Showing posts with label Blog Things. Show all posts
Showing posts with label Blog Things. Show all posts

Friday, March 31, 2017

To-Be-(More)-Courageous Survivor!

Tepat seminggu lalu, dunia memperingati hari TB sedunia, 24 Maret. Tanpa bermaksud apa-apa, saya tidak menyangka akan menjadi bagian di dalamnya 😆 Sebenarnya, agak konyol, sih, saya curhat di blog ini. Toh, orang akan bisa membaca blog ini kan, ya? Tapi mungkin cerita saya ini bisa diambil sedikit hikmah buat Anda. Bagaimanapun itu. Karena ternyata saya dan Anda bisa jadi jauh lebih beruntung.

I saw a sign. Ada kejadian berulang. Entah ini sebuah tanda atau apa. Tahun 2007, akhir Januari saat saya dirawat inap karena demam berdarah, sempat terbersit di kepala saya ini, DB bisa membuat saya mati jika telat diobati. Tapi, kewaspadaan itu hanya sebentar saja. Tiga bulan kemudian, kecelakaan lalu lintas membuat saya 6 bulan harus berada di rumah dan cuti kuliah. Disaat waras, saya pikir saya diberi kesempatan hidup kedua oleh AllahSWT. Disaat otak saya miring (Hehehe..), air mata saya berderai-derai saat mau tidur dan saat sembahyang.

Etapi, memang Allah itu Maha Bercanda, ya. Setelah masa tenang saya memasuki usia 20-an, saya seperti diberikan "jalan terbaik". Sepuluh tahun kemarin merupakan usia 20-an yang sangat berkesan. Tidak selalu diatas, tidak juga dibawah terus. Tapi, ada banyaaaaak sekali pembelajaran yang membuat saya bergumam, "Ooohh, ini tho maksud-mu Gusti Allah," Sambil senyam senyum sendiri.

Satu dekade sudah berlalu. Di ulang tahun saya yang ke-30 ini, ternyata saya sakit. Demam naik turun, badan lelah luar biasa, sesekali batuk kering,dan nyeri dada sebelah kanan, terutama saat tidur menghadap kanan. Bolak-balik rawat jalan, obat yang diberikan tidak mempan, akhirnya saya dipaksa suami untuk hospitalized. Dokter observasi khususnya di bagian dada yang diduga menjadi keluhan utama. Foto thorax, tes mantoux, tes dahak, cek darah, cek USG, akhirnya saya ditangani dokter paru dan disarankan untuk sedot cairan yang memenuhi pleura sebelah kanan. Dikira cairannya hanya 500 ml, ternyata pas disedot mencapai 1.2 L. Takjub juga sih, kok gak berasa gitu ya, di badan? Sampai saya keluar RS, dokter paru belum final memvonis saya TB, walaupun 90% mengarah ke penyakit itu. Meski tes mantoux negatif, ya. Lima hari nginep di RS dan keluar hari Senin, Jumatnya saya diminta untuk kontrol pertama dengan membawa semua hasil lab dan radiologi selama saya diopname.

Yak, Sodara- sodara, ternyata betul sekali prediksi dokternya. Saya ingat betul, 10 Februari 2017, saya officially mengidap TB 😊. Analisis cairan pleura yang menguatkan perkataan dokter karena ada bakteri TB yang hidup di cairan tersebut. Seems like.... well, okay, hmm.. any better? Hehehee..  Alhamdulillah, TB saya ada di pleura dan tidak menyebabkan menular. Asal saya bersedia diterapi selama 9 bulan dan tidak putus obat. Dan saya baru tahu, pengobatan TB itu gratis, tis, di luar suplemen, ya. Saya sempat cari second opinion dengan membawa rekam medis. Pernyataan dokter kedua senada. TB. Okay, then! The show must go on, Dear!

Otak miring saya kambuh lagi. Gimana dengan program hamil saya? Kalau melamar kerja dan MCU, sudah pasti ga diterima, terus piye? Terus, lanjut biaya recovery kalau saya resign kerja gimana? Gimana stigma orang-orang sekeliling sama penderita TB? Karena aku berkaca pada diriku sendiri yang punya persepsi lain terhadap mereka (hikkss.. aku menyesal!). Makin tua, kok, makin gak karuan gini ya, mikirnyaaaa...  Saya juga gak nyangka, perasaan saya makin sensitif sampai suami selalu jadi korban kelimbungan saya ini. Saya memutuskan untuk merahasiakan dulu penyakit saya ini kepada orang-orang terdekat, termasuk orangtua saya. Jadi, sekarang yang betul-betul tahu cerita saya sakit TB hanya suami, adik saya, dan dua orang di kantor. Tapi, dukungan suamilah yang paling.... hmm... stop aja deh, bisa-bisa saya mbrebes mili dan gak lanjut ngetik 😐

Hampir dua bulan ini, efek samping yang saya rasakan adalah sedikit mual, jantung berdebar-debar (hanya di minggu pertama minum obat), buang air besar jadi lebih lancar di pagi hari(untung tidak diare), dan rasa letih yang masih belum hilang. Saya berusaha untuk menjalani hidup seperti biasa. Sampai saya menulis ini, saya sudah seperti orang normal saja, kecuali selalu harus ingat bawa obat kemana-mana setiap hari dan rutin kontrol sesuai jadwal yang diberikan dokter.

Jujur, meski saya optimis penyakit saya ini akan sembuh dengan obat dan support dari suami, tapi secara mental dan psikologis, saya benar-benar limbung. Cemas dan stres yang sangat sangat sangat tinggi, seakan ini puncaknya, karena sampai lelah ke badan juga. Sebenarnya, saya kasihan sama suami saya dan menahan perasaan saya ini, tapi malah hanya ibarat menunggu gunung api meledak saja. Sebab, apapun bisa mengganggu pikiran dan hati saya.

