Saturday, January 26, 2008

Wisata Cap Go Meh by Komunitas Jelajah Budaya




Komunitas Jelajah Budaya mengadakan acara Wisata Cap Go Meh di Kota. Pokoknya keliling Chinatown di jakarta dah. Gw pergi sama Kiki dan Opi. Seru juga liat pawai dan kuil2 yang masih Cina banget! Budaya Indonesia ternyata memang sangat kaya. Terlepas dari unsur SARA, mereka (warga Tionghoa) berhak hidup damai dan tenang menjalankan kepercayaan dan kebudayaannya

Wednesday, January 2, 2008

Kobongan di Senen




Jakarta (24/12) - Bangunan ruko yang menjadi kantor salah satu RW di bilangan Terminal Senen terbakar akibat korsleting listrik ruko sebelah kantor RW. Tak ada korban jiwa dan saya tidak mencari tahu berapa kerugian akibat kebakaran tersebut. Petugas pemadam mampu memadamkan api hanya dalam waktu satu jam. Hal ini disebabkan warga cepat ambil tindakan dengan segera menghubungi pemadam pada saat api belum menjalar ke ruko sebelahnya,

Saturday, December 29, 2007

KAMPUS MERAH PUTIH: BENCI TAPI CINTA

Apa yang anda lakukan setiap pagi kalau anda baru beraktivitas di siang hari? Kalau saya minum segelas air putih, menonton infotainment (senang lihat yang cakep-cakep, gregetan lihat betapa retoris dan diplomatisnya seleb menjawab pertanyaan), masih leha-leha di sofa sambil sarapan sereal, sampai akhirnya jarum jam menusuk-nusuk bokong saya agar lekas mandi lalu pergi beraktivitas.

Tapi, berhubung empat bulan ini saya harus off tiba-tiba dari seluruh kegiatan sehari-hari saya, jadi belakangan ini tidur saya tambah larut dan bangun tidur saya tambah siang setelah sembahyang sampai saya tidak pernah lagi mendengar suara penjual bubur berteriak di pagi buta. Emptiness syndrome (sindrom ruang kosong) dan berbagai sindrom-sindrom psikis lain yang harus saya nikmati tiap malam membuat pikiran saya sering kemana-mana. Sampai akhirnya, timbul kata-kata umpatan dan betapa payahnya kenyataan lalu saya sadar mungkin itu adalah bagian dari godaan syaitan yang membuat saya tidak mensyukuri nikmat hidup. Namun, satu hal ini, bukan karena godaan syaitan. Karena ini adalah salah satu introspeksi diri dan sok mengkritik keadaan lingkungan saya.

Adakah kampus yang ideal?
Ya. Adakah kampus yang ideal? Maaf. Ini hanya versi saya. Ketika kita bisa menikmati waktu kuliah dan merasakan sibuknya tugas-tugas laknat tapi (padahal) bisa memperkaya wawasan kita, dan MEMBAYAR MAHAL UNTUK PENDIDIKAN, tentu kita berharap lebih pada institusi pendidikan tempat kita menuntut nilai (HA! Yang penting lulus dapat nilai bagus katanya). Sekali lagi, saya hanya sok mengkritik karena terjebak dalam hegemoni petinggi yang sok benar 100%.

