Showing posts with label Dream Things. Show all posts
Showing posts with label Dream Things. Show all posts

Wednesday, November 7, 2012

Membimbing, Lebih dari Sekadar Angka


Saya sempat bercita-cita menjadi guru. Hmm, tidak spesifik mau jadi guru apa, sih. Tapi saya tertarik dengan bidang psikologi dan komunikasi. Jadi, saya sempat ‘ngayal’,  lucu juga kali ya kalau jadi guru bimbingan konseling atau BK. Tapi, kenyataannya, jauh lebih lucu. Bahwa saya mendapatkan konseling justru dari guru matematika saya yang berlabel 'killer' saat saya masih duduk di bangku SMP, bukan dari guru BK saya. 

Guru matematika saya telah berpulang selamanya sejak saya kuliah (semoga amal ibadah beliau diterima oleh Allah SWT). Ada kesan yang tertinggal selepas itu. Bahwa ia memberikan jejak samar dalam cara saya mengambil keputusan. Matematika adalah salah satu mata pelajaran yang saya senangi, tapi sangat dipengaruhi oleh cara guru mengajar. Saat itu, beliau (alm.) pun tidak memiliki cara yang istimewa dalam mengajar para siswanya. Hanya berbekal papan tulis dan kapur, menggoreskan angka, memberi solusi singkat, lalu memberi tugas kami menyelesaikan sederet soal matematika yang tidak semuanya mudah. Bukan tipikal yang akrab dengan siswa-siswanya. Tipikal pemikir yang cocok dengan bidangnya waktu itu, matematika. Otomatis, saya pun biasa saja. Saya pun beberapa kali izin tidak ikut mata pelajaran beliau untuk latihan basket menjelang kompetisi. 

Semua berjalan datar. Hingga akhirnya, menjelang waktu Ujian Akhir Nasional, saya dipanggil ke meja beliau saat teman-teman saya sibuk bekerja sama menyelesaikan tugas kelompok. Bicara empat mata. Saya ditegur karena nilai saya hampir dibawah rata-rata, apalagi mata pelajaran matematika!

Ternyata beliau memperhatikan catatan akademik saya. Terdiam. Terheran. Dan saya tak menyangka.

“Saya tidak tahu banyak tentang kamu. Tapi, kamu cukup aktif di sekolah ikut ini-itu. Sekarang kamu ikut tim basket sekolah. Saya pikir sebaiknya kamu pilah kegiatan mana yang tidak mengganggu jadwal belajar kamu, kalau kamu kesulitan membagi waktu. Kamu tidak bisa jalani semuanya dan kepingin semuanya. Saya cuma mau kamu meningkatkan nilaimu agar kamu bisa bersaing dengan teman-temanmu yang lain.”

Itu adalah sepenggal kalimat (atau nasehat) yang saya ingat. Tidak sama sekali menggugah. Tapi, seperti beliau bisa membaca pikiran saya dan saya sedikit tercubit. Saya tidak diabaikan olehnya. Guru yang memperhatikan progres anak didiknya. Beliau tidak menilai dengan sekadar angka, padahal ratusan rumus selalu memenuhi kepalanya.

Ego saya yang biasanya naik, jadi layu. Saya diingatkan untuk berlatih membuat pilihan dalam hidup. Selain logika, ada rasa. Karena ada sebab, ada akibat. Saya tidak dipandang muda oleh beliau dapat membuat pilihan.

Kedekatan antara guru dan muridnya, bukanlah sesuatu yang jamak ditemukan di sekolah. Begitupun saat di perguruan tinggi. Hubungan personal antara guru dan murid, susah-susah gampang. Bagi saya, seorang guru di luar kelas dan guru didalam kelas itu sama. Guru bukan profesi, tapi watak. Tapi pengabdian. Jadi, dimanapun seorang guru memainkan perannya dalam kehidupan sosial, ia tetaplah seorang guru. Berpikiran terbuka, mau ikut belajar terhadap perubahan di sekelilingnya, bersedia terus menggali ilmu yang menjadi kompetensinya, dan mendengar.