Nyatanya, sabar saja gak cukup. Masih ada ikhlas yang sepertinya, kok, susah ya di tahap itu. Itu membuat saya kepingin nangis sendiri. Seringkali. Mungkin sekarang ini Allah mengajak saya "bercanda". Tapi. saya belum bisa tertawa. Time will heal the pain, ceunah. Saya yakin saya akan bisa tertawa atas candaan Tuhan ini.

Nanti.

Kalau saya udah ngerti.


Tuesday, December 4, 2012

Bye, My (Account of) Multiply!

Semenjak saya sudah intensif berada di rumah mulai Oktober lalu, saya berhasrat lagi untuk menulis di blog. Ada dua account, di platform Multiply dan di Wordpress. Khusus di Wordpress, itu ada blog join dengan suami. Sedangkan di Multiply adalah blog yang sudah setia menemani kehidupan saya dari 2007. Memang sudah lama saya tidak menengok ke Multiply, sampai akhirnya ada pengumuman bahwa konten blog harus dimigrasi ke layanan platform free blog yang lain karena Multiply akan ditutup untuk blog curhatan (eheheee..bercanda).

Tapi, sejak ekspansi Multiply ke Indonesia, Multiply sudah punya arah lain menjadi salah satu situs e-commerce. Keseriusan ini dengan membuka headquarter office di Indonesia sejak beberapa tahun lalu. Sempat kaget juga, sih, karena artinya segudang konten gambar dan teks harus saya pindahkan, meski Multiply bertanggung jawab memberikan panduan cara memindahkan konten ke platform blog baru. Ya, sudah, jadilah saya pilih platform Blogspot ini.

Ternyata fitur yang disediakan Blogspot lebih menarik ketimbang Multiply. Lebih user-friendly daripada Wordpress. Tapi, saya tidak bisa memindahkan semua konten blog lama ke blog baru ini. Berat dan makan waktu lumayan lama. Hiks, karena setiap "curhatan" pasti ada kenangannya.


So, goodbye my Multiply. Laman itu lama-lama akan menjadi fosil sejarah tentang bidadarikesunyian.

Wednesday, November 28, 2012

Pertemuan Pendek




image: smashingmagazine.com
 
"Apa kamu tersesat, Nona?"

Perempuan itu mendelik dan bergidik ketakutan. Sekujur tubuhnya basah oleh keringat, lumpur, dan sedikit darah di lengan baju kanannya. Pria itu muncul dari semak-semak. Namun, suara semak-semak dari arah lain mengusik mereka berdua.

"Saya dikejar. Mereka mau menangkap saya." Perempuan itu bangun dan bergegas lari.

"Nona mau kemana?" teriak si Pemuda.

"Tidak tahu. Menjauh dari mereka!"

Si Pemuda mengejar perempuan yang ia panggil Nona. Sampai tiba di ladang jagung, mereka berhenti dan mengambil napas panjang-panjang. Mereka kelelahan.

"Kamu mau kemana, Nona?" tanya si Pemuda jengkel.

"Kenapa kamu mengikuti saya? Yang penting saya lari agar mereka tidak menangkap saya. Saya tidak mau dijodohkan. Saya tidak mau menikah dengan pria yang sama sekali tidak saya cintai!"

"Hah? Kenapa?" si Pemuda kebingungan.

"Karena hidup saya hanya untuk Krisna. Saya harus ketemu Krisna sekarang."

Pria itu terus membujuk si Nona pulang. Nona meronta menolak. Nona balik memaksa pria itu untuk terus berjalan. Ketika Nona mengatakan dimana Krisna tinggal, pria itu tersentak dan menolak mengantar.

"Tidak! Tidak mungkin. Di kampung itu, semuanya sudah mati!"

Makin histeris si Nona mendengar perkataan si Pemuda. Nona berlari sambil si Pemuda mengejarnya. Matahari sudah hampir terbenam. Si Pemuda akhirnya mengantar Nona yang syok bukan kepalang ke tempat si Nona mau.

Benar, setiba mereka di sana kampung itu sudah habis. Yang tersisa hanya runtuhan bangunan, pakaian yang berserakan di tanah, dan abu dari sisa-sisa rumah yang terbakar.

Nona terdiam lalu memandang ke empat penjuru mata angin. Si Pemuda melihat si Nona menatap nanar ke arah selatan. Dalam hitungan detik yang lambat, Nona berlari ke tebing. Selang hitungan detik yang cepat, pria itu tinggal sendiri di kampung yang teronggok sepi.

Tuesday, September 9, 2008

JOB HUNTER ERA SATU ABAD LAMPAU

Dikutip dari milis sahabatmuseum@yahoogroups.com.

Membayangkan saya hidup sekitar 100 tahun yg lalu sebagai pencari kerja dan membaca pengumuman yang seperti ini:

PENGOEMOEMAN !!!
DAG INLANDER,... ..HAJOO URANG MELAJOE,...KOWE MAHU KERDJA???
GOVERNEMENT NEDERLANDSCH INDIE PERLU KOWE OENTOEK DJADI BOEDAK
ATAOE TJENTENK DI PERKEBOENAN- PERKEBOENAN ONDERNEMING KEPOENJAAN

GOVERNEMENT NEDERLANDSCH INDIE DJIKA KOWE POENYA SJARAT DAN NJALI BERIKOET:

1. Kowe poenja tangan koeat dan beroerat
2. Kowe poenja njali gede
3. Kowe poenja moeka kasar
4. Kowe poenja tinggal di wilajah Nederlandsch Indie
5. Kowe boekan kerabat dekat pemberontak- pemberontak ataoepoen maling ataoepoen mereka jang soedah diberantas liwat actie politioneel.
6. Kowe beloem djadi boedak nederlander ataoepoen ondernemer ataoe toean tanah ataoe baron eropah.
7. Kowe maoe bekerdja radjin dan netjes.

