Saya baru menonton film The Vow akhir pekan lalu di salah satu saluran tv kabel. Ternyata filmnya sangat menyentuh. Terutama untuk orang yang mellow seperti saya :p
Sebenarnya, film ini sudah dirilis sekitar Februari 2012 lalu. Cerita berawal dari kehidupan pernikahan Paige (Rachel McAdams) dan Leo (Channing Tatum) yang sangat membahagiakan. Suatu ketika, Paige dan Leo mengalami kecelakaan lalu lintas. Paige mengalami cedera di kepalanya yang mengakibatkan ia lupa akan sebagian memori hidupnya di masa lampau. Gawatnya, ingatannya terhenti ketika ia mengambil sekolah hukum, bertunangan dengan Jeremy, dan masih akur dengan kedua orangtuanya. Paige sama sekali tidak ingat bahwa ia sudah menikah dengan Leo dan hidup sebagai seorang seniman patung yang sukses. Leo sangat terpukul, namun cintanya kepada Paige membuatnya terus berjuang agar Paige kembali mencintainya dengan sisa-sisa ingatannya yang masih ada.
Cerita ini terinspirasi oleh kisah nyata, dokumentasinya di sini. Awalnya saya mengira bahwa cinta tetap "diatur" oleh zat-zat kimia yang terpusat di otak. Paige dan Leo akan berpisah karena perlu pengorbanan besar untuk membantu Paige kembali ingat bahwa ia pernah mencintai suaminya. Tapi, semuanya lebih dari sekadar sumpah yang terucap di hari pernikahan. Sumpah itu yang membuat kita memilih untuk mencintai. Memilih untuk setia kepada satu orang, bagaimanapun bentuknya nanti, bagaimanapun hidup membawa nasib sebuah pernikahan.
Setelah film Titanic dan P.S: I Love You, film ini menjadi salah satu film romantis saya sepanjang masa.
All i need is love. His love, from my beloved husband :)
Showing posts with label Love Things. Show all posts
Showing posts with label Love Things. Show all posts
Monday, April 21, 2014
Thursday, March 27, 2014
Perspective of Love All About
Mungkin "apa itu cinta" diatas menjadi "pilihan-perspektif" sebagian orang. Kayaknya kok cinta itu "berat" banget ya?
Tapi, kenyataan lain berbicara. Melihat orangtuaku tetap bersama sampai sekarang. Lebih dari seperempat abad. Ada pengertian lain tentang cinta yang indah sehingga membuat mereka terus hidup berdua. Cinta yang membuat mereka "tidak-punya-waktu-mempedulikan" perumpamaan negatif.
Selagi muda, gw berpikiran bahwa cinta itu punya wujud yang indah. Ngirim puisi saat rindu, ngasih boneka dan bunga saat hari jadi, nonton film di malam minggu, kecupan lembut di tengah hujan, genggaman tangan sepanjang jalan atau ratusan seremonial lain yang kita pelajari dari film-film dan novel-novel romantis.
Sekarang, gw bertambah tua dan mulai melihat dunia lebih luas. Pelan-pelan gw menyadari bahwa cinta gw semakin lengkap dengan kehadiran orang yang selalu ada bersama gue di setiap malam. Cinta adalah melihat setiap hari, suami gue selalu tampan seiring usianya yang bertambah pula. Cinta adalah menyanyi bersama lagu kesukaan diatas motor lalu mengubah lirik menjadi sekonyol mungkin, membuat kita tergelak berdua. Cinta adalah kekuatan, sama-sama menabung mewujudkan impian bersama. Saat dua hati memiliki persepsi yang berbeda namun selalu dapat saling mengerti dan mengoreksi.
Cinta memang hidup dalam kenyataan. Cinta dalam dongeng tercipta karena dongeng itu terbentuk dari pengalaman dunia nyata. Cinta itu indah, asal kita mau lihat pelangi setelah badai pergi.
Well, yeah, love is all about perspective. It is all up to you.
*image: Facebook
Tapi, kenyataan lain berbicara. Melihat orangtuaku tetap bersama sampai sekarang. Lebih dari seperempat abad. Ada pengertian lain tentang cinta yang indah sehingga membuat mereka terus hidup berdua. Cinta yang membuat mereka "tidak-punya-waktu-mempedulikan" perumpamaan negatif.
Selagi muda, gw berpikiran bahwa cinta itu punya wujud yang indah. Ngirim puisi saat rindu, ngasih boneka dan bunga saat hari jadi, nonton film di malam minggu, kecupan lembut di tengah hujan, genggaman tangan sepanjang jalan atau ratusan seremonial lain yang kita pelajari dari film-film dan novel-novel romantis.
Sekarang, gw bertambah tua dan mulai melihat dunia lebih luas. Pelan-pelan gw menyadari bahwa cinta gw semakin lengkap dengan kehadiran orang yang selalu ada bersama gue di setiap malam. Cinta adalah melihat setiap hari, suami gue selalu tampan seiring usianya yang bertambah pula. Cinta adalah menyanyi bersama lagu kesukaan diatas motor lalu mengubah lirik menjadi sekonyol mungkin, membuat kita tergelak berdua. Cinta adalah kekuatan, sama-sama menabung mewujudkan impian bersama. Saat dua hati memiliki persepsi yang berbeda namun selalu dapat saling mengerti dan mengoreksi.