Versi ideal MENURUT SAYA:
  1. Dosen yang capable, credible, dan “bel-bel” lainnya. Kreatif, inovatif, kooperatif (tidak apa-apa tegas dan super disiplin tapi harus fair dan tidak egois)
  2. Saat keluar kelas dan pada jam istirahat, tak apa tidak punya kantin, tapi memang seharusnya ada kantin dengan makanan “bersih” dan tidak mahal (walau mahal itu relatif)
  3. Toilet yang ada tiga wastafel, kloset jongkok, pisah untuk laki dan perempuan, kaca, air kran, bersih pastinya!
  4. Buku di perpustakaan juga harus lengkap banget, pakai sistem komputer (disertai kartu yang ada foto kita dan PIN), dan pustakawan yang ramah tapi tegas. Oya, ada internet GRATIS dan ruang AC tentu
  5. Kalau ujian, pakai kartu yang ada foto pesertanya. Tidak perlu pakai sistem komputer segala. Manual tapi “jujur” tak apa.
  6. Komputernya Pentium 4, gigabyte yang besar, bisa on-line, ada daftar nilai dan sistem pembayaran kuliah yang bisa kita akses lewat internet dan ATM
  7. Laboratorium memang harus lengkap dan harus dimanfaatkan
  8. Ruang kelas AC? Jelas!
  9. Ikatan alumni yang solid
  10. TERAKHIR TAPI PENTING! Diperbolehkan cuti hamil & melahirkan, menerima izin untuk mengikuti seminar & workshop yang relevan di luar kampus (jadi absen masuk kelas tak membebani), dan kemudahan bagi mahasiswa yang tidak bisa kuliah dalam jangka waktu tertentu (karena sibuk kerja atau masih sakit dan harus dirawat). Jadi, mereka-mereka itu tidak menjadi mahasiswa marjinal. Mereka masih bisa mengikuti kuliah on-line via internet, mengumpulkan tugas via internet, dan berdiskusi dengan dosen juga via internet. Tidak ketinggalan pelajaran dong, pastinya walau tidak masuk kelas karena alasan yang rasional.
  11. BEASISWA DIMUDAHKAN BIROKRASINYA UNTUK MAHASISWA YANG TIDAK MAMPU SECARA FINANSIAL
  12. Semester pendek bisa untuk memperbaiki nilai dan atau mencuri waktu untuk beberapa mata kuliah di semester selanjutnya
  13. Birokrasi jelas tapi tidak menindas!

Tak usahlah ada parkir mobil. Kendaraan pribadi cuma bisa bikin macet dan polusi. Yang penting ada aula besar buat acara2 kampus seperti konser dan seminar ;)

Itulah top 13 kampus ideal nan simpel versi si penulis. Hmm.., mungkin nanti saya bisa jadi rektor ya biar tidak omong doang! Easier said than done. Tapi, yang paling esensial dan substansial adalah niat dan tekun dari mahasiswa itu sendiri dalam menjalani kuliah. Kuliah sekalipun di universitas unggulan, kalau orang itu malas-malasan, ya sami mawon!

Tapi, yang paling saya sesali adalah saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk teman-teman saya yang terpaksa tidak kuliah karena biaya padahal semangat untuk jadi sarjana masih ada (gelar masih menjadi momok dalam keluarga tertentu & untuk melamar kerja). Siapapun WNI berhak mendapat pengajaran dan pendidikan, YA KAN??? Satu pertanyaan yang selalu ada di kepala: ada apa dengan republik kita?

-Orang kalut yang hanya bisa menulis kegundahan hatinya

Friday, December 21, 2007

Wayang Orang Bharata di Senen




MALAM YANG MENGEJUTKAN

24 November 2k7, 11 pm, sendirian, bingung, crowded!

Saat gue lagi berjuang memotret pertunjukan wayang orang Bharata di Senen, ternyata beda tujuh toko dari gedung pertunjukan ada kebakaran. Walhasil, setengah jam show mau selesai udah mati lampu dan gak maksimal dapat foto yang cihuy!

Yang bikin ngenes, gw sendirian (walau bareng 5 org anak kampus tp tetep aja gw lenggang sendiri) dan sahabat yang gw harap bisa gw andalkan gak bisa dihubungi handphone-nya. Ya Allah, gw sedikit jiper juga! Gw ingat nyawa gw dan kamera poket yang gw bawa karena aura terminal senen jam sebelas malam tuh gimanaaaa gitu walau gw sering lewat situ juga tengah malam.