Bahkan seorang guru pun harus mendengar muridnya. Mau tak mau, bapak ibu guru di kota besar, seperti Jakarta, adalah pengganti ayah ibu di rumah. Sadar atau tidak disadari, tanggung jawab dalam membimbing manusia dalam pertumbuhannya amatlah besar. Banyak celetukan guru yang saya ingat sebagai kalimat kutipan yang (menurut saya) ‘kena’. Diantaranya:

Guru agama SMP saya pernah berkata:
“Jangan kelewatan mencintai cewek atau cowok karena itu bisa berbalik menjadi kamu benci sama dia. Begitu juga kamu jangan berlebihan membenci orang. Karena siapa tahu kamu jadi suka. Biasa saja. Tidak boleh berlebihan dalam bersikap.”

Guru sejarah SMP saya pernah berujar:
“Dalam keturunan, ia mewariskan gen maupun sifat dari kakek, nenek, ayah, ibunya. Hingga akhirnya membentuk dinasti. Bagus tidaknya dinasti itu, ditentukan oleh bagaimana keturunan yang ada di dinasti tersebut.”

Guru SD saya pernah menjelaskan:
“Kutub magnet utara dan utara tidak akan ketemu karena sama. Kutub positif dan negatif baru bisa nempel. Manusia juga begitu. Kita berbeda, tapi menyatu.”

Di usia wajib belajar 12 tahun, apa yang kita serap kebanyakan dari kehidupan sekolah. Secara tak langsung kita terbentuk dari bagaimana pergaulan kita di sekolah, bagaimana seorang guru mengajar, menghibur teman menangis saat ia curhat tidak cukup biaya untuk masuk sekolah favoritnya, atau menahan diri untuk tidak menyontek saat ujian. Tak berlebihan, jika saya menyatakan kualitas pendidikan tak lepas dari kualitas para guru didalamnya. Bimbingan guru membekas mempengaruhi di setiap jenjang hidup kita. Ada mantan pacar, mantan bos, tapi tidak ada mantan guru.

Oh iya, ada satu keharuan ketika tahun lalu saya menyerahkan undangan pernikahan kepada Kepala Sekolah Dasar saya, yang tak lain adalah orang tua dari teman SD saya juga. Sambil mencium tangannya, beliau berkata sambil tertawa renyah,” Alhamdulillah, gak nyangka, si jangkung kriting ini akhirnya udah mau kawin.” :-)

Thursday, July 15, 2010

You Live, You Learn.

Asyyiiikkk..akhirnya cuti dua hari. Nikmatilah sebelum pekerjaan menumpuk menanti. Hahaha. Rasanya senang sekali berada di rumah. Bisa tidur larut malam, bangun siang, nonton TV, buka fesbuk, tidur siang lagi, telepon-teleponan dengan Mas Tatu, dan ketawa-ketiwi di rumah bersama Opi.

Tapi, sebenarnya dalam pikiran menyimpan juga yang namanya keantusiasmean. Atau apalah diantara sedikit cemas tapi lebih banyak antusiasnya. Aku akan menjemput masa depan dengan satu langkah yang lebih tinggi lagi. Tak jarang, hal ini membuatku takut. Tapi, apa gunanya? Toh waktu akan terus berjalan.


Friday, February 26, 2010

Back To School (Yiippiiieee...!)

Di kelas Metode Penelitian Kuantitatif bersama Ir. Enisar Sangun, Ph.D




Di bawah ini saat kuliah pengganti Statistik Dalam Penelitian Sosial bersama Dr. Mei Darmawiredja
Kalau dibawah ini memang pada dasarnya kita2 narsis semua (heheee...)
"Kuliah lagi nih ceritanya?"
Ya. Back to school adalah judul yang tepat dalam hidup saya mulai Oktober 2009. Setelah berdiskusi dengan keluarga dan orang terdekat saya, akhirnya saya membulatkan tekad untuk berkomitmen belajar selama dua tahun ke depan menempuh gelar S2 di bidang ilmu komunikasi (again?? hahaaa..coz that is my core).

"Ga capek, lo, Del?"
Hmmm...tak perlu dijawab panjang lebar kali ya karena biasanya saya hanya tersenyum ketika seorang teman bertanya seperti itu. Saya anggap pertanyaan itu sebagai bentuk kepedulian mereka karena tanpa jawaban gamblang, pasti mereka sudah tahu kalau bekerja sambil kuliah itu benar2 menyita waktu, tenaga, dan pikiran.

