Showing posts with label Photography Things. Show all posts
Showing posts with label Photography Things. Show all posts

Wednesday, November 28, 2012

Pelabuhan Sunda Kelapa, Tua Tapi Tak Dilupa

Bisa dibilang Jakarta adalah kota pantai. Tapi, jangan bayangkan seperti di kota-kota pantai lain yang bisa dengan bebas dipandangi lautannya. Misalnya, Bali, Makassar, Ambon, atau daerah di Indonesia bagian tengah dan timur. Di Jakarta, mau nyebur ke laut saja mesti bayar masuk Taman Impian Jaya Ancol. Mengingat kota pantai tersebut, pelabuhan di DKI Jakarta tidak hanya Tanjung Priok. Ada lagi yang lebih oldies, yaitu Pelabuhan Sunda Kelapa. Sama-sama di Jakarta Utara. Namun, Pelabuhan Sunda Kelapa ini menyimpan keistimewaan sendiri dibanding 'saudara'-nya, Pelabuhan Tanjung Priok.

Kita masih bisa melihat kapal-kapal kayu Pinisi, kapal kebanggaan Indonesia yang (saya percaya) nenek moyangnya pelaut. Buruh-buruh kapal kebanyakan berasal dari Sulawesi atau Maluku. Mereka mengangkut barang untuk dikirim hanya antar pulau saja. Tidak seperti di Tanjung Priok. Barang itu bisa berupa bahan-bahan bangunan dan tekstil. Sambangi saja di sore hari. Keadaannya sudah tidak terlalu riuh. Sambil menikmati cantiknya mentari senja juga boleh. Coba rasakan atmosfir lain ibukota di pelabuhan ini.

Di sekitar Sunda Kelapa, adalah pasar ikan dan Museum Bahari. Lebih keren lagi jika tempat-tempat bersejarah seperti Sunda Kelapa dan Museum Bahari tetap diperhatikan sebagai aset pariwisata ibukota. Tak hanya dilupakan, tapi juga dirawat dan dimaksimalkan. Karena ibukota Jakarta memendam segudang cerita sejarah yang seharusnya memang tak diabaikan begitu saja...














Foto-foto diatas saya ambil tahun 2008 menggunakan kamera poket Exilim seri jadul, sampai saya lupa seri kameranya. Kota tua yang menyimpan kecantikan terpendam dalam kelusuhannya.

Wednesday, November 7, 2012

Nostalgia bersama TK Batutis, Bunga Matahari Di Ladang Pelangi


Setelah menikah, saya dan suami mencoba untuk mengkonstruksi masa depan bagi keluarga kami. Setahun menjalani pernikahan yang seru (ya, dalam arti kata sebenarnya), meski kehidupan kami berdua belum dihiasi tangis dan tawa bocah kecil sang buah hati. Itu betul-betul absolut kuasa Tuhan, sambil berusaha, saya dan suami saya pun menerawang, memiliki anak asuh yang bisa kami bantu dia sekolah agar bisa mandiri. Ah, tapi itu masih jauh. Sekarang kami masih hanya mampu menabung untuk kebutuhan hidup kami berdua.

Tapi, niat itu sedikit menggelitik batin dan pikiran saya.

Saya pernah merasakan keindahan “berbagi” itu. Mengabadikannya. Empat tahun lalu, dilatarbelakangi oleh keinginan saya mendapat nilai sempurna di mata kuliah Fotografi Jurnalistik, saya menemukan tempat yang bisa memenuhi misi saya waktu itu. TK Batutis. Baca-tulis-gratis. Saya mendapat informasi tentang sekolah itu dari Majalah Gatra, yang memuat review buku “Rumah Kisah: Selamat Datang Di Garasi” ditulis oleh Siska Y. Massardi, tak lain adalah pendiri sekolah tersebut. Hmm, pikir saya waktu itu seru juga. Dan begitu tahu tempatnya di Bekasi, saya nyengir. Jauh amat dari rumah saya di Cempaka Putih. Tapi, ternyata semuanya berjalan tak sesulit yang saya bayangkan. Berhasil menghubungi Ibu Siska dan membuat janji, saya siap menyambangi TK Batutis.