KOWE INLANDER PERLOE DATANG KE RAWA SENAJAN DISANA KOWE HAROES DIPILIH LIWAT DJOERI-DJOERI JANG BERTOEGAS :

1. Keliling rawa Senajan 3 kali
2. Angkat badan liwat 30 kali
3. Angkat peroet liwat 30 kali

Kowe mesti ketemoe Mevrouw Shanti, Meneer Tomo en Meneer Atmadjaja
Kowe nanti akan didjadikan tjentenk oentoek di Toba, Buleleng, Borneo, Tanamera, Batam, Soerabaja,Batavia en Riaoeeiland.
Governement Nederlandsch Indie memberi oepah :

1. Makan 3 kali perhari dengan beras poetih dari Bangil
2. Istirahat siang 1 uur.
3.Oepah dipotong padjak Governement 40 percent oentoek wang djago. Haastig kalaoe kowe mahoe..

Pertanggal 31 Maart 1889 Niet Laat te Zijn Hoor.. Batavia 1889 Onder de naam van Nederlandsch Indie Governor Generaal H.M.S Van den Bergh S.J.J de Gooij

( Iklan ini benar-benar asli kutipan dari koran bertahun

1889 diambil di perpustakaan nasional )



Friday, August 29, 2008

EVERY WOMAN SHOULD....

MAYA ANGELOU'S BEST POEM EVER

A WOMAN SHOULD HAVE .....
enough money within her control to move out and rent a place of her own
even if she never wants to or needs to...

A WOMAN SHOULD HAVE ....
something perfect to wear if the employer or date of her dreams wants to
see her in an hour...

A WOMAN SHOULD HAVE ...
a youth she's content to leave behind....

A WOMAN SHOULD HAVE ....
a past juicy enough that she's looking forward to retelling it in her
old age....

A WOMAN SHOULD HAVE .....
a set of screwdrivers, a cordless drill, and a black lace bra...

A WOMAN SHOULD HAVE .....
one friend who always makes her laugh... and one who lets her cry...

A WOMAN SHOULD HAVE ....
a good piece of furniture not previously owned by anyone else in her
family...

A WOMAN SHOULD HAVE .....
eight matching plates, wine glasses with stems, and a recipe for a meal
that will make her guests feel honored...

A WOMAN SHOULD HAVE ....
a feeling of control over her destiny...

EVERY WOMAN SHOULD KNOW...
how to fall in love without losing herself..

EVERY WOMAN SHOULD KNOW...
HOW TO QUIT A JOB,
BREAK UP WITH A LOVER,
AND CONFRONT A FRIEND WITHOUT RUINING THE
FRIENDSHIP.. .

EVERY WOMAN SHOULD KNOW...
when to try harder... and WHEN TO WALK AWAY...

EVERY WOMAN SHOULD KNOW...
that she can't change the length of her calves, the width of her hips,
or the nature of her parents..

EVERY WOMAN SHOULD KNOW...
that her childhood may not have been perfect...but its over...

EVERY WOMAN SHOULD KNOW...
what she would and wouldn't do for love or more...

EVERY WOMAN SHOULD KNOW...
how to live alone... even if she doesn't like it...

EVERY WOMAN SHOULD KNOW...
whom she can trust,
whom she can't,
and why she shouldn't take it personally.. .

EVERY WOMAN SHOULD KNOW...
where to go...
be it to her best friend's kitchen table...
or a charming inn in the woods...
when her soul needs soothing...

EVERY WOMAN SHOULD KNOW...
what she can and can't accomplish in a day...
a month...and a year...

Tuesday, August 19, 2008

Pinka & Biru




Saya tinggal di Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Polusi? Jangan ditanya. Kawasan pun sudah padat. Tapi, setiap pagi ketika saya shalat subuh, masih bisa terdengar kicau burung gereja dan burung lain yang saya tidak tahu apa. Rasanya tenteram banget. Mereka masih suka hinggap di atap balkon depan jendela kamar saya dan nangkring di tali tiang listrik seperti Pinka dan Biru itu.

Sampai kapan mereka akan menemani saya ketika "curhat" dengan Kekasihku? Ada pohon mangga besar yang berusia lebih tua dari saya (mungkin sudah 25 tahun). Semoga pemilik rumah tetap mempertahankan pohon itu supaya saya masih bisa menikmati nyanyian burung-burung mungil di pagi hari.

P.S: Stop Illegal Logging

Tuesday, June 24, 2008

KALA AKROBAT MENJELAJAHI DUNIA DIGITAL

 

Oleh : Rizky Adelia / Foto-foto: Indah Pratiwi
João Paulo P. Dos Santos dan Guillaume Dutrieux menampilkan sirkus kontemporer dalam rangkaian Printemps Français di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat.

João, pemain akribat pada tiang dan Guillaume, pemain terompet, berkolaborasi menyuguhkan pertunjukan sirkus kontemporer. Kedua seniman ini menjelajahi dunia artistik yang unik dan gerakan tubuh yang melampaui hukum gravitasi. Pertunjukan mereka ini mengajak Anda pada batas realitas dengan persepsi visual yang bercampur aduk serta ruang suara berlipat ganda. Video dan unsur elektronik mengambil peran penting dengan membuat pemain berlipat ganda berkat gambar dan suara.

Ketika Anda duduk dan menikmati ambience ruang di sekitarnya, jangan harap Anda akan menyaksikan peralatan-peralatan seperti tali-temali, holahoop, atau properti sirkus yang biasa Anda saksikan zaman dahulu. Yang ada hanya sebuah tiang dan alat musik synthesizer berukuran mungil.