Cinta memang hidup dalam kenyataan. Cinta dalam dongeng tercipta karena dongeng itu terbentuk dari pengalaman dunia nyata. Cinta itu indah, asal kita mau lihat pelangi setelah badai pergi.
Well, yeah, love is all about perspective. It is all up to you.
*image: Facebook
Wednesday, January 16, 2013
It is My January!
Place: Family Room
Mood: Normal (but got migraine in my head)
Song: Sugar We're Going Down by Fall Out Boy
Januariku! January, please be nice to me.... Yaah, begitulah status maupun tuit yang jamak jika menjelang ganti bulan. Apalagi, Januari itu tidak sekedar hanya ganti bulan, tapi ganti tahun dari Desember! Bulan ini juga bulan kelahiran saya, jadi harap dimaklumi jika saya sangat "norak" terhadap si Januari.
Sebenarnya, saya tidak mau menulis suatu hal khusus atau apa. Karena saat ini saya sedang terserang migrain yang naik-turun kadar nyerinya dari semalam. Terpaksa saya cuti sehari kantor.
.................
Hup, do you realize that? I mentioned "kantor".
.................
Ya, ya, sekarang saya sudah kembali bekerja sejak 17 Desember lalu (hey, berarti besok sebulan saya bekerja). Keputusan yang saya pikir terbaik untuk diri saya sendiri dan keluarga (baca: suami). Kantor tempat saya bekerja berlokasi di Bintaro Sektor 5. Jauh ya? Kalau dari Cibubur sih, memang jauh banget. Tapi, kalau dari Cempaka Putih, saya hanya perlu waktu sekitar 90 menit untuk sampai lokasi menggunakan KRL atau kereta api. Saya dan suami sudah mempertimbangkan tempat saya bekerja ini versus lokasi rumah masa depan kami yang berada di perbatasan Ciputat - Bintaro. I am so excited to this new area. But i can not tell you what my job is until i am entitled :)
Something touched my heart when i told my hubby that i was recruited. I knew from his eyes, he was so glad i could back to work again. Deep inside his heart, he is really want me to be as a working-wife. He prefer it than see me as a-stay-at-home wife since we have not a kid yet. Me, being a graduate student is not enough for him. Well, anyway, when i wear business attire and give him ready-to-go-kisses on the bed, i know he likes it. A lot. Now i know, marriage is about sacrifice, sacrifice that you will eager to do in getting your spouse's biggest smile and bright eyes. His happiness.
2013 is gonna be my tough year ahead. Craving for my master degree, moving into new house, supporting my spouse in developing his new t-shirt project, and... taking seriously to have a baby. But, i am curious.
2013 is gonna be my tough year ahead. Craving for my master degree, moving into new house, supporting my spouse in developing his new t-shirt project, and... taking seriously to have a baby. But, i am curious.
Well, happy new year, everyone! Be healthy!
Sunday, November 18, 2012
Cinta Sejati Mimi Lan Mintuno. Siapa Mereka?
"Mugi sageto kados mimi lan mintuno." Ucapan ini kepada para pengantin baru memiliki makna luar biasa. Mimi merupakan
blankas betina, sedangkan Mintuno adalah blankas jantan, merupakan hewan
laut sejenis kepiting raksasa yang dalam bahasa amerika disebut sebagai
horseshoes crab karena bentuknya yang menyerupai tapal kuda.
Hewan ini akan selalu berpasangan, kemanapun dan dalam kondisi apapun.
Bahkan konon jika mereka dipisahkan mereka akan langsung mati karena
merasa kehilangan.
Dalam persepsi umum, mintuno sang pejantan, sosok yang berukuran lebih
kecil dan berada diatas mimi, merupakan sosok yang lebih berjasa.
Kemanapun mintuno menuju, ia mencengkeram kuat pasangannya untuk
melindungi dan memastikan mimi hidup berkecukupan.. Begitupun dalam
perspektif mintuno, sosok suami kemanapun dan dalam kondisi apapun harus
mampu memberikan kepastian hidup nyaman dan berkecukupan bagi istrinya.
Mimi juga berjasa besar bagi kemaslahatan dan kesuksesan mintuno. Atas
nama cinta, mimi meminta mintuno untuk mencengkeram kuat punggungnya,
meski tak dapat disangkal cengkeraman mintuno membuat mimi sakit.
Kemanapun dan apapun kondisinya, mimi mendukung mintuno untuk selalu
berada diatas dan selalu berbahagia meski ia sekedar menjadi pijakan
kaki kesuksesan pasangan terkasihnya.
Itulah para suami! Janganlah berbangga diri jua merasa
pongah mengaku sebagai pihak utama yang berjasa. Seringkali karena sifat
bangga diri tersebut, tak sedikit suami yang menjadi seenaknya sendiri.
Melupakan peran dan menganiaya istri yang mengabdikan hidup demi
kesuksesan yang kita raih. Ingatlah, istrimu begitu setia menjadi
pijakan demi cintanya kepadamu.
Dan itulah para istri! Teguhlah mendukung suami dan
setia menjaga diri. Menjadi pijakan tidak akan membuatmu terbelakang.