Tapi, jiwa pemberani gw timbul (hihihi). Gw jepret2 aja sebisa gw dan hasilnya...yaa ahncur hehehe. Alhamdulillah, gw sampai rumah dengan selamat naik taksi. Hahahh..tapi hari itu gw sangat shock. Dari pagi udah liputan ke Ciledug (bo, gw keluar rumah dari jam 7 pagi, luar biasa!), jalan kaki mpe gempor ma teman magang gw, sampai akhirnya hari sabtu gw ditutup dengan kejadian seru (kalau ga mau dibilang shocking!). Hohoho..wonder woman kan gw?? ;p

(foto2nya liat di album bagian atas aja yaps..)

rabu kelabu di malam takbiran biru

 

Date     : Dec 19 2K7

Place    : My bedroom

Time     : 11.12 pm

Mood   : Sick, suck, what else?

Song    : Maria by Blondie

 

If I could tell someone about my day that makes me feel: i-am-the-poor-one. But in fact, I’m only in PMS which is everything seems so suck today.

  1. Saya mengawali hari dengan tanpa gairah. Pilih baju yang mau dipakai hari ini saja bingung
  2. Siangnya, saya jatuh dari motor saat boncengan dengan teman mau ke Kemang. Lantaran kecelakaan kecil itu (keserempet motor SAJA! Pengemudi brengsek yang nabrak itu? Ya.., langsung kaburlah!), batal dapat buku, makan, dan nonton film documenter gratis. Pulang membawa dua luka dan dua memar. Alhamdulillah, we’re OK anyway.
  3. Perpus di kampus sampah. Buku kurang lengkap, fasilitas komputer minim, no hotspot, no Xerox, haahhh..capek deeehh. Dikorup tuh duit gue dan teman2 gue!
  4. Sepertinya semua orang Jakarta norak mau pulang naik busway malam ini. Halte transit busway semua penuh BANGET! Bercampur dengan supporter tim Indonesia versus durmont belanda. Bah! Tak perlu nonton berita, paling juga Indonesia kalah…
  5. Akhirnya, saya memutuskan dari Harmoni balik lagi ke Sarinah (Thamrin-Sudirman dipastikan macet)
  6. Niatnya dari Sarinah mau naik taksi sampai rumah. Ternyata susah dapat taksi kosong. Terpaksa jalan sampai Tony Roma’s Agus Salim. Lumayan bikin garing nunggu satu jam di pinggir jalan jaksa (dan pupil mata gw tergenang sedikit air mata yang siap membuncah)
  7. Mau sih minta tolong sama siapaaa gitu minta jemput. Tapi saya ‘kan wonder woman. Saya tidak butuh bantuan siapapun karena saya kuat (wiueeuuuww.. sounds cynical, huh??).
  8. Tapi, lama2 saya frustasi. Balik lagi jalan kaki sampai gedung PBB thamrin, dan menyetop mobil kalong. Lumayanlah irit ongkos taksi. Jakarta busuk!!!
  9. SMS diterima. My Beloved Mom. Message: Jangan suka pulang malam, kalau habis kuliah langsung pulang, dilihat orang perempuan pulang malam-malam sendirian kurang bagus. HELLOOO??? Sekalipun Presiden melarang saya pulang malam, saya tidak peduli.
  10. Saya menginjak kotoran kucing. Sangat tepat diasosiasikan hari ini dengan tai.
  11. Kadang, saya ingin sinis terhadap Tuhan….tapi saya tidak bisa. Saya ingin cintaNya!!!

Thursday, October 18, 2007

Dapoer Babah


Rating:★★★★★
Category:Restaurants
Cuisine: Asian
Location:Jl. Veteran, samping restoran es krim italia Ragusa
This is my paradise. Setiap lewatin restoran ini dulu pake tampang mupeng segala. Tapi akhirnya kesampaian dinner di sana. .haha..yang jelas, ibuku sampai bingung pas masuk ke resto ini, katanya "bener ini restoran? kok kayak kuil?" Hehehe memang interiornya didesain mirip rumah kuno Tionghoa dg foto2 hitamputih, arca2 kuno, dupa, pokoknya kita kayak kembali ke zaman kolonial dulu (sok tahu! Aku kan baru lahir thn 87 hihihi). Yang punya org Cina yg dulu tinggal di Indonesia. Selain di Jakarta, juga ada di Malang, Yogya, dan resto ini anak perusahaan HotelTugu yg di Malang itu.Ambience-nya keren. Lampu remang-remang, piring yang gede-gede, nuansa cat merah, hmm..what can i say? I juz amazed!