TK Batutis Al-Ilmi adalah TK gratis untuk anak-anak dhuafa yang didirikan oleh Ibu Siska. Dengan semangatnya dan orang-orang terdekat di sekitarnya, TK Batutis sudah berkembang. Saya lihat di linimasa Facebook milik Ibu Siska, TK Batutis sudah memiliki lahan sendiri plus mendirikan SD. Akhirnya, impian tim TK Batutis waktu itu alhamdulillah kini sedikit demi sedikit tercapai.
Entah ada semangat apa waktu itu hingga saya bersedia menempuh perjalanan hampir dua jam hanya untuk foto dengan tema anak-anak. Saya pun tidak mempersiapkan peralatan khusus jika dikatakan ingin photo-shoot. Saya hanya membawa kamera saku. Tiga kali datang di siang hari, dalam beberapa jam saya ikut kegiatan mereka.

Saya berkenalan dengan beberapa guru yang waktu itu keseluruhan adalah perempuan. Saya pun mencoba berbincang dengan anak-anak usia TK yang belajar di sana. Kesahajaan. Itulah atmosfir yang saya hirup dari suasana disana. Di garasi rumah Ibu Siska, mereka menjalankan kegiatan belajar-mengajar. Large classroom in small space. Mungkin itu ungkapan tepat. Alat-alat tulis, krayon, kertas, poster berhitung, gambar-gambar hewan, rak-rak buku, terbilang lengkap mengajak anak-anak menggambar, mewarnai, mengenal huruf dan angka, dan semua hal yang mendukung kegiatan bermain sambil belajar. Tidak cuma di kelas, anak-anak pun diajak menonton film DVD tentang edukasi  dan belajar shalat. Sungguh, mereka ini adalah anak-anak yang manis. Di balik kepolosan mereka, tersimpan bekal harapan besar orang tua mereka supaya mereka tidak juga mengalami hidup prihatin. Oh iya, mereka juga  melakukan sebagian kegiatan kelas di teras rumah tetangga Ibu Siska yang bersedia dipakai sebagai tempat belajar anak-anak batutis. Ah, lagi-lagi indahnya berbagi...

Bicara tentang langkah mulia yang Ibu Siska ambil tak akan ada habisnya. Beliau punya keinginan kuat untuk mengembangkan Batutis Al-Ilmi. Terlihat dari progres yang beliau buat dengan mengikuti pelatihan-pelatihan metode pendidikan dan terus mengembangkan sarananya. Then, I got the message. Jika seseorang betul-betul ikhtiar mewujudkan impiannya, entah bagaimana semesta ikut membantunya mencapai impian itu. Beliau tak hanya seorang guru, tapi seorang pembelajar. TK Batutis sebagai sekolah unggulan bagi dhuafa juga sudah dipublikasikan beberapa media massa.
Tapi, ulasan saya ini bukan memuja Ibu Siska dan TK Batutisnya. Saya hanya terharu dan amazed ternyata semangat seorang guru bisa begitu besarnya. Saya tahu ada banyak guru-guru luar biasa lain yang mempunyai kualitas unggul dan turut berkontribusi terhadap dunia pendidikan di Indonesia. Saya ingin bertemu dengan guru-guru lain yang menciptakan atmosfir baru, yang bisa menggugah semangat anak-anak didiknya untuk memiliki harapan. Dan saya pun bisa belajar dari bapak dan ibu guru ini. Seorang guru dihormati, karena ia mampu menunjukkan kepada anak didiknya bahwa ia memiliki pengetahuan luas dan pikiran serta hati yang terbuka. Menjadi role-model bagi siswa-siswinya. Ini menjadi tabungan pengetahuan dan pengalaman saya untuk menjadi orang tua kelak. Orang tua yang tidak hanya memberi komando, tapi juga mengajak anaknya bergandengan melihat dunia seperti seorang teman. Hmmm, ingin rasanya main ke Batutis lagi.
Lantas, bagaimana dengan misi penyelesaian tugas akhir kuliah fotografi jurnalistik saya? Well, mission accomplished! Waktu itu, dengan penuh percaya diri saya menyerahkan esai foto TK Batutis ini kepada dosen. Hasilnya? Huruf A pun terpampang di transkrip nilai saya. :-)
Ketika aku paham...
Bahwa aku betulan merasakan alam adalah sekolahku
Semua orang adalah guruku
Aku bisa melihat relung dalam mata letihmu walau samar
Ada segenggam bekal yang akan engkau berikan
Dan aku bawa untuk perjalanan usia senjaku