"Emang kuliah dimana?"
Tercatat sebagai mahasiswa S2 Magister Ilmu Komunikasi Universitas Prof. DR. Moestopo (Beragama), Jakarta, tugas-tugas yang saya temui ternyata buuaannnyyaaaakk tenaann! Tapi untunglah banyak kolega yang membantu (heheee..thanks, Teman2!) dan dukungan dari keluarga dan pacar yang tiada duanya. Tentunya bos dan supervisor di kantor yang juga maklum kalau saya "kabur" duluan jam 5 teng!

"Susah enggak, sih?"
Segala macam rumor kalau lulusnya susah, tugas yang melimpah, tenaga dikuras seperti sapi perah, itu semua berusaha saya lihat sebagai tantangan. Untuk yang satu ini, saya terus belajar untuk mengatur syaraf2 di otak kalau semua badai pasti akan berlalu. *Tssaaaahhh...*

"Ngapain aja, Del?"
Kuliah seperti kuliah pada umumnya, tapi memang lebih banyak berkutat pada teori dan sudah lebih spesifik dan fokus mempersiapkan mau angkat penelitian (tesis) apa. Analisis kasus dan segudang paper pastinya siap menanti. Jedddeerrr! Masih belum punya ide nih mau angkat tentang permasalahan apa buat tesis. 

"Ada penjurusannya gak?"
Sama dengan S1-nya penjurusan nanti, ada jurnalistik, periklanan, dan humas (corporate PR). Tapi, saya kok lagi2 belum bisa memastikan penjurusan yang saya ambil apa yah *garuk-garuk kepala*

Sebagian pertanyaan yang sering dilontarkan para sahabat tersebut jadi semacam pengingat buat saya agar terus semangat belajar. Ga munafik sih, beasiswa yang saya dapat dari S1 sebelumnya jadi magnet terbesar agar saya bisa punya gelar master ini. Tapi, saya coba memandang lebih jauh karena saya yakin ilmu yang saya punya ini akan bermanfaat di kemudian hari, setidaknya untuk saya sendiri dulu.

Mentang-mentang S2, ga usah mikir bakal dapat gaji gede dulu kali yeee karena dari artikel pengembangan karyawan juga banyak menyebutkan kalau perusahaan kebanyakan lebih senang melihat track record dan pengalaman kerja si pelamar dibanding sekadar gelar S2. Makanya, saya juga jor-joran dan belajar untuk jadi lebih tangguh, terus bekerja sambil kuliah, pun belajar menguasai lingkup kerja, metodologi, mekanisme sistem (dan networking tentunya)

No pain no gain.




..............ngomong-ngomong, semoga semester 1 ini lulus deh ya (rada cemas juga nunggu hasil nilai semester awal
)


Sunday, January 31, 2010

23 : What i have done & Where i am now....

Januari. 28

Angka itu lama-lama menjadi angka yang maknanya tergerus oleh kesibukan pikiran dan aktivitas yang kita biasa sebut : orang dewasa. Tak jarang, saat ulang tahun yang semasa kita kecil menjadi hari yang sangat istimewa (karena dirayakan di sekolah atau di rumah bersama teman2 segambreng), kini saya merasa tanggal itu hampir sama seperti tanggal-tanggal sibuk lainnya.

Tapi Alhamdulillah... puji syukur bahwa saya masih bisa memiliki orang-orang yang saya sayangi. Apalah artinya semakin lama berada di dunia namun kita tidak punya arti bagi orang-orang yang berada di sekeliling kita (baca: orang2 itu yang kita sayang).

Satu tanggung jawab tetap berada di setiap diri manusia kala ia bertambah usia: Apa yang sudah saya lakukan? Sudah ada dimana saya sekarang?

Dan saya masih merasa menjadi debu yang hanya bisa mengotori rak-rak buku di lemari. Saya yang kecil dan dianggap kotor, dan buku-buku itu adalah sosok besar isi alam semesta yang saya "hinggapi". Saya merasa belum melakukan apa-apa, dalam konteks sebagai seorang manusia yang memuja Tuhan, saya merasa masih jauh dengan Tuhan dan sering menengok ke sebelah kiri ketika ada godaan memanggil saya untuk menjauh dari-Nya.

