| Rating: | |
| Category: | Books |
| Genre: | Sports |
| Author: | Estu Ernesto |
Showing posts with label Collection Things. Show all posts
Showing posts with label Collection Things. Show all posts
Thursday, February 16, 2012
Menerjang Batas
Sunday, March 13, 2011
Prangko. Yang Klasik, Yang Menarik
Kamar saya mau tak mau memang harus dirombak ulang karena akan datang "penghuni baru" dalam beberapa bulan ke depan.
Akhirnya, sasaran pertama saya adalah meja marmer dan lemari buku karena peletakan buku, dvd, alat tulis, juga sampah elektronik seperti hairdryer, mouse, sudah awut-awutan. Bagian yang saya suka dari beres-beres kamar seperti ini (walau saya jarang melakukannya hehe) tak lain menjadi ajang nostalgia. Termasuk dari benda yang saya temukan diantara tumpukan buku dan majalah.
Koleksi prangkoku!
Tuesday, May 26, 2009
We 'Loft' Our House
Di Indonesia, mungkin masih asing dengan loft, yaitu tempat tinggal 'mini' berupa loteng yang bisa menampung berbagai aktivitas pemiliknya. Sekilas mungkin tampak seperti apartemen, tapi loft biasanya berukuran jauh lebih kecil. Untuk memenuhi life style, loft mulai banyak dilirik oleh kaum berada di kota metropolis, khususnya eksekutif muda sampai kalangan artis yang menginginkan gaya hidup masa kini.
Aslinya, loft merupakan tempat tinggal 'buangan', karena tempatnya berupa loteng-loteng sempit. Loft dulunya sebagai tempat pelarian para seniman di Manhattan, karena mereka tidak memiliki tempat tinggal akibat tergusur kaum borjuis dan pabrik-pabrik yang menempati tanah mereka. Kemudian para seniman tersebut membangun tempat/ruangan berukuran kecil untuk memenuhi kegiatan mereka untuk tidur, makan, melukis, mandi, dan lainnya.
Loft mulai dikembangkan di Los Angeles pada 2001. Dimana adanya undang-undang yang memaksa penduduk untuk tinggal tidak berdekatan dengan pabrik maupun perkantoran. Hal inilah yang mempelopori para pengembang untuk mendirikan loft-loft baik yang murah sampai yang mahal sesuai kebutuhan.
Saat ini jumlah loft di Indonesia masih bisa dihitung. Mungkin sementara ini hanya ada di Jakarta. Dan jangan ditanya mengenai harganya. Kita harus merogoh kocek puluhan bahkan ratusan juta, bahkan ada pula loft yang harganya lebih mahal daripada membeli rumah beserta tanahnya.
Maklumlah, banyak orang yang lebih mengagungkan prestise dan manyampingkan materi. 'Loteng' yang harganya selangit itu biasanya diisi dengan furnitur yang lengkap, bahkan bisa diisi sesuai selera warna, tipe, maupun tekstur dari pemilik loft.
Tapi, lahan yang terbatas tak jadi halangan untuk memiliki rumah impian. Dengan kreatifitas dan usaha ekstra, home sweet home tetap dapat tercipta. Sumber:Kapanlagi.com ( http://www.kapanlagi.com/a/loft-of-my-life.html )
Loft mulai dikembangkan di Los Angeles pada 2001. Dimana adanya undang-undang yang memaksa penduduk untuk tinggal tidak berdekatan dengan pabrik maupun perkantoran. Hal inilah yang mempelopori para pengembang untuk mendirikan loft-loft baik yang murah sampai yang mahal sesuai kebutuhan.
Saat ini jumlah loft di Indonesia masih bisa dihitung. Mungkin sementara ini hanya ada di Jakarta. Dan jangan ditanya mengenai harganya. Kita harus merogoh kocek puluhan bahkan ratusan juta, bahkan ada pula loft yang harganya lebih mahal daripada membeli rumah beserta tanahnya.
Maklumlah, banyak orang yang lebih mengagungkan prestise dan manyampingkan materi. 'Loteng' yang harganya selangit itu biasanya diisi dengan furnitur yang lengkap, bahkan bisa diisi sesuai selera warna, tipe, maupun tekstur dari pemilik loft.