Justru karena kesetiaan dan kerelaan yang engkau berikan, membuatmu
menjadi bahan perbincangan para bidadari yang berada di khayangan.
Mereka cemburu karena tidak bisa mengabdikan hidupnya di dunia
sepertimu.
Begitu indah kerjasama kemesraan keduanya. Romantisme Mimi lan Mintuno
merupakan simbol kebahagiaan hidup dalam ikatan setia pengabdian. Guru
kehidupan bagaimana tentang kesetiaan dalam sebuah pernikahan.
Co-pas dari blognya Cakaep. Postingan ini menjadi 'pengingat' buat saya.
Image: kassa9.com
Image: kassa9.com
Thursday, March 1, 2012
One Hour Wife
Ternyata setelah menikah itu seru! Banyak dinamika, preferensi positif daripada saya menyebutnya drama. Saya berstatus sebagai Nyonya Muda (mba Susan Spencer pernah menyebutku begitu hehehe) sejak September 2011. Kenapa pula saya menulis judul seperti itu? Ada yang 'lucu', kalau boleh saya mengungkapkannya demikian...


Thursday, November 17, 2011
Sepiring Berdua
Sekarang, saya resmi memiliki partner in crime. We work hard and pray hard. Jalani hidup santai saja, dapat ikan asin ya dimakan aja pake sambel terasi biar tambah enak, dapat emas segepok ya disimpan, dipakai senang-senang terus disumbang biar semua kebagian rejeki. Life's complicated, why can't we make simple? And he can rebuild my passion again...

I rock you, Mr. Ernesto.....

I rock you, Mr. Ernesto.....
Tuesday, August 30, 2011
Thursday, February 3, 2011
Pause Your Day & Enjoy Your TV Box
Seharusnya saya tulis review film ini di kanal "I recommend you". Tapi karena ada banyak fotografi di film ini yang saya suka, jadi saya masukkan foto2nya ke blog field ini.

Hello Stranger (2010)
Sunday, March 28, 2010
Hanya Cinta Yang Sejukkan Dunia
Saya sukaaaaa sekali film2 yang menguras air mata. Mungkin salah satu alasannya agar saya bisa menangis di depan orang lain tanpa berkesan cengeng (karena ada alasan kuat: menonton film yang ceritanya menyentuh. Hehehe). Jadi, Titanic, P.S I Love You, Serendipity, sampai film Up! yang film kartun, saya bilang itu film romantis dan sempat bikin mata saya berkaca-kaca. Tokoh si Kakek yang berusaha mewujudkan impian mendiang istrinya, benar-benar disusun dengan lucu tapi "miris". Up! is a great romantic movie.
Saya skeptis saja selama ini cerita pengorbanan tentang cinta itu hanya ada di film fiksi. Tapi, seiring bertambahnya usia, teman, pengalaman hidup, cerita kerabat, saya mengamini bahwa cinta bisa mengubah dan menguatkan.
Salah satunya saya paling suka kisah perjuangan seorang perempuan yang mengidap kanker dan berhasil survive sampai akhirnya ia menemukan cinta sejati di tengah-tengah perjuangannya melawan penyakit itu. The love is seems like a fairy-tale with happy ending story. Saya sampai enggak bisa menceritakan kembali kisah Dinda tersebut saking emosionalnya setiap membaca kisah hidupnya yang sempat dimuat di Majalah Femina.
Sampai akhirnya, saya membaca informasi dari Majalah Femina setahun kemudian bahwa sang suami sudah dipanggil terlebih dahulu menghadap Yang Maha Kuasa. Terbayang bagaimana sedihnya Dinda ditinggal belahan jiwanya. Tapi, saya yakin Dinda mampu bertahan karena ia tahu sang suami tetap ingin melihat Dinda berjuang dan tidak menyerah pada nasib di dunia.
Saya yakin masih banyak lagi kisah mengharukan dua insan yang makin membuat kita menghargai bahwa kesetiaan dan pengorbanan atas nama cinta masih ada. Hahahahaa. Gila ya, jadi sentimentil begini.
Seperti yang dinyanyikan Ari Lasso dalam lagu Cukup Siti Nurbaya milik Dewa 19:
"Hanya cinta yang sejukkan dunia."
Cempaka Putih,
29 Maret 2010
Menunggu Ernestito datang ke rumah....
for further Dinda's story, check out this link:
http://www.femina-online.com/issue/issue_detail.asp?id=584&cid=1&views=28
Sunday, February 28, 2010
LoveFool
Iseng saya buka arsip2 lama untuk membereskan rak buku yang sudah berantakan banget.Eh, terselip kertas kecil ini yang ternyata..Olalaa...tak menyangka saya pernah buat puisi semacam ini!!!
Hmm....kalau diingat-ingat, sepertinya saya menulisnya saat boring di dalam kelas (karena saya menulisnya di kertas file). LOveFoOL!
Jika Malam Nanti Ia Kembali
Akan ku katakan padanya
Betapa hidup bisa begitu menggetirkan
Bahwa hanya kabar tentangnyalah
Yang bisa menggetarkan
Semburat senja bagiku seperti gula-gula berwarna jingga
Karena pertanda malam akan tiba
Dan aku akan melihat dia...