Sudah ada dimana saya sekarang? Saya bersyukur saya masih ada di sini bersama orang-orang yang saya cintai melangkah tertatih menjalani hidup dari waktu ke waktu.
Ya, seharusnya saya menjadi orang yang tetap menunduk dan bersyukur bahwa apa yang sudah saya punya sekarang merupakan hal terbaik yang diberikan Allah dan ini semua merupakan amanat dan titipan belaka.

Maka, saya butuh kamu. Butuh kalian untuk saling mengingatkan. Bukan demi surga atau neraka, tapi demi ketenteraman hati, demi sebuah ketulusan karena hidup ini harus dinikmati dan disyukuri.....

Alhamdulillahi rabbil 'alamiin...

P.S: Untuk keluarga, sahabat, dan satu estu yang saya sayang....You're All That i Have.

Terima kasih untuk kelima anggota manis manja grup. Dipta, happy birthday, too, Mas Pras (Eka's spouse), Ruri, Bang Muzal, Sara, dan Bang Eddo.
Juga untuk teman-temanku yang tak sempat datang ke warung pasta. Kapan-kapan kita pasti kumpul lagi!

Friday, November 6, 2009

Rengekan : Mau Ke Dufaaaannnnn...!!!



Sudah lama aku tidak merengek seperti bocah yang minta dibelikan balon atau mainan. Tapi, sekarang aku punya "keranjang hidup" yang menampung semua rengekan sepele yang menurutku justru penting. Termasuk:

"Mau ke duuufffaaaannnn......!!!!!"

Tak pernah bosan aku bilang begitu sampai permintaanku terwujud. Entah roh mana yang merasuki hingga tercetus ide dan hasrat menggebu untuk berteriak, tertawa, bergandeng tangan bersama, pamer sunglasses yang (padahal) sudah dibeli dua tahun lalu, foto-foto, dan jalan-jalan. Logikaku tergeser oleh ambisi untuk melepas kekangan cukup satu hari saja. Aku tahu aku jarang meminta banyak. Tapi, dia pusat keceriaanku sekarang ditengah rapatnya tugas dan setan rutinitas.....Please, ke dufan ya...


Saturday, May 9, 2009

Sajadah Merah dan Bisikan Malam

Malam ini. Mulai lagi.

Aku tak pernah keberatan ketika dia menggelarku dan mulai berdiri melihat ke ujung kepalaku. Aku tergelar di ubin dingin kamarnya atas nama kesetiaan. Aku sudah ditakdirkan untuk setia selamanya padanya. Aku dan dia membentuk visual sebuah sudut siku-siku. Dia berdiri dengan tegaknya dengan pakaian semacam jubah lebar dan menutup kaki. Dan aku disini. Menunggunya duduk bercerita. Ada apa lagi dengannya?

Warnaku merah. Dia sangat menyukai warna merah pada benda sepertiku. Entah. Mungkin secara psikologis, warna merah sering diartikan sebagai warna penyemangat (tak usah disangkutpautkan dengan kemarahan.) Lebih tepatnya warna merah yang selalu kebasahan. Bagaimana tidak, aku sering dimandikan dengan air matanya. Air mata yang mengandung banyak kegelisahan dan keharuan.

Dia sering begitu. Dia suka bercerita apa saja pada Tuhannya. Dia selalu berdoa untuk semua orang yang dia sayangi. Meski kenyataannya, dia bisa saja menjadi orang yang paling menyebalkan seantero jagad. Dia tidak suka dianggap manis karena dia "mendingan" dianggap ngeselin sekalian tapi sebenarnya dia orang yang sangat tidak tegaan. Aneh. Dia salah seorang yang aneh diantara banyak manusia yang aneh.