Sirkus kontemprer ini berlangsung sekitar 60 menit dengan harga tiket Rp.30.000,00 per orang untuk kelas balkon dan Rp. 50.000,00 per orang untuk kelas festival. Hampir semua tempat duduk terisi oleh penonton yang terdiri dari para ekspatriat, wartawan, mahasiswa, serta keluarga yang mengajak anak-anak mereka menyaksikan sirkus ’langka’ di Indonesia.

Kedua seniman ini memiliki keinginan yang sama untuk berkreasi dan memilih ”sirkus baru” (sirkus kontemporer) sebagai cara untuk mengekspresikan rasa seni mereka. João Paulo P. Dos Santos belajar di sekolah sirkus Chapitõ dari tahun 1996 hingga 1999 di Lisbon, kota kelahirannya. Lalu ia melanjutkan ke sekolah Sirkus Rosny hingga 2001. ia bergabung dengan Cie Cheptel Alëikoum yang anggotanya terdiri dari siswa angkatan ke-15 sekolah seni sirkus nasional Châlons en Champagne. Ia bergabung hingga 2003  untuk pertunjukan LeCirqle arahan Roland Shön. Ia juga berpartisipasi pada pertunjukan Océans et Eutopie karya Philippe Genty (1998) dan Ring karya Félix Ruckert (2002).

Sedangkan Guillaume Dutrieux adalah pemain terompet lulusan Konservatorium kota Paris dengan spesialisasi jazz. Ia banyak bekerja sebagai musisi atau komposer dengan berbagai grup atau pertunjukan musik dengan aliran yang berbeda-beda, seperti Sacre Du Tyman (jazz), Bosster (electro), Compagnie du Soleil Bleu (teater) dan Alpha Bondy (reggae). Tahun 2003, ia bertemu dengan Cie Cheptel Alëikoum dan tim Roland Shön. Ketika itu, Dutrieux bekerja sebagai pengarah musik dan akhirnya memutuskan untuk beralih aliran. Ia berniat sepenuhnya berorientasi pada proses penciptaan musik segala rupa. Musik dan suara berkaitan erat dengan proses penciptaan sebuah pertunjukan.

Pada malam itu, Anda akan ’dipaksa’ mengarungi sebuah seni pertunjukan yang sureal dan digitalisasi yang memukau.

Friday, June 20, 2008

STORY OF JAKARTA

Start:     Jun 14, '08 10:00a
End:     Jun 22, '08
Location:     Darmawangsa Square the Citywalk
Dalam rangka merayakan HUT Jakarta ke-481,
Creative Culture, Darmawangsa Square dan The Occasion
menyelenggarakan berbagai acara
yaitu:

Pameran Foto Kota Tua
Hasil karya 5 fotografer muda
(Nancy Tenlima, Priyagung Adhitama, Windy Miftah,
Poer Soebagyo, Dodit Wijanarko)
Foto-foto Gedung Lawas di Jakarta hasil pindai dari
Museum Sejarah Jakarta

Pameran Lukisan
Oleh Kelompok Pelukis dan Penulis Indah Pasar Baru
(S.Wito, Eko Bandhoyo, Agus S, Eeng S, Fathul Muin, Arif JAG,
Diedith K, Nano, Nanang, Nandang, Djustru, Osman Effendy,
Meshadi, Asep, Irma Gayatri)

Pameran Betawi
Makanan, Mainan, dll

Bertempat di Darmawangsa Square the Citywalk
Jl. Darmawangsa VI, Jakarta Selatan
Tanggal 14-22 Juni 2008

ART PERFOMANCE
Saksikan tari-tarian dan musik betawi
22 Juni 2008
Pk.13.00 – selesai
Darmawangsa Square the Citywalk
Jakarta Selatan

GRATIS
Mohon Sebarkan

Salam,
Alin SP Apriliani
0818819944 – 081317969944

Tuesday, May 27, 2008

Mencintai Seperti Sang Matahari

 
Andai manusia bisa saling menyayangi seperti itu. Tapi nyatanya, homo homini lupus... Termasuk saya.

Monday, May 26, 2008

Tribute To Munir




JAKARTA (23/5/08)- Kantor Berita Radio (KBR) 68H dan Komite Aksi Solidaritas Untuk Munir (KASUM) menyelenggarakan peluncuran Album Untuk Munir di Yayasan Kontras, Jl. Borobudur, Menteng, Jakarta.

Desain kampanye tentang Munir kali ini dikemas dalam bentuk lomba cipta lagu untuk Munir. Musikus Jockie Soerjoprajogo, Penyanyi Tri Utami, dan Aktivis Usman Hamid menjadi juri yang telah menilai 132 peserta lomba hingga mampu memilih sepuluh lagu terbaik dan tiga lagu terfavorit dari lagu tersebut.

Mereka yang terfavorit adalah Doddy B. Jatmiko dari Yogyakarta dengan lagunya “Pahlawan Sejati”, Neps Band dari Jakarta dengan lagunya “Selamat Jalan Pahlawan Hak Asasi, dan Nur Iman dari Jakarta dengan lagunya, “Untukmu”. Mereka menerjemahkan sosok Munir ke dalam lirik dan syair lagunya sesuai dengan pengetahuan dan pengenalan mereka akan tokoh Munir, kiprahnya sebagai pejuang hukum dan HAM, serta kasus pembunuhan Munir.

Acara ini tentunya dihadiri oleh Suciwati, istri Munir, dan para sahabat Munir yakni Butet Kertarajasa, Jay Subiakto, Benz Leo, dan Wanda Hamidah. Efek Rumah Kaca juga turut mengisi acara dengan membawakan tiga lagu populernya.

Kegiatan soft launching ini hampir ujung dari rangkaian panjang alur kegiatan yang dimulai dari Oktober 2007 hingga Mei 2008. Rangkaian kegiatan tersebut meliputi pengumpulan materi lagu untuk lomba, penjurian, pengumuman pemenang, produksi album, launching, dan konser.