Tapi, lahan yang terbatas tak jadi halangan untuk memiliki rumah impian. Dengan kreatifitas dan usaha ekstra, home sweet home tetap dapat tercipta. Sumber:Kapanlagi.com ( http://www.kapanlagi.com/a/loft-of-my-life.html )
Setelah punya rumah, apa cita-citamu? Kecil saja: ingin bisa sampai di rumah saat senja supaya saya dan senja sempat minum teh bersama di depan jendela. - Joko Pinurbo
Tips:
- Pilih furnitur yang simpel, tak banyak pernik, dan ukuran midi (sedang).
- Salah satu dinding dapat dilapisi kaca yang mampu memberi kesan luas pada ruangan
- Perabot seperti lemari atau rak, pilihlah yang 'built in'
- Beri aksentuasi warna cerah pada bantal sofa, lukisan, atau bentuk furnitur yang bergaris dinamis dan modern
- Aksentuasi cukup pada 1-2 item di satu ruangan untuk pusat perhatian
Gambar: hasil googling dan dokumentasi stephendavid
Tuesday, December 9, 2008
A Cat In My Eyes, Karena Bertanya Tak Membuatmu Berdosa
| Rating: | ★★★ |
| Category: | Books |
| Genre: | Literature & Fiction |
| Author: | Fahd Djibran |
Premis itu yang menggerakkan Fahd Djibran menulis berbagai macam pertanyaan (yang tak seluruhnya bisa terjawab) ke dalam prosa, puisi, sketsa, dan cerita pendek yang terangkum dalam sebuah buku.
Judulnya sangat representatif dengan isi bukunya yang sekilas ‘ringan’ tapi ternyata bisa bikin kedua ujung alis kita bertemu juga. A Cat In My Eyes. Kucing di dalam mataku? Secara harafiah memang sedikit membingungkan. Tapi coba perhatikan hewan yang menjadi inspirasi Fahd ini; matanya tajam, selalu awas, dan curious. Dan Fahd pun sangat tepat mengumpamakan isi buku ini dengan mata kucing itu.
Penulis yang juga pendukung Persib ini mampu menenggelamkan pembaca sehingga pembaca tersadar akan segala pertanyaan yang dalam kehidupan sehari-hari terkesan biasa saja.
Walau kita yang membaca kebanyakan ikut merenungi sesuatu dan tidak mendapat jawaban secara gamblang, Fahd membebaskan diri kita sendiri untuk menemukan jawaban yang sesuai dengan kadar pengetahuan dan keimanan kita.
Coba baca bab “Pertem(p)u(r)an Dengan Tuhan”. Sisi spiritual Fahd membuat kita terharu sehingga kita berkaca pada diri sendiri kapan terakhir kali kita berjibaku dengan Tuhan.
Tapi, Fahd juga bisa ‘jahil’ dalam merangkai dan menentukan ending ceritanya. Saat kita membaca judul “Matamu Yang Sepi” dan membaca tiap alinea ceritanya, kata-kata yang tertulis sangat romantis bak pria sedang kasmaran. Tapi, kita sebagai pembaca akan ‘nyengir’ dan merasa sedikit ditipu Fahd kalau membaca bab ini sampai habis.
Atau buat para cewek, membaca bab yang berjudul “Cantik”, akan membayangkan perlakuan manis cowok kita saat mereka bilang kalau kita ini perempuan miliknya yang paling cantik sedunia. Hmmm…
Ke-27 bab tulisan Fahd ini memiliki benang merah meski cerita antara bab satu dan bab lain belum tentu sama. Kita seperti membaca curhatnya Fahd dalam hal hidup, perasaan cinta yang universal, kemisteriusan waktu, sampai keyakinannya pada Tuhan.
Latar cerita dari kehidupan sehari-hari menjadi kunci agar pembaca dapat dengan mudah memahami maksud dan pertanyaan Fahd yang banyak banget (siap-siap deh, ada banyak tanda tanya pada buku ini).
Namun, ritme keseluruhan cerita yang hampir serupa bisa jadi membuat pembaca harus tarik napas sebentar atau lanjut membuka halaman selanjutnya beberapa saat kemudian. Kata-kata dalam buku ini membuat kita berpikir, sih.
Untungnya, font dan grafis yang dipakai cukup simpel sehingga tidak bikin mata kicer. Eh, masih ingat buku yang berjudul Dunia Sophie? A Cat In My Eyes bisa dibilang satu tipikal dengan buku filsafat itu. Atau Filosofi Kopi karya Dee? Konsepnya memang agak mirip. Tapi, buku ini hadir dengan versi Fahd sendiri, tentunya. Dan Fahd masih punya banyak waktu untuk bereksplorasi sehingga bisa menelurkan karya-karya lain yang juga cerdas.
