Showing posts with label Money Things. Show all posts
Showing posts with label Money Things. Show all posts

Sunday, March 3, 2013

Quarter Life of Century

Usia saya 26 tahun! Dengan suami yang luar biasa, bekerja di bidang yang baru, segera menempati rumah sendiri, sedang menyelesaikan tesis, keluarga yang masih lengkap, dan.... ternyata nikmat Tuhan itu sungguh tak bisa dihitung saking banyaknya! Astagfirullah... Nikmat Alloh mana yang saya dustakan?

Lantas, apa "REPELITA" saya? Repelita itu Rencana Pengembangan Diri Lima Tahun (hehehe..maksa). Terus terang, impian saya yang ada di depan mata saja. Kalau ketinggian, takut mati karena iri. Tak mau membandingkan dengan langit yang lebih tinggi, takut jadi kufur, tak mau bersyukur. Padahal, sebagai manusia kita hanya saling melihat. Lihat teman yang sudah punya anak, bahagia kelihatannya. Tahu teman naik jabatan, sukses namanya. Tapi, sebenarnya kita sadar, hidup pasti ada tidak sempurnanya. Kita pun setidaknya ada lebihnya. Apa alasan untuk tidak bersyukur?

Yang jelas, sekarang saya makin senang membaca artikel keuangan, bagaimana cara mengatur keuangan rumah tangga yang efektif, bagaimana menabung dengan hasil maksimal yang logis, bagaimana berinvestasi melalui produk keuangan yang sesuai kemampuan keluarga.Menjadi tambah kaya, itu bonus. Tapi yang lebih penting, bagaimana kita memanfaatkan rejeki yang datang untuk merasakan hidup yang berkecukupan, agar bisa terus beribadah di jalan-Nya. 

Dan saya belajar ini semua dengan melihat dan mendengar orang-orang di sekeliling saya. 

Beautiful cupcakes from my beautiful boss ^^



Sunday, November 18, 2012

Dapur, Sumur, Kasur (?)

Menikmati sebagai ibu rumah tangga bukan hal yang sulit, tapi juga bukan hal yang mudah. Memutuskan menjadi ibu rumah tangga pun bukan perkara mudah, tapi ternyata bukan perkara yang sulit juga. Saya tidak rindu dengan rutinitas pekerjaan, yang saya rindu adalah gaji dan asuransi kesehatannya. Hahahaa. Saya juga tidak keberatan jadi ibu rumah tangga, karena saya bisa belajar banyak hal meski hanya dari rumah.


Bagi saya, tidak perlu mempertanyakan kedomestikan perempuan. Ketika saya memutuskan untuk resign dan fokus pada pengerjaan tesis saya, satu soal itu saja saya mendapat dua sisi pendapat dari orang yang berbeda-beda. Pendapat dari seorang ibu dengan dua orang anak dengan level officer yang setara dengan saya, memberi tanggapan dengan:

"Baguslah, kita bisa berbakti pada suami, mengurus rumah tangga. Insya Allah dilancarkan semua."

Sedangkan ada pendapat dari seorang perempuan lajang level supervisor yang usianya pertengahan 30-an:

"Yah, sayang banget. Kamu masih muda, kesempatan kejar karir dulu."

Nah, bagaimana dengan suami saya?

"Tanggung jawab, aja. Serius selesaikan tesis dan cari kerja lagi. Kerjaannya gak usah muluk-muluk. Yang penting kamu ada kegiatan."

Akhirnya, disinilah pepatah, i am the hero of my own story membuktikannya. Hanya saya sendiri yang bisa memutuskan apa yang akan terjadi dalam hidup. Saya memutuskan untuk menuruti apa kata suami saya setelah saya memutuskan untuk off dulu dari dunia perkantoran. Untuk urusan on-off ini, izin suami adalah kemewahan yang ia berikan kepada saya. Karena saya pernah ditanya oleh teman kantor lama kenapa saya resign. Alasan saya pun sekenanya: 'ingin rehat dulu', dan teman saya itu langsung menyembur:

"Gilee, iri gue ada orang yang resign cuma pengen istirahat. Gue aja dari gue pertama kerja sampai sekarang belum pernah istirahat."

Itu derita Anda. Hehehee. Perempuan adalah pihak yang paling mudah diberi label sosial oleh masyarakat. Perempuan dengan karir tinggi, dipertanyakan 'kesuksesan'-nya mengurus tetek bengek rumah tangga. Perempuan dengan ibu rumah tangga, harus bisa membuktikan diri bahwa menjadi ibu rumah tangga bisa tetap gaul, baik dari segi kehidupan sosial dan pengetahuannya.