Akan kukatakan padanya
Bahwa rindu tak jauh beda menyiksa
Friday, February 12, 2010
Ujung-ujungnya Dengan Bonek Juga!
Saya tidak suka sepakbola, namun saya tidak membenci sepakbola. Mau bangkit ya syukur, mau hancur ya sudah. Di garis keturunan keluarga (saya percaya dengan kehebatan DNA), tak ada pria ataupun wanita yang menggilai sepakbola. Tapi orang yang ada di foto atas itu, bola terus menggelinding di setiap fase hidupnya. Semua hal di dunia ini sampai zat atom alam semesta pun diasosiasikan dengan sepakbola. Ya, itulah hidupnya. His passion til the last forever...
Bicara soal passion, apa yah hal yang bikin saya tergila2? Saya tidak punya warna favorit, walau suka ungu, saya juga suka warna merah, hitam, indigo, tosca, fuschia. Soal musik, dari The Moffatts sampai Van Halen saya dengarkan. Dari Nunung cs sampai Dewi-dewi juga. Apalagi soal sepakbola. Nol besar kecuali istilah kiper yang saya tahu pasti artinya penjaga gawang
Maka, ketika saya membuka diri untuk mau mengenal dia, seperti kepala dan buntut. Beda! Oh ya, dia seorang propagandis sementara saya orang yang apatis. Dia dengan kadar emosi di atas rata-rata, saya dengan setelan emosi yang dibawah rata-rata. Dia yang sebal dengan perangai orang Jakarta, tapi hey! Saya lahir, besar, dan terdidik di antara orang-orang Jakarta.
Lucu. Dia bercita-cita ingin jadi pemain bola. Tak kesampaian, akhirnya menulis tentang bola. Ah, ya! Menulis. Aktivitas yang satu itu mungkin bisa jadi hal yang membuat kami berdua tersambung. Kami juga suka membaca. Saya menyukai orang yang menghargai orang lain seperti dia menghargai buku-buku miliknya. Satu lagi, dia menyebut dirinya Bonek, seorang pendukung Persebaya dan mencintai sepakbola negeri ini. Seperti prejudice pada para Bonek, ya, super rebel. Hahahaa, oh, Tuhan, saya seperti punya partner in crime yang bisa menantang dunia sama-sama. Tapi, bukan itu alasan utama kenapa saya menerima gandengan tangannya. Sampai sekarang, saya juga tidak tahu kenapa. Dipeletkah?
Cempaka Putih
12 Februari 2010
Menanti kabar seru dari Sydney
Saturday, August 29, 2009
Saturday, November 22, 2008
Pentul Tembem & Kinyis Kinyis
Yang satu, maniak sepak bola. Yang satu lagi, bengong sepak bola.
Yang satu, pedenya setengah mati. Yang satu lagi, ngeyelnya setengah mati.
Yang satu, Bonek. Yang satu lagi, (ngakunya) JakAngel.
Yang satu, suka kemping. Yang satu lagi, benci emping.
Yang satu, doyan keju. Yang satu lagi, demen garangasem.
Keduanya sama2 sering berbicara sarkas.
Keduanya maniak buku.
Keduanya sama2 norak.
Keduanya tak punya hewan peliharaan.
Next destination : Tanjung Puting & Pantai Pink NTT *ngareeeppp...*
Tuesday, August 19, 2008
Pinka & Biru
Saya tinggal di Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Polusi? Jangan ditanya. Kawasan pun sudah padat. Tapi, setiap pagi ketika saya shalat subuh, masih bisa terdengar kicau burung gereja dan burung lain yang saya tidak tahu apa. Rasanya tenteram banget. Mereka masih suka hinggap di atap balkon depan jendela kamar saya dan nangkring di tali tiang listrik seperti Pinka dan Biru itu.
Sampai kapan mereka akan menemani saya ketika "curhat" dengan Kekasihku? Ada pohon mangga besar yang berusia lebih tua dari saya (mungkin sudah 25 tahun). Semoga pemilik rumah tetap mempertahankan pohon itu supaya saya masih bisa menikmati nyanyian burung-burung mungil di pagi hari.
P.S: Stop Illegal Logging
Thursday, June 19, 2008
Mencari Sebelah Hati Yang Sempat Datang
Nun jauh dari kota Bucharest, ada seorang warga Jakarta yang memiliki nasib serupa dengan Nicolas. Namun, belum (dan pasti tidak) lebih jauh mengambil langkah seperti usaha yang dilakukan Nicolas. Sepertinya pepatah witing tresno jalaran soko kulino memang bukan sesuatu yang pasti. Reaksi kimia dalam tubuh dan perasaan manusia bisa timbul dan padam dalam satu jentikan jari. Ajaib!
Silahkan buka website ini:
http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/06/tgl/19/time/083554/idnews/958851/idkanal/10
Silahkan buka website ini:
http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/06/tgl/19/time/083554/idnews/958851/idkanal/10
Wednesday, April 16, 2008
Apa Spektrum Gelombang itu Cinta?