Tuesday, September 9, 2008
The Pony-Mad Princess 3:Teka-Teki Untuk Putri Ellie
| Rating: | ★★★★ |
| Category: | Books |
| Genre: | Childrens Books |
| Author: | Diana Kimpton |
Tahun terbit : Desember 2005
Tebal : 96 halaman
Tak sengaja saya menemukan buku mungil ini ditumpukan majalah bekas di salah satu kios terminal Senen. Warna sampulnya sangat ‘princessa’; pink dan kuning. Judulnya juga lucu yang bisa menggugah rasa ingin tahu pembaca dari segmen anak-anak. Ketika saya membuka-buka halaman buku ini, font-nya juga nyaman dimata. Plus ilustrasi sketsa gambar-gambar yang cute tentang karakter tokohnya. Saya langsung tawar dan dapat potongan harga sekitar 80% dari harga asli buku ini. Untuk keponakan saya? Hahaha. Bukan! Saya beli untuk saya sendiri.
Sayang, saya hanya dapat salah satu edisi dari keempat edisi serial Putri Ellie. Putri yang memiliki sifat sedikit bebal ini tergila-gila dengan kuda poni. Walau Raja dan Ratu sempat melarang Ellie (sang putri lebih suka dipanggil begini daripada Aurelia) karena tentu saja akan membuat putri tampak kotor dan bau. Soalnya, Ellie lebih memilih menunggang kuda poni dan membersihkan kandang kuda daripada menemani tamu kerajaan.
Putri Ellie sangat mencintai keempat kuda poninya. Ketika ia berkeliling hutan bersama sahabatnya, Katie, cucu juru masak kerajaan, kuda poni yang ditunggangi Ellie menolak untuk masuk lebih jauh ke dalam hutan. Apa Rainbow, kuda Putri Ellie, melihat hantu? Mereka pun merasakan sesuatu yang aneh ketika berada di hutan yang dingin. Tapi, Ellie malah makin penasaran dan berniat memecahkan teka-teki ini. Kira-kira benar ada hantu enggak, ya?
Apa yang membuat saya memberi empat bintang untuk novel anak-anak ini?
1. Putri Ellie sangat pemberani dan rendah hati. Ia tidak risih bersahabat
dengan cucu juru masak kerajaan.
2. Pecinta binatang.
3. Walau orangnya cuek, Putri Ellie tahu ia harus sopan ketika menemani
tamu kerajaan yang awalnya tidak ia sukai
4. Putri Ellie suka sebel karena tidak semua kamar dan pakaian seorang
putri harus berwarna pink ‘kan?
5. Putri Ellie tidak manja. Dengan senang hati ia merawat keempat kuda
poninya
6. Sayang, Putri Ellie suka malas menyisir rambut *Hihihi…*
7. Putri Ellie berjiwa feminis.
8. Putri yang cerdas
Thank God I’m female! Seperti kebanyakan gadis kecil lain, dari dulu saya suka cerita putri-putrian. Sampai sekarang saya pun mengoleksi serial Princess Diaries. Kartini juga saya anggap seorang putri walau ayah bundanya bukan raja dan ratu. Seorang putri tidak melulu menunggu pangeran berkuda dan hidup bak di negeri dongeng. Helllloooo.., seorang putri sejati adalah dia harus punya keberanian. Itu saja. Agar dia bisa menjaga dirinya sendiri dan tak seorang pun mampu membuat jiwanya mati.
Tuesday, July 15, 2008
Black Interview
| Rating: | ★★★ |
| Category: | Books |
| Genre: | Literature & Fiction |
| Author: | Andre Syahreza |
Penulis : Andre Syahreza
Penerbit : Gagas Media
Tebal : 240 halaman
Jakarta dengan segala problema dan kisah manisnya. Jakarta dengan segala atribut harapan dan simbol metropolitan dalam kemajuan zaman. Jakarta dengan segala aneka rupa dan karakteristik yang memberi sejuta warna. Seribu anekdot, pujian, dan kritik tentang Jakarta berpadu menghasilkan karya yang dituang dalam bentuk seni. Baik itu berupa sastra, lukisan, film, lagu, ataupun grafis.