Ide untuk membuat Album Untuk Munir (AUM) merupakan dukungan moral bagi upaya pengungkapan kasus pembunuhan Munir. AUM hadir untuk menggaungkan isu Munir lewat bahasa yang lebih populer hingga menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Wednesday, April 23, 2008

Kereta Api Funky


Rating:★★★★
Category:Other
Kereta api listrik jadi alat transportasi murah sekaligus sampah di Jabotabek. Bayangkan kalau KRL disulap menjadi seperti kereta api di Jepang ini. Perjalanan jd super duper menyenangkan, kan? Tapi, siap2 sakit mata. Hehehe. Kreatif ya mereka!

IKEA, produsen furnitur asal Jepang mendesain gerbong tersebut dengan berbagai macam produk mereka seperti sofa dan gorden (curtain) yang dapat membuat kita tidak berasa di dalam sebuah gerbong kereta api. Semua ini mereka lakukan sebagai bagian dari promosi atas dibukanya cabang baru IKEA di kota Kobe.

Sumber: otakku.com

Kalo di Jepang, mungkin bisa bertahan lama keindahannya. Kalau di Jakarta? Ga janji deh

JIBRIL DAN ADEL

Ruang NCU/ICU

Jibril :
Adel, tidakkah kamu memperhitungkan bahwa kamu akan bertemu denganNya?

Adel:
Aku khilaf..

Jibril:
Bukankah Allah telah memberikan kepadamu usia muda? Bagaimana kamu menggunakannya? Bukankah Allah telah memberimu umur panjang? Bagaimana kamu menghabiskannya? Tidakkah Allah telah menganugerahimu kekayaan? Untuk apa kamu membelanjakannya? Bukankah Allah telah memuliakanmu dengan ilmu pengetahuan? Apa yang kamu kerjakan dengan ilmu yang ada pada dirimu?

Adel:
Ampuni hamba...

Jibril:
Tidakkah kamu malu terhadapNya? Kamu sengaja melakukan perbuatan buruk di depanNya tapi justru merasa sungkan kepada makhluk ciptaanNya dengan menonjolkan kebaikan di depan mereka? Apa menurutmu Dia lebih rendah daripada hambaNya? Bukankah Dia yang memberi anugerah padaMu? Apa yang membuatmu berpaling dariNya? Apa kamu tak mengira kalau Dia mengawasimu? Dan bahwa kamu tak dibawa kehadapanNya?

Adel:
Demi Allah yang jiwaku berada ditanganMu, mohon ampuni hamba..

Aku tersadar. Mataku sudah basah. Keluarga dan temanku mengelilingi tempat tidurku. Jahitan di kepalaku yang botak. Jarum dan selang infus menembus kulit. Mesin detak jantung berbunyi. Nafas yang sesak. Dinginnya ruangan. Aku menengok ke kanan. Matahari masih bersinar. Aku melihat ke kiri. Perempuan tidur dengan tabung oksigen dan mesin pencuci darah. Aku menatap ke atas. Apa yang terjadi. Aku harus hidup. Ibu menaikkan selimut ke dada. Aku kembali tidur. Valium mengalir dalam darah. Aku terima ikhlas kuasa absolut Tuhan. Tapi, saat ini, Tuhan, aku ingin bisa tetap hidup.



Wednesday, January 2, 2008

Kobongan di Senen




Jakarta (24/12) - Bangunan ruko yang menjadi kantor salah satu RW di bilangan Terminal Senen terbakar akibat korsleting listrik ruko sebelah kantor RW. Tak ada korban jiwa dan saya tidak mencari tahu berapa kerugian akibat kebakaran tersebut. Petugas pemadam mampu memadamkan api hanya dalam waktu satu jam. Hal ini disebabkan warga cepat ambil tindakan dengan segera menghubungi pemadam pada saat api belum menjalar ke ruko sebelahnya,

Tuesday, September 18, 2007

“PDKT” ala Ilmu Komunikasi

Minggu lalu, saya bertemu dengan sahabat lama saya. Awalnya kami hanya mengobrol biasa layaknya perjumpaan sepasang kawan lama. Tapi, lama-lama jadi ajang curhat masalah pribadi, termasuk masalah romansa.

Rupanya dia sedang jatuh hati pada seorang mahasiswi yang sama-sama mengikuti kelas mata kuliah Nirmana di Teknik Arsitektur salah satu universitas di Jakarta. Kebetulan, dari dulu sahabat saya itu termasuk pria inferior jika menyangkut urusan seperti ini. Belum tahu dia kalau ilmu komunikasi juga bisa dimanfaatkan untuk pendekatan (bahasa gaulnya: PDKT). Maka, terjadilah percakapan lama karena saya berusaha “membagi” ilmu yang saya dapat di bangku kuliah kepadanya.

Dalam ilmu komunikasi yang menurut para ahli merupakan ilmu terapan terdapat berbagai teknik komunikasi. Salah satunya adalah teknik komunikasi persuasif. Saya memberitahu sahabat saya itu untuk mengaplikasikan teknik ini dalam “misi”-nya. Namun, teknik ini agak sulit dibandingkan dengan teknik komunikasi lainnya (komunikasi informatif, komunikasi instruktif, dan hubungan manusiawi) karena komunikasi persuasif bertujuan untuk mengubah sikap, pendapat, atau perilaku komunikan yang lebih menekankan pada kegiatan psikologis. Penekanan ini dimaksudkan untuk mengetahui perbedaan antara persuasi dengan koersi. Walaupun sama-sama mengubah sikap, pendapat, atau perilaku, tetapi persuasi dilakukan dengan halus, luwes, yang mengandung sifat-sifat manusiawi sehingga mengakibatkan kesadaran dan kerelaan yang disertai perasaan senang. Sedangkan koersi berupa perintah, instruksi, bahkan suap, pemerasan, dan boikot.