Warna adalah gelombang cahaya dengan panjang gelombang yang berbeda. Ketika mata kita melihat objek, maka kita melihat pantulan cahaya dari objek tersebut. Mata manusia normal mampu membedakan ratusan panjang gelombang berbeda. Hal ini membuat kita mampu melihat dan membedakan warna.
Sama 'kan seperti cinta?
Sekarang, siapa yang bisa melihat gelombang cahaya saya? Hohoho... (^,~)
Sama 'kan seperti cinta?
Tuesday, September 18, 2007
“PDKT” ala Ilmu Komunikasi
Minggu lalu, saya bertemu dengan sahabat lama saya. Awalnya kami hanya mengobrol biasa layaknya perjumpaan sepasang kawan lama. Tapi, lama-lama jadi ajang curhat masalah pribadi, termasuk masalah romansa.
Rupanya dia sedang jatuh hati pada seorang mahasiswi yang sama-sama mengikuti kelas mata kuliah Nirmana di Teknik Arsitektur salah satu universitas di Jakarta. Kebetulan, dari dulu sahabat saya itu termasuk pria inferior jika menyangkut urusan seperti ini. Belum tahu dia kalau ilmu komunikasi juga bisa dimanfaatkan untuk pendekatan (bahasa gaulnya: PDKT). Maka, terjadilah percakapan lama karena saya berusaha “membagi” ilmu yang saya dapat di bangku kuliah kepadanya.
Dalam ilmu komunikasi yang menurut para ahli merupakan ilmu terapan terdapat berbagai teknik komunikasi. Salah satunya adalah teknik komunikasi persuasif. Saya memberitahu sahabat saya itu untuk mengaplikasikan teknik ini dalam “misi”-nya. Namun, teknik ini agak sulit dibandingkan dengan teknik komunikasi lainnya (komunikasi informatif, komunikasi instruktif, dan hubungan manusiawi) karena komunikasi persuasif bertujuan untuk mengubah sikap, pendapat, atau perilaku komunikan yang lebih menekankan pada kegiatan psikologis. Penekanan ini dimaksudkan untuk mengetahui perbedaan antara persuasi dengan koersi. Walaupun sama-sama mengubah sikap, pendapat, atau perilaku, tetapi persuasi dilakukan dengan halus, luwes, yang mengandung sifat-sifat manusiawi sehingga mengakibatkan kesadaran dan kerelaan yang disertai perasaan senang. Sedangkan koersi berupa perintah, instruksi, bahkan suap, pemerasan, dan boikot.
Agar komunikasi persuasif mencapai tujuan dan sasarannya, maka perlu dilakukan perencanaan yang matang. Yang harus diperhatikan adalah komponen-komponen ilmu komunikasi yaitu komunikator, pesan, media, dan komunikan. Seorang komunikator yang ciamik harus mempersiapkan berbagai hal. Komunikator harus terlebih dahulu melakukan komunikasi intrapersonal: berkomunikasi dengan diri sendiri, bertanya pada diri sendiri, untuk dijawab oleh diri sendiri. Siapa komunikan yang akan dijadikan sasaran? Untuk pertanyaan ini sahabat saya sangat yakin akan jawabannya. Jika benar seorang, apa pekerjaannya, hobinya, pendidikannya, agamanya, dan sebagainya. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan diatas sangat bergantung pada pemakaian media yang harus dipilih dari sekian banyak media. Untuk masalah ini, sahabat saya memilih salah satu media nirmassa yaitu telepon. Bila semua sudah beres, tinggal bagaimana menata pesan yang akan disampaikan agar mencapai tujuan yang diinginkan.
Namun sebelum melangkah lebih jauh, saya harus meyakinkan sahabat saya itu bahwa seorang komunikator harus berbicara dan membahas suatu topik dengan menunjukkan kesungguhan sehingga komunikan percaya terhadap apa yang dikatakannya. Bisa juga menyelipkan suatu humor. Seperti Winston Churcill -mantan Presiden Amerika Serikat- yang dikenal sebagai ahli pidato. Ia biasa menyisipkan humor kedalam pidato-pidatonya semasa Perang Dunia II, tetapi ia selalu berupaya agar menimbulkan kesan bahwa ia tetap serius dalam menghadapi masalah politik.
Selain itu, komunikator harus membawa kesan kepada komunikan bahwa ia berhati tulus dalam niat dan perbuatannya. Ia harus hati-hati untuk menghindarkan kata-kata yang mengarah kepada kecurigaan terhadap ketidaktulusan komunikator (sahabat saya itu langsung mengelak bahwa dia tulus “memandang” wanita itu tidak dari materi, tapi inner beauty. Bagus!). Ketenangan dalam penampilan dan dalam mengutarakan kata-kata juga faktor yang penting. Jika komunikator bersikap tenang, ia akan dapat mengorganisasikan pikiran, perasaan, dan hasil penginderaannya secara mantap dan terpadu. Keramahan dan kesederhanaan juga merupakan faktor penting karena jika komunikator bersikap ramah, komunikan akan simpati. Keramahan tidak berarti kelemahan, tapi pengekspresian sikap etis. Begitu pula kesederhanaan. Kesederhanaan tidak hanya menyangkut hal-hal bersifat fisik, tapi juga dalam penggunaan bahasa sebagai alat penyaluran pikiran dan perasaan.