Tuesday, September 18, 2007

Jakarta Bau Pesing Bikin Pusing

Oke, mau cari apa di Jakarta, Pak, Bu? Mau makan yang enak-enak? Jangan khawatir. Di Jakarta ini mau makan 3 M (murah, meriah, mencret), bisa. Mau makan mewah ala carte atau apalah itu namanya yang kebarat-baratan, juga tersedia. Makan di Jakarta itu murah dan enak bisa kita nikmati. Tidak seperti di London. Mau makan malam saja menghabiskan nominal poundsterling begitu banyak. Biaya makan malam memang London paling mahal disbanding negara lain. Di Jakarta, tidak usah bingung. Mau makan di pinggir jalan yang piringnya hanya dicuci dalam satu ember tanpa sabun atau makan di restoran mewah dengan table manner? Terserah pilihan anda (dan isi dompet anda tentunya).

Selanjutnya, masih seputar kota Jakarta yang bisa anda nikmati berbagai keunikan ragam budayanya. Museum Sejarah Jakarta yang dulu adalah gedung pemerintahan Gubernur Jenderal Hindia Belanda sampai cagar budaya Betawi di Setu Babakan. Dan jangan lupa mampir ke Kota Tua, “tempat pengasingan diri” buat yang lagi sumpek dengan modernisasi. Atau Ancol, Taman Mini, sampai Bliss, you name it, you got it!

Sampai ke tempat “WC Dadakan di Jalanan” ada juga di Jakarta. Ketidaktertiban penduduk Jakarta memang menjadi salah satu persoalan yang “menggemaskan” di Jakarta. Salah satunya adalah kawasan-kawasan ramai. Lihat dalam konteks tempat ramai yang menjadi pusat transportasi pada khususnya. Ada benang merah antara:
1. Terminal bis Senen
2. Pangkalan bajaj samping Gedung Sarinah
3. Pojok-pojok terminal bis Pulo Gadung, dan
4. Tempat-tempat mangkal angkot lainnya.

Bukan. Bukan polusi, bukan juga copet, atau pengamen. Ada aroma khas menguap dari aspal yang menjadi alas tempat-tempat tersebut,…ehm.., uhuk-uhuk, bau pesing..! Yang pertama terlintas di benak kita adalah pasti banyak yang pipis sembarangan di sini. Dan mereka itu..ups, para lelaki. Di sini mengindikasikan bahwa: ada kemalasan untuk menjaga kebersihan, atau ada minimnya fasilitas kebersihan di kota (sebesar) Jakarta.

Kedisiplinan memang menjadi salah satu akar yang tidak diterapkan pada diri penduduknya. Disiplin bersih masih sangat jauh dari harapan. Ambil generalisasi bahwa Jakarta kota yang kotor. Dibalik gedung-gedung pencakar langit yang kinclong, dibelakangnya ada tumpukan sampah dan bau pesing, bau amoniak penduduknya sendiri. Tidak perlu saling menyalahkan. Pemerintah yang tidak peduli dengan soal kebersihan atau penduduk yang tidak bisa menjaga kebersihan lingkungannya. Kita mulai dari diri sendiri saja. Soalnya kasihan Jakarta… Dia pusing lihat dirinya yang kotor. Tak apa menjadi orang sok bersih. Memang Jakarta kotor, lantas kenapa?


Biar Mereka Berpesta

Menunggu memang menyakitkan. Melupakan juga menyakitkan. Tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan adalah penderitaan yang paling menyakitkan. Ya, itu aku. Setiap hari aku begitu. Karena aku hanyalah benda berkaki empat yang manusia bilang kursi. Walau aku berlapis emas dan memiliki predikat istimewa, tetap saja aku hanya sebuah kursi. Dan hakikat kursi adalah menunggu. Menunggu sabar tawakal, tak mengeluh, tak ada gerutu menyembur keluar. Dan setiap setahun sekali seseorang entah siapa sekonyong-konyong duduk. Kadang orang yang sama, kadang berbeda.

