Showing posts with label Friendship Things. Show all posts
Showing posts with label Friendship Things. Show all posts

Wednesday, December 8, 2010

No Adios, Amigos!




Haduuuhhh..kangennya dengan blog-ku. Tak tahu mau menulis apa karena setahun belakangan ini:

1. Saya jadi malas membaca buku sampai tuntas dan meresapi isinya
2. Saya jarang menonton TV
3. Saya sudah tak sesering dulu berdiskusi dengan banyak orang
4. Saya terbenam dalam kosakata seputar asuransi (yang belum tentu saya pahami seratus
    persen)
5. Saya kangen berkata, "Besok, ya. Siang ini gue ada liputan."
6. Hypersomnia saya semakin menjadi-jadi
7. Saya tak kuat lagi keluyuran sampai tengah malam menghadiri sebuah event seni gratisan

Wednesday, May 6, 2009

Graduation Day 170309





Saya anggap ini adalah akhir dari cerita lika-liku sebagai mahasiswa. Tapi dunia menganggap hari ini adalah momentum saya harus hadapi dunia yang sebenarnya. Menyesal? Tidak! Saya anggap ini sebagian kecil dari aktualisasi diri. Sekarang, saya masih mempertimbangkan apakah saya ambil beasiswa S2-nya atau tidak.



Terima kasih banyak saya haturkan:
1.papa, mama, opi yg aku sayangi dgn setiap serat tubuhku
2.pak ipul dan pak yudi yg bersedia menjadi dosen pembimbing dan atas segala saran serta bantuan Bapak.
3. Isma, Eka, Puri, Riani, Novi, Zianita. I love u so much, gals...
4. Media Publica. What can i say? I'm 'bigger' because of u
5. Andreas Harsono dan Priyo Santosa atas teori jurnalistiknya
6. Kurie Suditomo Tempo atas kesediaannya utk saya wawancara
7. Mas Pepi yg mau benerin laptop saya
8. Teman2 yg sama2 puyeng di perpustakaan era Nov08-Feb09
9. Estu Santoso. Jangan pernah bosan berusaha & berdoa untuk kita yang lebih baik
10. Anda. Yang telah mewarnai hari-hari saya






Sunday, February 8, 2009

A Night in The Old Town







Actually, this is my “little project”. I have some intentions to re- design of my life. I think I should do some advantage things to improve my English, for instance, because I have less grammar. Okay, so I will tell u about my happiness because we sometimes must bored if someone tells u about sadness, right? (but it’s all OK if u had very generous friends).

On beautiful Wednesday afternoon, I and Puri treated our college friends at Blok M, somewhere in South Jakarta and many young people hang out with their fellows there. I know even though we’re slim women but we have an enormous taste for food. Any kinds of halal-food. So, we ate roasted chicken at the edge of Blok M area. And ribs. Ooohhh..what a food! ( I don’t tell u where the restaurant is. They don’t endorse us. Hahaha)

We’re women who called “wonder women”. While we’re together, we have to do some adventurous. No, no..we don’t want to go to malls. It just waste our (limited) budget. We usually do some fun, cheap, and the point is we take many pictures. Narcissism! FYI, Jakarta has no art if it only was built for jet-set-places. Since Jakarta has many artsy spots, we decided to get insane at Kota Tua. In English: Old Town. Whooo… (for more information, check it out: kotatua.blogspot.com. Or u can googling, guys, for details).

We know, the best thing in the world is when we’re happy, all beloved people laugh with us. But once we’re in sorrow, they will serve their shoulders with pleasure. I hope we’re belong together. Without stabing each other..

Monday, September 1, 2008

Petualangan Phonebook Menjelang Ramadhan

Ah, terlena dengan urusan pribadi masing-masing sampai saya hanya bisa bercengkerama via ponsel dengan kerabat menyambut bulan nan agung. Jempol saya lembur membaca pesan-pesan pendek di ponsel dari teman-teman yang mengucapkan selamat berpuasa dan memohon maaf agar lebih plong beribadah di Ramadhan. Dari kalimat pesan yang lucu, formal, sampai ada yang terkesan ‘garing’ diterima ponsel low-end milik saya.

 Tapi bagi saya tak peduli bagaimana kalimat yang dirangkai karena sebagian besar kalimatnya serupa. Siapa pengirimnyalah yang saya perhatikan. Walau nomor-nomor tujuan sudah terprogram semua di ponsel sehingga bisa saja teman saya itu hanya perlu menekan tombol ‘Select All’ setelah mengetik pesan (jadi terasa kurang intim ‘kan?).