Agar komunikasi persuasif mencapai tujuan dan sasarannya, maka perlu dilakukan perencanaan yang matang. Yang harus diperhatikan adalah komponen-komponen ilmu komunikasi yaitu komunikator, pesan, media, dan komunikan. Seorang komunikator yang ciamik harus mempersiapkan berbagai hal. Komunikator harus terlebih dahulu melakukan komunikasi intrapersonal: berkomunikasi dengan diri sendiri, bertanya pada diri sendiri, untuk dijawab oleh diri sendiri. Siapa komunikan yang akan dijadikan sasaran? Untuk pertanyaan ini sahabat saya sangat yakin akan jawabannya. Jika benar seorang, apa pekerjaannya, hobinya, pendidikannya, agamanya, dan sebagainya. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan diatas sangat bergantung pada pemakaian media yang harus dipilih dari sekian banyak media. Untuk masalah ini, sahabat saya memilih salah satu media nirmassa yaitu telepon. Bila semua sudah beres, tinggal bagaimana menata pesan yang akan disampaikan agar mencapai tujuan yang diinginkan.
Namun sebelum melangkah lebih jauh, saya harus meyakinkan sahabat saya itu bahwa seorang komunikator harus berbicara dan membahas suatu topik dengan menunjukkan kesungguhan sehingga komunikan percaya terhadap apa yang dikatakannya. Bisa juga menyelipkan suatu humor. Seperti Winston Churcill -mantan Presiden Amerika Serikat- yang dikenal sebagai ahli pidato. Ia biasa menyisipkan humor kedalam pidato-pidatonya semasa Perang Dunia II, tetapi ia selalu berupaya agar menimbulkan kesan bahwa ia tetap serius dalam menghadapi masalah politik.

Selain itu, komunikator harus membawa kesan kepada komunikan bahwa ia berhati tulus dalam niat dan perbuatannya. Ia harus hati-hati untuk menghindarkan kata-kata yang mengarah kepada kecurigaan terhadap ketidaktulusan komunikator (sahabat saya itu langsung mengelak bahwa dia tulus “memandang” wanita itu tidak dari materi, tapi inner beauty. Bagus!). Ketenangan dalam penampilan dan dalam mengutarakan kata-kata juga faktor yang penting. Jika komunikator bersikap tenang, ia akan dapat mengorganisasikan pikiran, perasaan, dan hasil penginderaannya secara mantap dan terpadu. Keramahan dan kesederhanaan juga merupakan faktor penting karena jika komunikator bersikap ramah, komunikan akan simpati. Keramahan tidak berarti kelemahan, tapi pengekspresian sikap etis. Begitu pula kesederhanaan. Kesederhanaan tidak hanya menyangkut hal-hal bersifat fisik, tapi juga dalam penggunaan bahasa sebagai alat penyaluran pikiran dan perasaan.

Kesederhanaan seringkali menunjukkan keaslian dan kemurnian sikap. Contohnya Bung Hatta. Semasa berperan sebagai pemimpin bangsa Indonesia, sejak menjadi mahasiswa, wakil presiden, dan sampai akhir hayatnya, mulai dari pakaian, perilaku, sampai pengucapan kata-kata, semuanya sederhana. Pakaian tidak dilebih-lebihkan, perilaku menunjukkan keteladanan, dan ketika berbicara dalam segala situasi komunikasi, tidak menggunakan kata-kata yang muluk dan ingkar dari realitas.

Ada tiga cara dalam menata pesan yang akan disampaikan. Pertama, teknik asosiasi, yaitu dengan cara menumpangkan penyajian pesan pada objek atau peristiwa yang sedang menarik perhatian khalayak. Misalnya, dalam suatu kampanye pemilihan umum, ketenaran band Slank yang mempunyai banyak massa digunakan suatu partai politik untuk merebut hati rakyat. Kedua, teknik integrasi. Ini berarti bahwa, melalui kata-kata verbal maupun nonverbal, komunikator menggambarkan bahwa ia “senasib” -dan karena itu menjadi satu- dengan komunikan yang mengandung makna bahwa yang diperjuangkan komunikator bukan untuk kepentingan diri sendiri, melainkan juga kepentingan komunikan. Teknik integrasi ini ternyata juga digunakan oleh tentara Amerika Serikat. Pada atribut seragam tentara yang biasanya dipasang di kerah jas, bukan inisial USA, melainkan US, yang bermakna selain United States, juga pronoun dari “we” atau kita. Maksudnya bahwa tentara Amerika Serikat adalah tentara kita, tentara rakyat. Ketiga, teknik ganjaran (pay off technique), adalah kegiatan dengan cara mengiming-iming hal yang menguntungkan atau menjanjikan harapan.

Teknik ini lawannya adalah fear arousing technique, yang bersifat menakut-nakuti atau menggambarkan resiko yang buruk. Dalam kampanye Keluarga Berencana sering menggunakan kedua teknik ini. Pay off technique menunjukkan betapa bahagianya memiliki dua anak saja, sedangkan fear arousing technique memperlihatkan betapa repotnya sebuah keluarga yang beranak banyak. Keempat, teknik tataan (icing, baca: aising), adalah seni menata pesan dengan emotional appeal sedemikian rupa, sehingga komunikan menjadi tertarik perhatiannya. Bisa dianalogikan dengan kue yang baru dikeluarkan dari panggangan yang ditata dengan lapisan gula warna-warni sehingga kue yang tadinya tidak menarik menjadi indah dan memikat. Dalam hubungan ini komunikator mempertaruhkan kepercayaan komunikan terhadap fakta pesan yang disampaikan. Kelima, teknik red-herring. Seninya teknik ini adalah meraih kemenangan dalam perdebatan dengan mengelakkan argumentasi yang lemah kemudian dijadikan untuk menyerang lawan. Bagi seorang diplomat atau tokoh politik ini sangat penting untuk mempertahankan diri atau menyerang secara diplomatis. Tentunya sebelum terjun ke arena dengan menggunakan teknik ini, komunikator harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang.