Aku tetap menunggu di dalam ruangan besar ini. Ruang utama Istana Negeri Ang Nekir. Negeri kecil yang tandus dengan populasi padat. Sudah berpuluh-puluh tahun aku menjadi penghuni tetap di negeri berpenduduk ribuan orang ini. Rakyatnya hidup berkecukupan bahkan ada yang berlebihan. Ini disebabkan perdagangan di Ang Nekir maju pesat dan banyak bekerja sama dengan negeri-negeri makmur disekitarnya. Sektor ekonomi memang menjadi kekuatan di negeri ini.

Aku cukup senang berada di Ang Nekir karena aku menjadi, yah boleh dibilang, rebutan. Tubuhku dilapisi emas. Yang menduduki aku dijadikan panutan. Seorang presiden yang disorot ribuan orang. Namun, menjadi orang nomor satu di Ang Nekir tidaklah mudah. Malah, menurutku bukan sebuah prestise. Bukan sebuah hal yang patut disombongkan. Yah, kukira begitu. Tapi, apakah kalian percaya dengan penuturanku? Karena aku hanya sebuah kursi. Namun, yang harus kalian tahu, aku menjadi saksi bisu. Saksi bisu kebusukan dari para pemimpin yang rakus. Seperti seekor tikus.

Padahal pada zaman Nabi Muhammad saw, sahabat Nabi tidak gila pada sebuah jabatan jika ditunjuk menjadi seorang pemimpin. Malahan mereka mengucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun”. Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali. Hal ini disebabkan mereka sangat takut tak mampu mengantarkan rakyat yang dipimpinnya ke surga.

Sekarang musim panas di Ang Nekir. Untuk sementara ini, aku kesepian. Karena aku berada di ruang utama istana tapi tanpa seorang presiden didalamnya. Yang dulu sudah lengser. Oh ya, presiden sebelumnya perempuan. Memang sekitar 70% perempuan mendiami negeri ini. Dan sudah dua periode aku menjadi sandaran para perempuan itu. Sayang, sentuhan para perempuan belum mampu menghidupkan suasana negeri ini. Semuanya masih statis. Seperti berjalan di tempat. Malahan dari sekian presiden ada yang mewarisi cerita memalukan di masa kepemimpinannya. Bukan seksis. Tapi memang begitulah adanya. Sungguh aku merasa bersalah mengapa aku tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi, apa daya. Aku hanya sebuah kursi.

Seperti biasa aku masih menunggu. Dari pembicaraan orang-orang di luar, aku tahu sekarang sedang ada pesta. Pesta? Ah, ya. Aku hampir lupa. Sudah saatnya pemilihan presiden baru. Berarti sekarang aku jadi rebutan lagi. Hahaha. Tapi siapa saja yang ingin menduduki aku? Sayang aku tidak bisa melihat mereka. Wajah baru atau lama? Atau wajah baru yang menjadi topeng wajah lama? Orang-orang itu bilang ini pesta demokrasi. Bebas menyatakan pendapat, bebas berpartisipasi dalam politik, bebas memilih apa yang mereka mau, dan bebas berekspresi. Bahkan mungkin bebas menjatuhkan lawan. Ups, awalnya memang bebas tapi ada batas. Namun yang ada malah bebas tak menghiraukan batas. Batas norma, batas etika, batas logika. Menjadi gregetan aku dibuatnya.

Apa yang salah dengan negeri ini? Rakyat hidup cukup dan mendapat pendidikan layak. Manusia intelektual pun ikut andil memajukan Ang Nekir. Sekilas memang baik. Sekelebat memang bagus. Namun, buka lebar mata dan telinga. Kesalahan itu seperti bakteri. Lihat dimikroskop dan akan terlihat jelas dimana boroknya. Kalau kamu peduli. Ya, kalau kamu, kita, dan mereka peduli dan mau memperbaikinya dengan itikad baik. Karena aku berada didalam ruangan ini bersama janji-janji para pemimpin itu. Tapi janji mereka entah kenapa menguap begitu saja. Kata orang itu politik. Semua menjadi legal dalam politik. Apapun menjadi berlian dalam politik, meski orang-orang itu sadar politik tak ubahnya kubangan lumpur.