Jadi, kala kita sudah sama menjadi orang yang tua
Ayolah,
Maukah kau berdansa denganku lagi?
Aku tahu bagaimana balas budi
Walau tuaku nanti tak punya apa-apa lagi
Dan aku hanya mampu memberi ini...

Sekuntum bunga matahari
Yang dulu pernah kita tanam di padang pelangi
Aku rindu usapanmu
Dan aku akan terus menghormatimu...
Dengan apa adanya dirimu, guruku 

Thursday, November 1, 2012

Cerita Panggung & Kamera Saku

Kamera saku terbaik yang saya punya adalah Casio Exilim yang saya beli tahun 2006. Harganya masih sekitar Rp. 2,5 juta dengan 10 MP. Dia menemani saya liputan, jalan-jalan, menangkap momen, sampai akhirnya karena kecerobohan saya sendiri, lensanya bengkok lantaran terjatuh. Hiks. Masih saya simpan di laci lemari. Saya masih ingin memperbaikinya. Meski saya punya kamera saku yang baru. 

Foto-foto berikut adalah hasil bidikan saya, sebagian besar dari Casio Exilim yang sudah tidak keluar lagi serinya itu dan Sony Alpha DSLR-A200. Bidikan foto-foto lama, yang saya ekspor dari multiply.


Nidji, bintang tamu di acara penghargaan tahunan Agen Asuransi Commonwealth Life

Salah satu pemain Wayang Orang Bharata sedang merias diri
Satu setengah jam sebelum pentas di panggung Wayang Orang Bharata

Sunday, February 8, 2009

A Night in The Old Town







Actually, this is my “little project”. I have some intentions to re- design of my life. I think I should do some advantage things to improve my English, for instance, because I have less grammar. Okay, so I will tell u about my happiness because we sometimes must bored if someone tells u about sadness, right? (but it’s all OK if u had very generous friends).

On beautiful Wednesday afternoon, I and Puri treated our college friends at Blok M, somewhere in South Jakarta and many young people hang out with their fellows there. I know even though we’re slim women but we have an enormous taste for food. Any kinds of halal-food. So, we ate roasted chicken at the edge of Blok M area. And ribs. Ooohhh..what a food! ( I don’t tell u where the restaurant is. They don’t endorse us. Hahaha)

We’re women who called “wonder women”. While we’re together, we have to do some adventurous. No, no..we don’t want to go to malls. It just waste our (limited) budget. We usually do some fun, cheap, and the point is we take many pictures. Narcissism! FYI, Jakarta has no art if it only was built for jet-set-places. Since Jakarta has many artsy spots, we decided to get insane at Kota Tua. In English: Old Town. Whooo… (for more information, check it out: kotatua.blogspot.com. Or u can googling, guys, for details).

We know, the best thing in the world is when we’re happy, all beloved people laugh with us. But once we’re in sorrow, they will serve their shoulders with pleasure. I hope we’re belong together. Without stabing each other..