Padahal, pasangan kita sendiri (baca: suami) kebanyakan di era sekarang ini sudah membebaskan kedomestikan perempuan tersebut. Sudah jauh dari zaman kuda gigit besi dimana perempuan hanya hidup diantara dapur, sumur, kasur. Dengan catatan, perempuan juga selalu berusaha mengingat perannya dalam keluarga. Ada suami yang memang menginginkan istrinya mengurus anak-anak di rumah, tapi sang istri tetap ingin berkarir di luar rumah. Banyak. Ada suami yang sangat mempersilakan istrinya bekerja di luar rumah untuk membantu perekonomian keluarga, juga banyak. Sangat disayangkan, bagi pasangan (baik itu suami atau istri) yang mengekang keinginan pasangannya menggapai aktualisasi diri.

Toh, urusan privat ini bukan untuk menjadi bahan rumpian. Cukup direnungkan. Begitu pun tulisan ini menjadi masukan & pengingat untuk saya. Mau menjadi ibu rumah tangga atau tidak, itu sungguh hal yang sangat sangat pribadi. Menurut saya, kalau tidak diutarakan oleh orangnya langsung, sebaiknya kita tidak usah bertanya tentang status karir orang lain. Tapi, sayang, kita hidup di daerah timur ya. Terlalu peduli dengan urusan orang lain, sampai 'lupa' berkaca dan evaluasi terhadap diri dan keluarganya sendiri. Termasuk saya.

For our inputs on another issue:
http://www.inc.com/articles/201104/women-in-technology-face-uphill-battle.html -> the image above is also taken from the link

Sunday, August 23, 2009

Langkah Sederhana (Soal Uang) Dimulai Dari Sekarang


Date    : Happy Sunday
Place   : My messy bedroom
Mood   : Okay...
Song    : Work - Jimmy Eat World

Entah berapa kali saya merasa bahwa pengeluaran saya sudah mulai gawat. Saldo rekening lari entah kemana. Saya mengakui bahwa saya masih belum disiplin mengatur uang di saat sekarang ini ketika saya harus beradaptasi dengan busana formal ala wanita kantoran *menghembuskan napas*. Dan ternyata itu membutuhkan modal yang (ehm, sepertinya) tidak sedikit. Badan saya memang "gepeng" begini, tapi ukuran pakaian saya mesti 'L' lho! Memang ukuran L itu yang pas dengan tubuh. Jadi, produk Melawai dan ITC sering tidak muat. Huhuu....

Itu satu. Nah, tapi saya harus menabung walau nominalnya hanya 6 digit per bulan. Menghemat ongkos juga perlu walau badan saya tambah remuk dempet2an dalam bis. Dan bangun lebih pagi? Ouch, belum ada sesuatu atau seseorang yang bisa membuat saya mencintai bangun pagi kecuali untuk ibadah solat subuh.

Cara lain langkah sederhana lainnya dalam menyelamatkan isi kantong adalah menabung di celengan atau simpan uang tunai dalam rumah sisa kembalian. Walau satu tahun nominalnya tidak seberapa, tapi yang namanya nilai uang tetap harus disyukuri, 'kan?

Jika ada rezeki lebih, kenapa kita perempuan tidak membeli emas untuk invest? Saya tidak suka pakai perhiasan emas, jadi pasti saya simpan (tapi sampai sekarang saya menulis kalimat ini, uang saya belum terkumpul untuk beli emas..heheee...). Oke, menabung dan membeli emas. Setidaknya kita melakukan hal kecil dulu untuk memeluk segunung pundi yang (insya Allah) akan kita raih. Optimis harus, dong!

Yang jelas, sekarang ini kita harus tahu posisi kita ada dimana dalam menggunakan uang. Kalau saya, sekarang dengan penghasilan yang saya terima, saya boros dalam membelanjakan busana kerja, ongkos, dan makan. Oh, I couldn't resist it!

Jadi, begitu minggu depan sudah gajian, segera pos-kan pengeluarannya untuk apa saja, ya. Jangan dibelanjakan duluan baru di-pos-kan. Saya tahu, bicara lebih mudah daripada melakukan. Tapi setidaknya dimensi kognitif kita sudah bekerja dengan menyampaikan sinyal ke otak bahwa kita harus menabung. Yah, meski kadang aspek motorik kita bekerjanya lama untuk soal itu.


Happy Saving!

Friday, June 12, 2009

Pesta Buku Jakarta

Start:     Jun 27, '09 10:00a
End:     Jul 5, '09
Location:     Istora Senayan, Jakarta
Pameran buku lagi. Semoga diskonnya gede-gedean ya.. ;)