada saat itu "teman" terdekat seorang PR adalah media.

Karena media berhubungan langsung kepala publik, itulah pintu yang paling lebar yang harus dijaga. Dari pintu itu pula semua persoalan di-manage sedemikian rupa sehingga semua under control. Tantangan bidang kerja PR dan fungsi PR bisa amat sangat berat. Karena targetnya mengacu pada membangun image dan mempertahankannya. Bagi perusahaan yang mapan dan sadar imej, apa pun dilakukan untuk menyelamatkan imej korporasi mereka.

Karena mereka sadar, bila sudah jatuh, akan sulit membangunnya kembali. Sering kali di sinilah dibutuhkan pemikiran yang lateral tadi, pemikiran yang tidak biasa dan terobosan-terobosan untuk sebuah kemenangan branding. Contohnya, bagaimana KPK yang superbody itu goyang dihantam krisis Antasari. Sekarang bertanyalah kepada diri sendiri, apakah Anda melihat KPK masih sama seperti dulu atau sedikit berubah? Kasus-kasus krisis komunikasi semacam ini memang perlu ditangani secara extra-ordinary. Dibutuhkan latihan untuk mengenali ancaman krisis komunikasi.

Dalam aplikasinya, seorang yang mengendalikan fungsi komunikasi seharusnya adalah orang-orang yang sangat paham dengan media, punya keahlian komunikasi, paham tentang psikologi, dan awas terhadap perubahan mendadak di lingkungannya. Konsultan komunikasi sama pentingnya dengan konsultan hukum, tetapi belum banyak yang menyadari itu. Ada sebuah cerita. Suatu saat maskapai penerbangan Jepang Japan Airlines (JAL) mengumumkan membatalkan penerbangan dari San Fransico, AS, ke Jepang karena pesawat rusak oleh badai salju.

Semua penumpang dipindahkan dan hampir semua penumpang menerima dengan senang hati. Namun ada seorang ibu yang tidak mau dan ngotot akan menunggu perbaikan pesawat JAL hingga selesai. Akhirnya manajemen mengabulkan penerbangan ibu yang dari muda selalu naik JAL itu. Hanya saja sekarang dia di-upgrade di kelas bisnis sambil ditemani wartawan! Bayangkan apa yang terjadi.(*)