Aku memang hanya sebuah kursi. Tapi aku cukup banyak tahu tentang manusia. Mengingat seluruh hidupku kuhabiskan untuk mereka. Dan sekarang segera aku akan memiliki "tuan" baru. Tapi siapa yang bisa menjamin bahwa tuanku itu akan menggunakan ketajaman otak, keberanian hatinya, dan segala pengetahuan yang dimilikinya untuk kebaikan rakyat dan kelestarian hidup di atas bumi Ang Nekir? Sebab tidak ada jaminan manusia brilian sekalipun mampu membesarkan hati nuraninya seperti dia mampu "membesarkan" otaknya. Bahkan ada banyak kisah orang-orang yang pintar menjadi sangat berbahaya bagi manusia lainnya jika mereka tidak memiliki nilai etis, tidak beradab, dan tidak berbudaya. Kalaupun orang-orang pintar itu tidak memegang kekuasaan, bisa saja mereka menjual ilmu dan keterampilannya untuk kepentingan tertentu, baik itu kepentingan politik atau kekuasaan keuangan. Karena sampai hari ini pun puluhan ribu sarjana yang pintar-pintar bekerja untuk industri peperangan di seluruh dunia.

Jadi, aku masih harap-harap cemas menunggu. Apakah Presiden Ang Nekir-ku itu manusia etis atau manusia maha pintar? Dan jika pesta demokrasi itu hanya menjadi panggung sandiwara untuk meramaikan agenda tahunan negara, aku hanya bisa membiarkan mereka berpesta...
(adhelya)

*Ilustrasi verbal Pemira Ketua Senat Fikom UPDM (B) Oktober 2006


Politik Ala Anak Muda Inggris

Belajar politik? Jangan bete dulu. Jangan juga membayangkan urusan yang berat, buku-buku tebal, dan masalah yang bikin bingung. Tahu nggak sih, ternyata belajar berpolitik bisa menguntungkan kita-kita. Setidaknya yang seperti ini pernah dialami oleh teman-teman kita dari Inggris: Emma Bierman (19), Laurent Sullivant (18), Alicia Kearns (18), dan Alex Sarrow (16).

Mereka ini adalah anggota United Kingdom Youth Parliament (UKYP). Biar masih berusia muda, 11-18 tahun, mereka ini ternyata sudah menjalankan fungsi sebagai wakil rakyat. Tapi, berkat peran mereka jadi wakil rakyat, mereka berhasil menggolkan salah satu program mereka, yaitu bebas pungutan ongkos bus. Menarik? Pasti. Nah, mereka berempat yang datang atas undangan British Council dan dan didukung oleh Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) serta Komite Anti Kekerasan (KAK) ini nih yang bakal berbagi pengalaman dengan kita-kita.

Ceritanya berawal dari adanya Youth Parliament Inggris (UKYP) atau Parlemen Muda. Seperti namanya, anggota parlemen ini memang anak-anak muda dan mereka juga mewakili anak muda seusia mereka. Anggota UKYP yang ada di Inggris, menurut Alex Sarrow, jumlahnya ada 400 orang. Mereka berasal dari berbagai wilayah di Inggris. Gimana ceritanya sampai mereka bisa menggolkan program bebas ongkos bus, Alex, yang merupakan salah seorang anggota UKYP yang termuda, berkisah.

Kata cowok yang menjadi wakil dari Kota Glouchestreshire, sebelum duduk sebagai anggota UKYP, pelajar Cirencester College ini sangat merasa terganggu dengan tarif bus. Soalnya, tarif bus untuk pelajar dipatok sama dengan tarif untuk orang dewasa. `'Ini tidak adil. Seharusnya ada tarif khusus atau bus khusus untuk pelajar,'' ujar Alex. Soal tarif bus ini akhirnya menjadi isu yang diangkat Alex sebagai tema kampanyenya.