Dan malam ini si bebal memohon ampun lagi. Sederhana. Orang-orang tak perlu repot "memperhatikan"-nya. Dia hanya perlu dirinya sendiri dan Tuhannya. Semua yang dia lakukan, hanya untuk orang-orang terkasihnya. Dan dia sering bergumam diatasku, katanya dia tak mengharap apa-apa. Selain Tuhan berbaik hati mengampuni atas semua kekhilafan yang telah dia lakukan dan dia sering mengeluarkan air mata itu untuk hal itu... Termasuk malam ini.

Dia hanya duduk diatasku. Diam. Sedetik dua detik dia sering berbisik-bisik. Bisikan itu istigfar. Dan doa untuk sebuah kekuatan.

Friday, May 1, 2009

Cerita Satu Hari di Kamis Mendung

Siang ini Jakarta diguyur hujan deras yang menggoda untuk tetap diam di rumah dan membatalkan janji dengan teman saya. Tapi, berhubung saya sudah 'gerah' di rumah dan janji adalah utang, saya membuang jauh rasa malas dan bergegas mengurus keperluan saya hari ini.

Ketika saya ke bank (ah, ini karena kecerobohan saya lupa mencatat PIN atm baru. Ugh!), saya ditawari account di salah satu program tabungan yang menurut saya resikonya rendah. Sebut saja kali, ya, saya akhirnya setuju membuka account di Tabungan Rencana Mandiri. Simpelnya, tak ada salahnya menabung, lagipula persyaratannya cukup mudah dan saya bisa memiliki simpanan untuk "keselamatan finansial". Hehee..

Berbincang sebentar dengan Costumer Service, saya 'ditantang' untuk menaruh aplikasi lamaran saya di Bank Mandiri dan dia bisa membantu mengirimkannya karena setiap hari ada supir dari kantor kanwil yang mengantar surat2 kantor. Hmmm, kenapa tidak? Namanya juga usaha dan saya pun tidak berharap banyak, tidak seperti caleg yang stres karena memasang target kelewat tinggi...*hooppp!!! balik lagi ke topik..*

Hujan mereda dan saya sampai di kampus yang sudah diramaikan oleh acara musik (kampus saya kebanyakan 'seniman'. Hihihi). Namun, saya mendapat kabar duka bahwa ayah teman sekelas saya pas kuliah meninggal dunia. Saya berniat ke rumah teman saya selepas solat magrib di kampus karena teman saya ini orangnya sangat baik. Saya dijenguk olehnya ketika saya bolak-balik diinfus di RS dan bersedia mengantar saya ke Palmerah siang bolong.

Pas sebelum solat magrib saya lagi-lagi mendapat kabar duka bahwa ibu dari senior saya di kampus meninggal dunia, juga karena sakit. Lalu, ketika saya melewati daerah Palmerah, juga ada bendera kuning plastik lain yang bertengger di mulut gang. Innalillahi wa inna ilaihi raji'uun...

Untung saya sampai di rumah teman saya dengan selamat dan tidak nyasar (hahay, saya tidak takut nyasar, kok!). Kondisi teman saya baik dan terlihat sabar, bahkan dia masih sempat cubit-cubit lengan saya, dan balasannya saya selalu menggeram kesal padanya.

Pulangnya, saya meneduh di mulut gang di kedai kopi yang tutup. Di situ ada seorang Bapak sedang nongkrong sambil merokok. Dan saya suka mengobrol dengan orang asing. Tapi ini sangat mengandalkan insting saya dan alhamdulillah selama ini saya dilindungi Allah SWT. Kami bercerita (dan saya bercerita ala kadarnya) dan begitu tahu bahwa saya seorang jobseeker, Bapak itu turut mendoakan agar saya segera dapat kerja (AMIN!) dan insya Allah berjodoh dengan pria yang akan menjemput saya sebentar lagi. Amin, amin!

Waktu sudah menunjukkan jam 21.30. Ketika sampai di rumah, saya mengobrol sebentar dengan Bapak via telepon. Menanyakan kabar dan mempersilahkan Bapak untuk menyempatkan diri datang ke rumah saat Beliau ke Jakarta Juli nanti bersama cucunya nonton MU! Alhamdulillah, Bapak mau menyempatkan diri datang dan ingin melihat saya (heheee..).

Dan Beliau juga menanyakan apakah saya sudah mendapat pekerjaan. Tumben, saya dengan ringan menjawab, "Belum, Pak. Saya sudah melamar tapi belum dipanggil-panggil." Beliau mengajak saya untuk berpikir pada jalur lain.