Jakarta telah menginspirasikan banyak orang untuk menulis lika-liku dinamikanya. Ada banyak buku yang mengisahkan kehidupan masyarakat Jakarta yang tak pernah habis cerita. Tengok saja di jajaran rak toko-toko buku ternama. Karya kontroversial milik Moammar Emka menjadi salah satu yang mencuri perhatian masyarakat. Emka membeberkan kehidupan seks Jakarta”. Bukunya laris manis sampai terbit hingga beberapa edisi. Pun Seno Gumira Ajidarma (SGA) dengan “Affair”-nya menjadikan kota Jakarta sebagai inti isi karyanya.
Andre Syahreza, jurnalis yang matanya juga sangat terbuka lebar terhadap kisah manis getirnya Jakarta. Setelah mengumpulkan laporan jurnalistiknya menjadi sebuah buku The Innocent Rebel : Sisi Aneh Orang Jakarta (GagasMedia, 2006), pria ini kembali mengemas kisah kota kelahirannya dengan sudut pandang yang tentunya berbeda. Black Interview menjadi salah satu karyanya yang -boleh dibilang- lebih “bandel”.
Black Interview merupakan nama rubrik di majalah djakarta! sejak edisi ke-48 ketika djakarta! masih berbentuk majalah bulanan (hal. viii). Seperti dalam chapter “Classical Black” yang berisi wawancara imajiner dengan tokoh-tokoh bikinan Andre. Kemudian, Black Interview ini mengalami perubahan konsep di edisi 84 dengan menekankan setting waktu dan “terungkap” bagaimana keadaan Jakarta satu abad mendatang.
Memang bukan seluruhnya interview yang bisa ditemukan di buku ini. Pun bukan hasil ramalan Andre. Penyebab semua kisah Jakarta pada seratus tahun kemudian merupakan kebalikan dari logika-logika yang sedang terjadi kini. Apa yang bisa kita lihat sama-sama dari jakarte kite sekarang? Macetnya, penduduk padatnya, gubernurnya, budaya konsumerismenya, menjadi beberapa topik dari sekian banyak gambaran kehidupan Jakarta.
Jangan harap pembaca dapat menemukan wajah Jakarta yang cantik seratus tahun mendatang. Yang ada hanyalah orang gila, gubernur yang goblok, kota yang berbahaya, dan serangkaian hitamnya Jakarta yang membuat kita berpikir: jangan-jangan Andre juga ikutan gila. Cerita milik pria yang selama kurang lebih lima tahun sebagai editor-in-chief majalah djakarta! ini kental dengan aroma sarkastis. Andre mengklaim bukunya kali ini berkonsep baru, yakni black comedy - sindiran- dengan ending yang terkadang bikin gemas. “Manusia Bulan” dan “Danger Tour”, contohnya.
Membaca tulisan-tulisannya yang mirip cerpen, ada kekaguman terhadap cara Andre mengkonstruksi setting Jakarta dengan segala keanehan isi kotanya. Berpadu dengan tulisan yang dibuat layaknya penulisan berita, sepertinya kita akan “dipaksa” membuka halaman selanjutnya untuk ikut mereka-reka akan jadi apa Jakarta. Atau bisa jadi malahan sebaliknya. Kita jadi tidak kuat, muak, serta takut apa yang ditulis Andre ada benarnya juga. Semua tergantung interpretasi kita sebagai seorang pembaca. Toh, Andre punya hak untuk beropini ria.
Apakah keadaan Jakarta sekarang hanya akan mewarisi bobroknya Jakarta buat cucu-cicit kita nantinya? Banyak kalimat di buku ini sekilas membuat kita beranggapan bahwa Andre membenci Jakarta. Tapi, siapa tahu kalau jauh di alam bawah sadar Andre (juga kita) mencintai -dan justru SANGAT care dengan mengkritik- Jakarta?
-Rizky Adelia
Anggota aktif LPM Media Publica
Universitas Prof. DR. Moestopo (Beragama), Jakarta
Wednesday, June 18, 2008
Monday, May 26, 2008
Cantik Itu Luka
| Rating: | ★★★★ |
| Category: | Books |
| Genre: | Literature & Fiction |
| Author: | Eka Kurniawan |
Ada beberapa narasi yang mencuri perhatian saya. Salah satunya Eka menulis begini; Ada dua jenis perempuan yang bisa dicintai seorang lelaki; pertama perempuan yang dicintai untuk disayangi, kedua perempuan yang dicintai untuk disetubuhi.
HA! Pantas saja. Pelacuran tidak bisa diberantas dari muka bumi ini selama manusia masih memiliki kelamin. Paradigma kita tentang arti kata Cinta dan Cantik pun bisa saja jadi berubah. *tersenyum sambil menunduk*
Subscribe to:
Posts (Atom)