Monday, August 18, 2008

Dibalik Layar "GARIS MATI"






16 Agustus 2K8
Day ‘til night
Kampus merah putih

Jam 09.00 saya terbangun karena pesan pendek di ponsel dari Octi. Katanya masih diperlukan orang-orang untuk meramaikan dan mengisi di frame film pendek ini di kampus. Wah, heran. Anak-anak MP kan narsisnya luar biasa. Tumben kekurangan orang. Awalnya saya urung datang karena siang ini ada 2 janji yang harus saya tepati. Tapi, toh akhirnya, saya datang karena dimana ada keramaian pasti ada adel (bohong, ding!).

Singkat cerita, tujuan utamanya film ini ditayangkan ketika Jambore Fikom 08. Sisanya, mau dipasang di XXI *tampang datar*. Semangat bendera mandiri a.k.a independenlah pokoknya. Sebenarnya, saya bukan fotografer untuk mendokumentasikan dibalik layar film ini. Seperti yang saya bilang, saya hanya seorang dari tim hura-hura. Jadi, yang berkapasitas lebih untuk mempromosikan film ini anggota Media Publica angkatan 2006-2007. Mereka yang sudah pontang-panting memproduksi film pendek ini. Kami-kami ini (baca: senior) membantu apa yang bisa kami bantu selama itu hal positif.

Tapi yang pasti, film ini ‘owkeyy’ karena dibantu figuran yang tak diragukan lagi profesionalnya. Hahaha. Sekali gitu, ternyata bagian saya kepotong karena saya masuk hanya dua scene kalau tak salah. Ah, biar! Pak produser, honor saya mana neeehhhh…??? :-)

Info lengkap hubungi :
Moci MP’07 : 021-98855037
Qori MP’06 : 085692211995
@MPdotco

Tuesday, June 24, 2008

KALA AKROBAT MENJELAJAHI DUNIA DIGITAL

 

Oleh : Rizky Adelia / Foto-foto: Indah Pratiwi
João Paulo P. Dos Santos dan Guillaume Dutrieux menampilkan sirkus kontemporer dalam rangkaian Printemps Français di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat.

João, pemain akribat pada tiang dan Guillaume, pemain terompet, berkolaborasi menyuguhkan pertunjukan sirkus kontemporer. Kedua seniman ini menjelajahi dunia artistik yang unik dan gerakan tubuh yang melampaui hukum gravitasi. Pertunjukan mereka ini mengajak Anda pada batas realitas dengan persepsi visual yang bercampur aduk serta ruang suara berlipat ganda. Video dan unsur elektronik mengambil peran penting dengan membuat pemain berlipat ganda berkat gambar dan suara.

Ketika Anda duduk dan menikmati ambience ruang di sekitarnya, jangan harap Anda akan menyaksikan peralatan-peralatan seperti tali-temali, holahoop, atau properti sirkus yang biasa Anda saksikan zaman dahulu. Yang ada hanya sebuah tiang dan alat musik synthesizer berukuran mungil.

Sirkus kontemprer ini berlangsung sekitar 60 menit dengan harga tiket Rp.30.000,00 per orang untuk kelas balkon dan Rp. 50.000,00 per orang untuk kelas festival. Hampir semua tempat duduk terisi oleh penonton yang terdiri dari para ekspatriat, wartawan, mahasiswa, serta keluarga yang mengajak anak-anak mereka menyaksikan sirkus ’langka’ di Indonesia.

Kedua seniman ini memiliki keinginan yang sama untuk berkreasi dan memilih ”sirkus baru” (sirkus kontemporer) sebagai cara untuk mengekspresikan rasa seni mereka. João Paulo P. Dos Santos belajar di sekolah sirkus Chapitõ dari tahun 1996 hingga 1999 di Lisbon, kota kelahirannya. Lalu ia melanjutkan ke sekolah Sirkus Rosny hingga 2001. ia bergabung dengan Cie Cheptel Alëikoum yang anggotanya terdiri dari siswa angkatan ke-15 sekolah seni sirkus nasional Châlons en Champagne. Ia bergabung hingga 2003  untuk pertunjukan LeCirqle arahan Roland Shön. Ia juga berpartisipasi pada pertunjukan Océans et Eutopie karya Philippe Genty (1998) dan Ring karya Félix Ruckert (2002).