"Insya Allah nanti dapat. Allah belum memberi berarti Allah mau kita merasakan prihatin dulu. Kalau langsung dapat nanti kita kesenengan. Yang penting tetap meminta, saya juga sebagai orang tua hanya bisa mendoakan anaknya."

..............
.............
.............

Saya merasa bersyukur dan adem. Bagaimana tidak, saya memiliki dua Bapak dan Bapak yang satu itu sangat mampu menentramkan hati saya. Doaku untuk Bapak dan keluarga disana, semoga selalu diberkahi kesehatan dan keselamatan. Matur sembah nuwun, Pak.


P.S; Turut berduka cita atas wafatnya ayahanda Bari di Rawa Belong dan ibunda Bang Rahmat MP di Klender. Semoga Allah menerima amal ibadah beliau dan keluarga diberi ketabahan. Amin.




Friday, April 10, 2009

Harapan / Kenyataan

Di tengah ketidakpastian. Terus berdoa kepada Tuhan bahwa ia mampu menjalani semua. Di bawah purnama, ia hirup hawa jalanan berpolutan. Memejamkan mata meyakinkan diri semua akan berjalan baik. Menanamkan benak bahwa Tuhan selalu bersamanya. Aliran darah pun menderas seiring kuatnya hati yang berharap. Membuka mata. Meraba kembali kenyataan. Tapi, yang disayanginya menggenggamnya lembut. Seolah juga dapat merasakan.  Tanpa harus berucap, tanpa harus berseru. Bahwa mereka akan menghadapinya bersama.

040909
Sudirman

Tuesday, February 10, 2009

A-Score-Fetish

 
Jumat kemarin (6/2) saya ngobrol dengan salah satu wartawan Tempo di kantornya berkaitan dengan wawancara soal Laskar Pelangi yang menjadi objek penelitian saya.

Ternyata fisiknya mungil tapi tipikal wartawan, ngomongnya ceplas-ceplos. (haha..saya tidak tahu. Tapi sejauh ini saya mengenal mereka seperti itu). Saya panggil dia, Mbak Kurie. Orangnya santai dan saya selalu menghargai orang yang memperlakukan orang yang baru dia temui tanpa harus kaku dengan segala manner. Kami mengobrol santai di ruang rapat yang kosong sembari dia melahap bakmi ayamnya. Dan saya tahu dia pintar.

Tidak bisa dihindari kami akan berbincang di luar soal penelitian. Awalnya saya menanyakan pola kerja dan bagaimana Tempo mendidik wartawannya, sampai akhirnya saya merasa percakapan siang itu memang klik. Nyambung.

Entah bagaimana mendeskripsikan bagaimana orangtua saya mendidik anaknya. Yang jelas, harus rajin sekolah dan melaksanakan perintah Allah SWT. Saya tidak brilian, tapi saya juga tidak bego-bego amat. Dan sekali saya 'dendam' akan nilai saya yang jeblok, saya bisa menjadi orang yang sangat mengagungkan nilai A.

Kelihatannya saja saya orangnya santai. Padahal di kepala sudah banyak target tapi saya tidak akan menunjukkannya. Karena saya suka sebal dengan orang yang terlalu ambisius mengejar nilai bagus (ingat 'kan masa2 sekolah dulu, ada teman yang kelihatan cari muka?). Tapi adik saya tidak begitu, kok.

Oke, kembali pada obrolan saya bersama Mbak Kurie. Tempo memberlakukan cukup ketat untuk 'menjaga' atau 'mendepak' wartawannya. Singkatnya, jika performa seorang wartawan itu dinilai bagus oleh rekan dan atasannya, dia survive.

"Jadi apakah itu (atmosfir kompetisi) yang membuat Mbak Kurie betah disini?" tanya saya sembari memasukkan majalah ke dalam tas.