Demi berhasilnya komunikasi persuasif, perlu dilaksanakan secara sistematis. Ada suatu formula yang biasa disebut AIDDA yang dijadikan landasan pelaksanaan. AIDDA adalah singkatan dari Attention (perhatian), Interest (Minat), Desire (Hasrat), Decision (Keputusan), dan Action (Aksi). Berdasarkan formula tersebut, dalam melakukan kegiatan itu dimulai dengan menumbuhkan perhatian. Senyum yang tersungging di wajah yang cerah juga sudah cukup menimbulkan perhatian komunikan. Bila perhatian sudah berhasil dibangkitkan, selanjutnya adalah menumbuhkan minat. Upaya ini bisa berhasil dengan mengutarakan hal-hal yang menyangkut kepentingan komunikan. Sebab itu, komunikator harus mengenal komunikannya. Tahap berikutnya adalah memunculkan hasrat pada komunikasi untuk melakukan ajakan, bujukan, atau rayuan komunikator. Disini emotional appeal perlu ditampilkan komunikator sehingga pada tahap berikutnya komunikan mengambil keputusan untuk melakukan suatu kegiatan atau aksi yang diharapkan komunikator.

Tata cara pentahapan komunikasi persuasif ini bisa diketahui hasilnya dalam beberapa saat, tapi sayangnya juga bisa bertahun-tahun. Akibat yang ditimbulkan juga bisa berdampak kognitif, afektif, dan atau behavioral. Jika berdampak kognitif, komunikan hanya mengetahui saja. Sedangkan dampak afektif, komunikan bukan hanya sekedar tahu, tapi tergerak hatinya dan menimbulkan perasaan tertentu. Yang paling tinggi kadarnya adalah dampak behavioral, yakni dampak yang timbul pada komunikan dalam bentuk perilaku, tindakan, atau kegiatan.

Terlepas dari percaya atau tidaknya sahabat saya itu terhadap penjelasan saya yang panjang lebar, yang jelas ini semua berdasarkan suatu ilmu yang kebenarannya telah diuji dan digeneralisasikan. Tidak sadar, langit sudah senja. Akhirnya kami harus berpamitan. Setidaknya, sahabat saya itu membawa wawasan baru. Semoga dia tidak menyesal karena memilih kuliah dijurusan yang bukan ilmu komunikasi ;)
(adhelya)


BOROBUDUR MINI ITU TERNYATA PANTUN

Berawal dari ketidaksengajaan dan hasrat untuk melepas penat, ruang redaksi dipenuhi kata-kata yang tersusun menjadi sebuah pantun (walau rima dan susunannya sering tidak “nyambung”). Suatu hiburan tersendiri bisa membuat satu bait pantun dan pantun tersebut bisa membuat orang lain tersenyum.Saling melempar, meledek, membalas, hingga akhirnya tersadar bahwa pantun adalah warisan budaya verbal yang sudah ada sejak Nusantara masih memiliki raja-raja dan pantun (ternyata) belum dilupakan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pantun adalah bentuk puisi Indonesia (Melayu), tiap bait biasanya terdiri dari empat baris yang bersajak (a-b-a-b), tiap larik biasanya terdiri dari empat kata, baris pertama, baris pertama dan baris kedua biasanya untuk tumpuan (sampiran) saja dan baris ketiga dan keempat merupakan isi.

Bisa dikatakan bahwa pantun itu ibarat gula dan garam. Dalam praktik sehari-hari, pantun menjadi penyedap atau pemanis bahasa sebagai alat komunikasi. Puisi atau sajak, atau pantun, atau bentuk sastra nonprosa pada umumnya (gurindam, talibun, soneta, tersina, stansa, kwatrin, septima; asli maupun impor) sering dianggap sebagai pilar bahasa, atau sari-pati dari kebudayaan kata. Di dalamnya ada kekuatan magis dari kata dan bunyi. Karena itu, pantun sering dipakai untuk menenangkan massa, menyihir manusia, membungkam ular, memanggil hujan, bahkan mengantarkan arwah ke alam baka. Selain itu pantun juga berfungsi sebagai media pendidikan dan pencatat sejarah.

Apa yang membuat pantun menjadi populer? Sederhana saja. Pantun adalah properti publik, atau kekayaan masyarakat yang paling nyata. Ia bisa menyatukan, membuat banyak orang merasa punya kelompok dan kaya, meskipun hanya dalam kata-kata. Pantun yang diwariskan turun-temurun, dari generasi ke generasi, bernilai seperti harta pusaka. Dalam banyak hal, warisan nonfisik yang dimiliki berbagai suku bangsa di Indonesia mungkin bisa memberi sedikit hiburan.Dengan kata lain, kalau mau melihat kebesaran masa lalu di negeri yang serba lisan, lihatlah pantun atau lagu-lagu rakyatnya. Pantun, sama seperti kerajinan terakota di zaman Majapahit, serba kecil, unik, tetapi mengisyaratkan kebesaran dan kemurahan hati atau kekayaan spiritual masyarakatnya. Ada pantun kentrung dari Jawa Timur, dendang pauah dan kato pusako dari Ranah Minang. Ada juga sastra lisan Saluan dari Sulawesi Tengah dan sastra lisan Lio dari Flores. Dalam upacara adat di beberapa daerah (Gorontalo, Bima, Minangkabau, Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali) juga selalu bertumpu pada puisi, khususnya pantun-pantun lokal. Yang paling banyak, tentu pantun Melayu.