Kesederhanaan seringkali menunjukkan keaslian dan kemurnian sikap. Contohnya Bung Hatta. Semasa berperan sebagai pemimpin bangsa Indonesia, sejak menjadi mahasiswa, wakil presiden, dan sampai akhir hayatnya, mulai dari pakaian, perilaku, sampai pengucapan kata-kata, semuanya sederhana. Pakaian tidak dilebih-lebihkan, perilaku menunjukkan keteladanan, dan ketika berbicara dalam segala situasi komunikasi, tidak menggunakan kata-kata yang muluk dan ingkar dari realitas.
Ada tiga cara dalam menata pesan yang akan disampaikan. Pertama, teknik asosiasi, yaitu dengan cara menumpangkan penyajian pesan pada objek atau peristiwa yang sedang menarik perhatian khalayak. Misalnya, dalam suatu kampanye pemilihan umum, ketenaran band Slank yang mempunyai banyak massa digunakan suatu partai politik untuk merebut hati rakyat. Kedua, teknik integrasi. Ini berarti bahwa, melalui kata-kata verbal maupun nonverbal, komunikator menggambarkan bahwa ia “senasib” -dan karena itu menjadi satu- dengan komunikan yang mengandung makna bahwa yang diperjuangkan komunikator bukan untuk kepentingan diri sendiri, melainkan juga kepentingan komunikan. Teknik integrasi ini ternyata juga digunakan oleh tentara Amerika Serikat. Pada atribut seragam tentara yang biasanya dipasang di kerah jas, bukan inisial USA, melainkan US, yang bermakna selain United States, juga pronoun dari “we” atau kita. Maksudnya bahwa tentara Amerika Serikat adalah tentara kita, tentara rakyat. Ketiga, teknik ganjaran (pay off technique), adalah kegiatan dengan cara mengiming-iming hal yang menguntungkan atau menjanjikan harapan.
Teknik ini lawannya adalah fear arousing technique, yang bersifat menakut-nakuti atau menggambarkan resiko yang buruk. Dalam kampanye Keluarga Berencana sering menggunakan kedua teknik ini. Pay off technique menunjukkan betapa bahagianya memiliki dua anak saja, sedangkan fear arousing technique memperlihatkan betapa repotnya sebuah keluarga yang beranak banyak. Keempat, teknik tataan (icing, baca: aising), adalah seni menata pesan dengan emotional appeal sedemikian rupa, sehingga komunikan menjadi tertarik perhatiannya. Bisa dianalogikan dengan kue yang baru dikeluarkan dari panggangan yang ditata dengan lapisan gula warna-warni sehingga kue yang tadinya tidak menarik menjadi indah dan memikat. Dalam hubungan ini komunikator mempertaruhkan kepercayaan komunikan terhadap fakta pesan yang disampaikan. Kelima, teknik red-herring. Seninya teknik ini adalah meraih kemenangan dalam perdebatan dengan mengelakkan argumentasi yang lemah kemudian dijadikan untuk menyerang lawan. Bagi seorang diplomat atau tokoh politik ini sangat penting untuk mempertahankan diri atau menyerang secara diplomatis. Tentunya sebelum terjun ke arena dengan menggunakan teknik ini, komunikator harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang.
Demi berhasilnya komunikasi persuasif, perlu dilaksanakan secara sistematis. Ada suatu formula yang biasa disebut AIDDA yang dijadikan landasan pelaksanaan. AIDDA adalah singkatan dari Attention (perhatian), Interest (Minat), Desire (Hasrat), Decision (Keputusan), dan Action (Aksi). Berdasarkan formula tersebut, dalam melakukan kegiatan itu dimulai dengan menumbuhkan perhatian. Senyum yang tersungging di wajah yang cerah juga sudah cukup menimbulkan perhatian komunikan. Bila perhatian sudah berhasil dibangkitkan, selanjutnya adalah menumbuhkan minat. Upaya ini bisa berhasil dengan mengutarakan hal-hal yang menyangkut kepentingan komunikan. Sebab itu, komunikator harus mengenal komunikannya. Tahap berikutnya adalah memunculkan hasrat pada komunikasi untuk melakukan ajakan, bujukan, atau rayuan komunikator. Disini emotional appeal perlu ditampilkan komunikator sehingga pada tahap berikutnya komunikan mengambil keputusan untuk melakukan suatu kegiatan atau aksi yang diharapkan komunikator.
Tata cara pentahapan komunikasi persuasif ini bisa diketahui hasilnya dalam beberapa saat, tapi sayangnya juga bisa bertahun-tahun. Akibat yang ditimbulkan juga bisa berdampak kognitif, afektif, dan atau behavioral. Jika berdampak kognitif, komunikan hanya mengetahui saja. Sedangkan dampak afektif, komunikan bukan hanya sekedar tahu, tapi tergerak hatinya dan menimbulkan perasaan tertentu. Yang paling tinggi kadarnya adalah dampak behavioral, yakni dampak yang timbul pada komunikan dalam bentuk perilaku, tindakan, atau kegiatan.