"Hmmm..," gumamnya sambil mengaduk-aduk sisa gulungan mie di piringnya. "Saya jadi ingat ketika saya mengambil master di luar negeri. Saya nguping ketika ada seorang anak yang menggerutu bahwa dia ingin semuanya cepat selesai sehingga dia tidak usah memikirkan nasib nilainya lagi. Well, menurut saya itu gak mungkin. Ketika dia sudah lulus dan harus bekerja, nilai yang dia butuhkan lebih besar lagi dan di bangku kuliah belum ada apa-apanya. We must survive."

"Hahahaa. Ya. Justru semua dimulai ketika sudah lulus," ujar saya pelan.

Mungkin bagi yang sudah terbiasa memburu nilai A, sudah memiliki bekal dasar untuk bertempur nanti di dunia kerja. Ah, perasaan saya jadi tidak enak...


Wednesday, October 15, 2008

Penting Itu Relatif

Bagi Anda sesuatu kurang penting, bagi saya justru bisa menjadi penting. Makanya judul yang tepat untuk tulisan saya saat ini.

Saya pernah baca di kaus salah seorang gadis bule di Museum Nasional.
"My friends will become nothing,
 My foes will become nothing,
 Me, will become nothing
 And then, all will become nothing" -Dalai Lama

Kurang lebih begitu inti pesan dari tulisan grafis di kaus gadis berambut kuncir kuda yang sedang berdiri di depan saya.

Ah. Nihilisme? Hmm..entah saya belum tahu. Ketika saya menulis ini, saya belum mengecek lebih jauh 'aliran' Dalai Lama dan Dalai Lama yang mana. Tapi, bisa jadi mengupas tentang kedamaian. Iyalah, manusia sudah sampai pada tahap 'advanced' jika dia bisa menerima semua dengan sangat ikhlas dan legowo. Apapun!

Yaa..karena semuanya ada awal. Dan awal itu, kita yang hanya manusia, akan selesai. Sekarang saya tak ingin bermetafora. Sekarang saya malas bersuperlatif ria. Ketika saya sedih, kamu tak perlu tahu seberapa deras air mata saya. Ketika saya bahagia, kamu tidak usah repot ikut tertawa bersama saya.

Seperti hari ini.

Saya datang memberi senyum kepada teman-teman yang jadi wisudawan.

Hahaha. Terkesan tidak ikhlas ya saya memberi mereka ucapan selamat?

Saya hanya sedih. Bukan iri. Denotasi 'sedih'. Seharusnya hari ini saya juga sama seperti mereka . Bersama mama papa tentunya.

Lucu.

Kenyataan mendesak masuk dan saya harus terima apa yang ada sekarang.

Jadi, kenapa saya harus sedih terus? Cengeng! Semua 'kan akan ada waktunya.

Saya memang berkali-kali ditegur Tuhan karena sombong. Semoga 1429 H / 2008 dan seterusnya saya bisa menjadi perempuan sederhana. Kalau bisa, plus mengenyangkan batin orang.

Satu kata buat kamu, Adel: Cengeng!



Friday, August 29, 2008

EVERY WOMAN SHOULD....

MAYA ANGELOU'S BEST POEM EVER

A WOMAN SHOULD HAVE .....
enough money within her control to move out and rent a place of her own
even if she never wants to or needs to...

A WOMAN SHOULD HAVE ....
something perfect to wear if the employer or date of her dreams wants to
see her in an hour...

A WOMAN SHOULD HAVE ...
a youth she's content to leave behind....

A WOMAN SHOULD HAVE ....
a past juicy enough that she's looking forward to retelling it in her
old age....

A WOMAN SHOULD HAVE .....
a set of screwdrivers, a cordless drill, and a black lace bra...

A WOMAN SHOULD HAVE .....
one friend who always makes her laugh... and one who lets her cry...

A WOMAN SHOULD HAVE ....
a good piece of furniture not previously owned by anyone else in her
family...

A WOMAN SHOULD HAVE .....
eight matching plates, wine glasses with stems, and a recipe for a meal
that will make her guests feel honored...

A WOMAN SHOULD HAVE ....
a feeling of control over her destiny...

EVERY WOMAN SHOULD KNOW...
how to fall in love without losing herself..

EVERY WOMAN SHOULD KNOW...
HOW TO QUIT A JOB,
BREAK UP WITH A LOVER,
AND CONFRONT A FRIEND WITHOUT RUINING THE
FRIENDSHIP.. .