Perkataan yang berkaitan sirih pinang banyak digunakan di dalam pantun, puisi, pepatah dan gurindam serta bidalan Melayu. Pantun merupakan puisi tradisi Melayu yang di dalamnya tersirat kehalusan budi dan ketajaman pikiran. Di dalam pantun mengandung sebuah pepatah, perumpamaan atau disebut juga, kata orang tua. Selain itu terkandung juga perkataan bijaksana menyangkut pengalaman hidup dan digunakan sebagai pembanding, tauladan, dan pengajaran.

Dalam kebudayaan Sunda, seni pantun adalah seni pertunjukan yang menampilkan sang juru pantun dengan cerita yang dibawakannya. Cerita tersebut disampaikan dengan cara ditembangkan yang diiringi perangkat kecapi pantun yang dimainkan oleh sang juru pantun. Pertunjukan ini hanya dilakukan oleh seorang saja, yakni sang juru pantun. Cerita-cerita yang dibawakannya biasanya berputar pada kisah kerajaan Pajajaran dan sekitarnya, serta mitos-mitos yang tersebar di masyarakat. Cerita pantun Sunda yang cukup terkenal di antaranya Mundinglaya Di Kusumah, Lutung Kasarung, serta Lutung Leutik.

Ada banyak permasalahan yang bisa diangkat dalam pantun, misalnya tentang kemanusiaan. Bahayanya, terkadang muncul pelecehan terhadap etnis, kurang sadar jender, dan perlu peningkatan wawasan multikultural. Pantun memang rawan terhadap pelesetan, lebih-lebih yang berbau fanatisme, humor fisik, dan eksploitasi lingkungan.
Berikut ini pantun karya Sutan Takdir Alisjahbana, "Di mana Tuan Di Sana Sahaya" :

Kalau tuan pergi ke Tanjung

Kirim saya sehelai baju

Kalau tuan menjadi burung

Sahaya menjadi ranting kayu.

Kalau tuan pergi ke Tanjung

Belikan sahaya pisau lipat

Kalau tuan menjadi burung

Sahaya menjadi benang pengikat

Begitu terus berlanjut sampai delapan bait. Pesannya tegas dan hanya satu: hubungan dekat yang terus-menerus diperjuangkan. Bait ke delapan atau yang terakhir pantun Melayu klasik itu berbunyi:

Kalau tuan mencari buah

Sahaya pun mencari pandan

Jikalau tuan menjadi nyawa

Sahaya pun menjadi badan.

Sangat jelas bahwa sasaran setiap pantun adalah komunikasi intens dan mendalam di antara pemakai bahasa. Pantun diciptakan sebagai landasan, dermaga, atau jalan raya komunikasi manusia. Karena itu, salah satu hal yang paling esensial adalah khasiat pantun untuk memperdalam kesan. Hal yang paling sepele pun bisa lebih indah, mendalam, dan serius di dalam pantun. Sebaliknya, hal yang serius, berat, dan membebani bisa diperingan. Contohnya adalah pantun-pantun yang memberikan hiburan, pantun jenaka, teka-teki, dan permainan. Meskipun punya kemungkinan menyindir atau melecehkan, pantun pun bisa menjadi hiburan dan kritik simbolis. Pantun jenaka menyajikan humor-humor yang monumental dan tahan lama.

Dari mana datangnya lintah

Dari sawah turun ke kali

Dari mana datangnya cinta

Dari mata jatuh ke hati

Atau sekadar contoh pantun-pantun yang sangat karikaturis. Misalnya:

Jual pepaya dengan kandil

Kandil buatan orang Inggris

Melihat buaya menyandang bedil

Sapi dan kerbau tegak berbaris.

Sekarang, merangkai pantun itu gampang-gampang susah. Tantangannya adalah bagaimana membuat keindahan bahasa tetap menarik di tengah derasnya idiom-idiom baru yang dilansir teknologi komunikasi dan ledakan informasi. Namun, bila mau bercermin pada pantun lama, resep bahwa akhir suku kata mesti a-b-a-b seyogyanya dipegang teguh. Yang tidak kurang pentingnya adalah jumlah suku kata yang berkisar 8-12 suku kata per baris juga harus diperhatikan. Keteraturan, kejernihan dalam berpikir, dan kecerdasan menggunakan kata-kata adalah modal utama bagi pencipta pantun yang baik.

Fungsi-fungsi pantun dan puisi konvensional pada umumnya cukup luas. Pertama adalah sebagai pengawal pola berpikir. Keteraturannya, pola, rima, dan estetikanya mendorong pemakai bahasa berhati-hati dalam bicara. Kita sering mendengar nasihat, pikir dulu sebelum bicara. Hal itu memang benar adanya. Maka, jangan heran kalau ada pendapat bahwa pantun bisa mendorong masyarakat berbicara lebih sopan, lebih berbudi pekerti.

Selain itu pantun juga menciptakan entitas kelompok dan memberikan memori kolektif. Di antaranya telah sering kita dengar dalam lagu-lagu, seperti Keroncong Kemayoran, Si Paku Gelang, Kicir-kicir, Dayung Sampan, Lenggang Kangkung, dan banyak lagi. Semua lagu berpantun itu memberikan peluang improvisasi seluas-luasnya. Artinya, pantun membuat rakyat leluasa berkreasi (menciptakan dunia) dengan bahasanya. Dari sanalah tercipta kebersamaan. Semakin sering ada kesempatan berpantun (baca: berkreasi), bisa diharapkan semakin kuat pertemanan atau persaudaraan. Syaratnya tentu diperlukan pantun-pantun bermutu. Bukan hanya komunikatif, tetapi juga menyentuh hati dan menawarkan harapan, atau kenangan bersama.

Dalam arsitektur kata-kata, pantun menjadi sebuah "borobudur mini" yang (semoga) akan terus dijaga dan dinikmati semua generasi, baik tua maupun muda. Betapa ruginya bangsa kita jika harta pusaka ini lenyap ditengah pamor budaya pop yang semakin menggurita. (AdeL)
*dari berbagai sumber