Sedangkan Guillaume Dutrieux adalah pemain terompet lulusan Konservatorium kota Paris dengan spesialisasi jazz. Ia banyak bekerja sebagai musisi atau komposer dengan berbagai grup atau pertunjukan musik dengan aliran yang berbeda-beda, seperti Sacre Du Tyman (jazz), Bosster (electro), Compagnie du Soleil Bleu (teater) dan Alpha Bondy (reggae). Tahun 2003, ia bertemu dengan Cie Cheptel Alëikoum dan tim Roland Shön. Ketika itu, Dutrieux bekerja sebagai pengarah musik dan akhirnya memutuskan untuk beralih aliran. Ia berniat sepenuhnya berorientasi pada proses penciptaan musik segala rupa. Musik dan suara berkaitan erat dengan proses penciptaan sebuah pertunjukan.

Pada malam itu, Anda akan ’dipaksa’ mengarungi sebuah seni pertunjukan yang sureal dan digitalisasi yang memukau.

Wednesday, March 19, 2008

Teater Monolog Sarimin by Butet Kertaarajasa




Art Summit tahun lalu di TIM menghadirkan pementasan teater MOnolog yang dibawakan Butet. Walaua saya nonton sendiri dan untuk liputan Media Publica saya sangat menikmatinya. Salut buat Butet, Kill The DJ, and all crews.

Saturday, March 1, 2008

Bjork, ke Jakarta Lagi, Dong..

 

12 Februari 2008, penyanyi Islandia yang eksentrik ini konser di Tennis Indoor, Jakarta. Indonesia adalah satu2nya negara di Asia Tenggara yang didatanginya, lho! Konser Volta Tour Bjork ini seperti biasa dikemas menjadi tontonan yang sangat menarik. Hahaha. Konyol bgt saya bisa bilang menarik.Padahal saya tidak menontonnya. Saya hanya bisa merengut saja ketika baca liputan konsernya di majalah2. Yang menjadi nilai plus, aksi teatrikal, kostum unik, dan peralatan musik yang canggih. Ah, seharusnya saya bisa masuk. Seharusnya... *tampang lemas*

P.S: Fotonya saya 'colong' dari dokumen kantor Sindo/Eko Purwanto. Hihihi..Fotonya bagus kok, Mas Akung..

Saturday, January 26, 2008

Wisata Cap Go Meh by Komunitas Jelajah Budaya




Komunitas Jelajah Budaya mengadakan acara Wisata Cap Go Meh di Kota. Pokoknya keliling Chinatown di jakarta dah. Gw pergi sama Kiki dan Opi. Seru juga liat pawai dan kuil2 yang masih Cina banget! Budaya Indonesia ternyata memang sangat kaya. Terlepas dari unsur SARA, mereka (warga Tionghoa) berhak hidup damai dan tenang menjalankan kepercayaan dan kebudayaannya

Wednesday, January 2, 2008

Kobongan di Senen




Jakarta (24/12) - Bangunan ruko yang menjadi kantor salah satu RW di bilangan Terminal Senen terbakar akibat korsleting listrik ruko sebelah kantor RW. Tak ada korban jiwa dan saya tidak mencari tahu berapa kerugian akibat kebakaran tersebut. Petugas pemadam mampu memadamkan api hanya dalam waktu satu jam. Hal ini disebabkan warga cepat ambil tindakan dengan segera menghubungi pemadam pada saat api belum menjalar ke ruko sebelahnya,

Tuesday, September 18, 2007