 Ini yang membuat saya perhitungan ketika mengirim pesan ucapan selamat berpuasa atau selamat berlebaran karena saya tidak mau menekan tombol ‘Select All’ di daftar nomor tujuan. Pun niat saya mengirim SMS menjelang bulan puasa sesungguhnya adalah menjaga silaturahim dan bersyukur kita semua masih panjang umur. 

Saya sudah bertahun-tahun tidak ketemu si Anu ketika melihat namanya tertera di ‘Phonebook’. Apa matching kalau saya menyampaikan pesan; Marhaban-ya-Ramadhan-Mohon-Maaf-Lahir-Batin? Terakhir kali saya kirim SMS serupa dua tahun lalu. Selama ini kami sudah lama banget tak berhubungan meski kami bersahabat. Ehm, kalau begitu saya harus memutar otak untuk merangkai kalimat yang pas tapi tidak biasa dengan makna pesan; silaturahmi harus tetap terjaga meski hanya lewat ponsel dan setahun sekali saya kirim pesan pendek padanya. Intinya, saya masih ingat padanya dan saya harap dia masih mengingat saya.
Ketika saya melihat daftar si Fulan. Jempol saya tertahan lagi. Dia sudah tidak care dengan saya. Dia pun kerjanya kurang becus yang bikin kerjaan saya ikutan berantakan. Lagipula jabatan dan usia saya diatasnya. Kenapa saya yang SMS duluan? *Istigfar* Apa harus begitu juga saya memperlakukan manusia seperti mereka yang apatis? Dengan legowo saya kirim SMS padanya karena saya tidak seperti si Fulan itu.
Sekarang, mata saya terhenti pada sosok nama yang melegenda di hati. “Film-hitam-putih” terputar kembali dalam benak. Timbul sentimentil rasa rindu dan ingin menyampaikan pesan lebih dari sekadar ucapan selamat berpuasa setelah sekian lama terputus kontak.

 Asslm. Mas, apa kabar? Selamat berpuasa ya.   - Ah, biasa.
 Mas, masih ingat aku tak? Ini adelia. Masa lupa, sih? Kita kan mau puasa..  -Idih, genit amat.
 Asslm. Marhaban Ya Ramadhan. Semoga ridho Allah selalu menyertai kita. Bgmn kabar? Sekarang berdomisili dmn? Adelia.  -Yah, okelah, whatever. Send.
 Wlkmslm. Alhmdullh. Sama2. Saya di Bontang sekarang. Maaf, ini adelia mana, ya? Tahu nomor ini darimana?

 Oh! Jempol saya kaku. Ternyata saya belum siap dilupakan.
 
#Selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga kita semua menjadi pemenang di jalan Allah. Amin.

Monday, August 18, 2008

Dibalik Layar "GARIS MATI"






16 Agustus 2K8
Day ‘til night
Kampus merah putih

Jam 09.00 saya terbangun karena pesan pendek di ponsel dari Octi. Katanya masih diperlukan orang-orang untuk meramaikan dan mengisi di frame film pendek ini di kampus. Wah, heran. Anak-anak MP kan narsisnya luar biasa. Tumben kekurangan orang. Awalnya saya urung datang karena siang ini ada 2 janji yang harus saya tepati. Tapi, toh akhirnya, saya datang karena dimana ada keramaian pasti ada adel (bohong, ding!).

Singkat cerita, tujuan utamanya film ini ditayangkan ketika Jambore Fikom 08. Sisanya, mau dipasang di XXI *tampang datar*. Semangat bendera mandiri a.k.a independenlah pokoknya. Sebenarnya, saya bukan fotografer untuk mendokumentasikan dibalik layar film ini. Seperti yang saya bilang, saya hanya seorang dari tim hura-hura. Jadi, yang berkapasitas lebih untuk mempromosikan film ini anggota Media Publica angkatan 2006-2007. Mereka yang sudah pontang-panting memproduksi film pendek ini. Kami-kami ini (baca: senior) membantu apa yang bisa kami bantu selama itu hal positif.

Tapi yang pasti, film ini ‘owkeyy’ karena dibantu figuran yang tak diragukan lagi profesionalnya. Hahaha. Sekali gitu, ternyata bagian saya kepotong karena saya masuk hanya dua scene kalau tak salah. Ah, biar! Pak produser, honor saya mana neeehhhh…??? :-)

Info lengkap hubungi :
Moci MP’07 : 021-98855037
Qori MP’06 : 085692211995
@MPdotco