EVERY WOMAN SHOULD KNOW...
when to try harder... and WHEN TO WALK AWAY...

EVERY WOMAN SHOULD KNOW...
that she can't change the length of her calves, the width of her hips,
or the nature of her parents..

EVERY WOMAN SHOULD KNOW...
that her childhood may not have been perfect...but its over...

EVERY WOMAN SHOULD KNOW...
what she would and wouldn't do for love or more...

EVERY WOMAN SHOULD KNOW...
how to live alone... even if she doesn't like it...

EVERY WOMAN SHOULD KNOW...
whom she can trust,
whom she can't,
and why she shouldn't take it personally.. .

EVERY WOMAN SHOULD KNOW...
where to go...
be it to her best friend's kitchen table...
or a charming inn in the woods...
when her soul needs soothing...

EVERY WOMAN SHOULD KNOW...
what she can and can't accomplish in a day...
a month...and a year...

Thursday, June 19, 2008

Mencari Sebelah Hati Yang Sempat Datang

Nun jauh dari kota Bucharest, ada seorang warga Jakarta yang memiliki nasib serupa dengan Nicolas. Namun, belum (dan pasti tidak) lebih jauh mengambil langkah seperti usaha yang dilakukan Nicolas. Sepertinya pepatah witing tresno jalaran soko kulino memang bukan sesuatu yang pasti. Reaksi kimia dalam tubuh dan perasaan manusia bisa timbul dan padam dalam satu jentikan jari. Ajaib!
Silahkan buka website ini:
http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/06/tgl/19/time/083554/idnews/958851/idkanal/10

Friday, April 18, 2008

CURHATAN ANGKATAN TUA

Tanggal            : 15 April 2008
Waktu              : 23.18 WIB
Tempat             : Kasur tersayangku
Mood               : Lelah luar biasa
Lagu                 : Almamateurs by Morrisey

Zianita              : Dhel, boleh ngeluarin uneg2 ga? Knapa ya kayaknya udah mau 4 thn gw kuliah, ga ada sesuatu yang berarti yang gw dapetin. Apa adel merasakan sesuatu yang sama?

Adelia              : Lu kate kagak, Zi. Gw dapat pengetahuan malah dari orang2 disekitar gw, termasuk MP. Makanya, gw bilang kacrut nih kampus, kompensasi buat mahasiswa bayar mahal ga sebanding.Gw ud lakukan kewajiban gw sbg mahasiswa. Tapi yang gw dapat apa dgn selama ini yg udah gw lakukan? Emang kenapa, Zi? Lagi galau, ya? Hehe.

Z          : Gw ngerasa, gw berhenti kerja karena mau kuliah, tapi ternyata di kampus gw ga bisa dapetin apa yg udah gw rela tinggalin (resign kerja). Gw agak rugi aja, ketahuan gw kerja. Jadi, kalau ga ada dosen sekalipun, gw ga rugi2 amat. Dan masih ada yang ngasih gw duit tiap bulan. Ini gw malah buang2 uang & gw ga dapat apa2. Krn skrg di pikiran gw gimana caranya gw bisa menghasilkan uang. Bukannya buang2 uang.

A         : Apa boleh buat? Kita teriak2 ampe jumpalitan belum tentu digubris. Kalau lo mah, rejeki bakal datang, Zi. Tenang aja. Gw yang mesti jemput bola. Sabar ya, Zi. Tenang aja. Nasehat buat diri gw sendiri sih sebenarnya. Yah, setidaknya kita lulus untuk membayar pengorbanan ortu biayain kita kuliah.

Z          : Makanya gw malas ke kampus, kalau ga ada yang penting2 banget. Lulus jd sarjana, ga ada yang bisa ngw banggain dari almamater gw. Tapi, udah pilihan gw sih kuliah di sini.

A         : Gw juga kampus nyampah aja. Gw cuma bisa jalanin yang didepan mata. Kadang gw mikir, apa gunanya nilai A semua di transkrip nilai? Kalau kita gak punya skill dan kalah saingan dengan lulusan yang lebih cling.Huhu. Ya sudah. Semoga matahari esok mencerahkan hari kita. Hop..Hop..!!