Terlepas dari percaya atau tidaknya sahabat saya itu terhadap penjelasan saya yang panjang lebar, yang jelas ini semua berdasarkan suatu ilmu yang kebenarannya telah diuji dan digeneralisasikan. Tidak sadar, langit sudah senja. Akhirnya kami harus berpamitan. Setidaknya, sahabat saya itu membawa wawasan baru. Semoga dia tidak menyesal karena memilih kuliah dijurusan yang bukan ilmu komunikasi ;)
(adhelya)
Rupanya dia sedang jatuh hati pada seorang mahasiswi yang sama-sama mengikuti kelas mata kuliah Nirmana di Teknik Arsitektur salah satu universitas di Jakarta. Kebetulan, dari dulu sahabat saya itu termasuk pria inferior jika menyangkut urusan seperti ini. Belum tahu dia kalau ilmu komunikasi juga bisa dimanfaatkan untuk pendekatan (bahasa gaulnya: PDKT). Maka, terjadilah percakapan lama karena saya berusaha “membagi” ilmu yang saya dapat di bangku kuliah kepadanya.
Dalam ilmu komunikasi yang menurut para ahli merupakan ilmu terapan terdapat berbagai teknik komunikasi. Salah satunya adalah teknik komunikasi persuasif. Saya memberitahu sahabat saya itu untuk mengaplikasikan teknik ini dalam “misi”-nya. Namun, teknik ini agak sulit dibandingkan dengan teknik komunikasi lainnya (komunikasi informatif, komunikasi instruktif, dan hubungan manusiawi) karena komunikasi persuasif bertujuan untuk mengubah sikap, pendapat, atau perilaku komunikan yang lebih menekankan pada kegiatan psikologis. Penekanan ini dimaksudkan untuk mengetahui perbedaan antara persuasi dengan koersi. Walaupun sama-sama mengubah sikap, pendapat, atau perilaku, tetapi persuasi dilakukan dengan halus, luwes, yang mengandung sifat-sifat manusiawi sehingga mengakibatkan kesadaran dan kerelaan yang disertai perasaan senang. Sedangkan koersi berupa perintah, instruksi, bahkan suap, pemerasan, dan boikot.
Agar komunikasi persuasif mencapai tujuan dan sasarannya, maka perlu dilakukan perencanaan yang matang. Yang harus diperhatikan adalah komponen-komponen ilmu komunikasi yaitu komunikator, pesan, media, dan komunikan. Seorang komunikator yang ciamik harus mempersiapkan berbagai hal. Komunikator harus terlebih dahulu melakukan komunikasi intrapersonal: berkomunikasi dengan diri sendiri, bertanya pada diri sendiri, untuk dijawab oleh diri sendiri. Siapa komunikan yang akan dijadikan sasaran? Untuk pertanyaan ini sahabat saya sangat yakin akan jawabannya. Jika benar seorang, apa pekerjaannya, hobinya, pendidikannya, agamanya, dan sebagainya. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan diatas sangat bergantung pada pemakaian media yang harus dipilih dari sekian banyak media. Untuk masalah ini, sahabat saya memilih salah satu media nirmassa yaitu telepon. Bila semua sudah beres, tinggal bagaimana menata pesan yang akan disampaikan agar mencapai tujuan yang diinginkan.
Namun sebelum melangkah lebih jauh, saya harus meyakinkan sahabat saya itu bahwa seorang komunikator harus berbicara dan membahas suatu topik dengan menunjukkan kesungguhan sehingga komunikan percaya terhadap apa yang dikatakannya. Bisa juga menyelipkan suatu humor. Seperti Winston Churcill -mantan Presiden Amerika Serikat- yang dikenal sebagai ahli pidato. Ia biasa menyisipkan humor kedalam pidato-pidatonya semasa Perang Dunia II, tetapi ia selalu berupaya agar menimbulkan kesan bahwa ia tetap serius dalam menghadapi masalah politik.
Selain itu, komunikator harus membawa kesan kepada komunikan bahwa ia berhati tulus dalam niat dan perbuatannya. Ia harus hati-hati untuk menghindarkan kata-kata yang mengarah kepada kecurigaan terhadap ketidaktulusan komunikator (sahabat saya itu langsung mengelak bahwa dia tulus “memandang” wanita itu tidak dari materi, tapi inner beauty. Bagus!). Ketenangan dalam penampilan dan dalam mengutarakan kata-kata juga faktor yang penting. Jika komunikator bersikap tenang, ia akan dapat mengorganisasikan pikiran, perasaan, dan hasil penginderaannya secara mantap dan terpadu. Keramahan dan kesederhanaan juga merupakan faktor penting karena jika komunikator bersikap ramah, komunikan akan simpati. Keramahan tidak berarti kelemahan, tapi pengekspresian sikap etis. Begitu pula kesederhanaan. Kesederhanaan tidak hanya menyangkut hal-hal bersifat fisik, tapi juga dalam penggunaan bahasa sebagai alat penyaluran pikiran dan perasaan.
Kesederhanaan seringkali menunjukkan keaslian dan kemurnian sikap. Contohnya Bung Hatta. Semasa berperan sebagai pemimpin bangsa Indonesia, sejak menjadi mahasiswa, wakil presiden, dan sampai akhir hayatnya, mulai dari pakaian, perilaku, sampai pengucapan kata-kata, semuanya sederhana. Pakaian tidak dilebih-lebihkan, perilaku menunjukkan keteladanan, dan ketika berbicara dalam segala situasi komunikasi, tidak menggunakan kata-kata yang muluk dan ingkar dari realitas.