Jadi, kalau mau menjadi anggota UKYP, Alex maupun anak muda lainnya diwajibkan mengangkat isu tertentu untuk kampanye mereka. Dari isu yang mereka lontarkan itulah nantinya para anak muda memilihnya untuk kemudian menjadi wakil daerahnya yang duduk di UKYP. Kampanye ala Parlemen Muda Inggris ini memang beda dengan kampanye yang biasa dilakukan seperti di Indonesia. Meski melontarkan isu, mereka tidak perlu mengungkap jati dirinya, sehingga para pemilih sebetulnya tidak memilih orang. Statement yang mengangkat isu tertentu dan memperoleh suara terbanyaklah yang akhirnya bisa duduk sebagai wakil di Parlemen Muda Inggris ini.

Ternyata, isu yang dilontarkan Alex menarik perhatian remaja sono. Sebelum aturan tersebut digolkan pemerintah Inggris, para anggota Parlemen Muda ini harus mengumpulkan 15 ribu tanda tangan anak muda yang kemudian ditunjukkan kepada PM Inggris Tony Blair. Setelah itu, `'Mereka kemudian mendapat pengakuan pemerintah dan berlaku di dua daerah,'' ujar Mona Monica, manajer public relations British Council.

Selain Glouchestreshire, aturan tentang bebasnya pelajar dari ongkos angkutan bus juga telah berlaku di London. Alex sendiri berharap, aturan tentang bus gratis itu bukan hanya berlaku di Glouchestreshire dan London saja. `'Kita sedang berjuang agar semua wilayah di Inggris Raya pelajarnya tidak perlu membayar tarif bus,'' ujar Alex.

Selain bus gratis, isu lain yang sedang diperjuangkan anggota UKYP adalah hak memilih untuk anak usia 16 tahun, pelarangan intimidasi melalui internet, dan beberapa isu lain terkait persoalan remaja. Hak memilih untuk anak usia 16 tahun ini sedang giat-giatnya mereka kampanyekan dan perjuangkan, karena Pemilu di Inggris Raya sudah akan berlangsung beberapa bulan lagi.

Sedangkan untuk larangan melakukan intimidasi melalui internet, saat ini juga sedang dipikirkan anggota UKYP. Kata Alex, anak muda di Inggris banyak yang menggunakan internet maupun fasilitas SMS di telepon seluler untuk mencaci-maki, mengeluarkan hujatan, maupun intimidasi yang sangat kasar kepada orang-orang yang tidak disenangi. Karena itu, UKYP sedang menggodok sebuah sistem atau aturan main agar hal seperti itu bisa dikurangi atau ditiadakan sama sekali.

Kehadiran UKYP ini memang melengkapi kerja anggota Parlemen Inggris Raya. Kehadiran mereka diakui oleh pemerintah Inggris, bahkan mendapat dukungan dana dari Pemerintah Inggris. Namun, lahirnya sebuah keputusan, selalu dijalankan mulai dari kawasan terkecil hingga ke tingkat lebih besar hingga akhirnya disetujui pemerintah. `'Jadi, mereka ini ibarat perpanjangan tangan pemerintah yang terorganisasi dengan baik,'' ujar Mona.

Ketika berkunjung ke Indonesia dan sempat berdialog dengan sejumlah teman-teman kita yang sebagian besar pelajar SMU, remaja Inggris ini sempat juga memberikan solusi tentang perkelahian pelajar. Soal itu, Alicia yang juga anggota UKYP mengajukan usul. Caranya, setiap sekolah dianjurkan membentuk satu tim olahraga di mana dalam tim tersebut berbaur semua sekolah. `'Jadi, bukan tim sekolah A melawan sekolah B, tapi dalam satu tim A dari dua sekolah melawan satu tim B yang anggotanya juga dari dua sekolah. Itulah pembaurannya,'' ujar Alicia.
Hmm, boleh juga...