Ada tiga cara dalam menata pesan yang akan disampaikan. Pertama, teknik asosiasi, yaitu dengan cara menumpangkan penyajian pesan pada objek atau peristiwa yang sedang menarik perhatian khalayak. Misalnya, dalam suatu kampanye pemilihan umum, ketenaran band Slank yang mempunyai banyak massa digunakan suatu partai politik untuk merebut hati rakyat. Kedua, teknik integrasi. Ini berarti bahwa, melalui kata-kata verbal maupun nonverbal, komunikator menggambarkan bahwa ia “senasib” -dan karena itu menjadi satu- dengan komunikan yang mengandung makna bahwa yang diperjuangkan komunikator bukan untuk kepentingan diri sendiri, melainkan juga kepentingan komunikan. Teknik integrasi ini ternyata juga digunakan oleh tentara Amerika Serikat. Pada atribut seragam tentara yang biasanya dipasang di kerah jas, bukan inisial USA, melainkan US, yang bermakna selain United States, juga pronoun dari “we” atau kita. Maksudnya bahwa tentara Amerika Serikat adalah tentara kita, tentara rakyat. Ketiga, teknik ganjaran (pay off technique), adalah kegiatan dengan cara mengiming-iming hal yang menguntungkan atau menjanjikan harapan.
Teknik ini lawannya adalah fear arousing technique, yang bersifat menakut-nakuti atau menggambarkan resiko yang buruk. Dalam kampanye Keluarga Berencana sering menggunakan kedua teknik ini. Pay off technique menunjukkan betapa bahagianya memiliki dua anak saja, sedangkan fear arousing technique memperlihatkan betapa repotnya sebuah keluarga yang beranak banyak. Keempat, teknik tataan (icing, baca: aising), adalah seni menata pesan dengan emotional appeal sedemikian rupa, sehingga komunikan menjadi tertarik perhatiannya. Bisa dianalogikan dengan kue yang baru dikeluarkan dari panggangan yang ditata dengan lapisan gula warna-warni sehingga kue yang tadinya tidak menarik menjadi indah dan memikat. Dalam hubungan ini komunikator mempertaruhkan kepercayaan komunikan terhadap fakta pesan yang disampaikan. Kelima, teknik red-herring. Seninya teknik ini adalah meraih kemenangan dalam perdebatan dengan mengelakkan argumentasi yang lemah kemudian dijadikan untuk menyerang lawan. Bagi seorang diplomat atau tokoh politik ini sangat penting untuk mempertahankan diri atau menyerang secara diplomatis. Tentunya sebelum terjun ke arena dengan menggunakan teknik ini, komunikator harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang.
Demi berhasilnya komunikasi persuasif, perlu dilaksanakan secara sistematis. Ada suatu formula yang biasa disebut AIDDA yang dijadikan landasan pelaksanaan. AIDDA adalah singkatan dari Attention (perhatian), Interest (Minat), Desire (Hasrat), Decision (Keputusan), dan Action (Aksi). Berdasarkan formula tersebut, dalam melakukan kegiatan itu dimulai dengan menumbuhkan perhatian. Senyum yang tersungging di wajah yang cerah juga sudah cukup menimbulkan perhatian komunikan. Bila perhatian sudah berhasil dibangkitkan, selanjutnya adalah menumbuhkan minat. Upaya ini bisa berhasil dengan mengutarakan hal-hal yang menyangkut kepentingan komunikan. Sebab itu, komunikator harus mengenal komunikannya. Tahap berikutnya adalah memunculkan hasrat pada komunikasi untuk melakukan ajakan, bujukan, atau rayuan komunikator. Disini emotional appeal perlu ditampilkan komunikator sehingga pada tahap berikutnya komunikan mengambil keputusan untuk melakukan suatu kegiatan atau aksi yang diharapkan komunikator.
Tata cara pentahapan komunikasi persuasif ini bisa diketahui hasilnya dalam beberapa saat, tapi sayangnya juga bisa bertahun-tahun. Akibat yang ditimbulkan juga bisa berdampak kognitif, afektif, dan atau behavioral. Jika berdampak kognitif, komunikan hanya mengetahui saja. Sedangkan dampak afektif, komunikan bukan hanya sekedar tahu, tapi tergerak hatinya dan menimbulkan perasaan tertentu. Yang paling tinggi kadarnya adalah dampak behavioral, yakni dampak yang timbul pada komunikan dalam bentuk perilaku, tindakan, atau kegiatan.
Terlepas dari percaya atau tidaknya sahabat saya itu terhadap penjelasan saya yang panjang lebar, yang jelas ini semua berdasarkan suatu ilmu yang kebenarannya telah diuji dan digeneralisasikan. Tidak sadar, langit sudah senja. Akhirnya kami harus berpamitan. Setidaknya, sahabat saya itu membawa wawasan baru. Semoga dia tidak menyesal karena memilih kuliah dijurusan yang bukan ilmu komunikasi ;)
(adhelya)
Subscribe to:
Posts (Atom)





