Tuesday, May 26, 2009

We 'Loft' Our House


Di Indonesia, mungkin masih asing dengan
loft, yaitu tempat tinggal 'mini' berupa loteng yang bisa menampung berbagai aktivitas pemiliknya. Sekilas mungkin tampak seperti apartemen, tapi loft biasanya berukuran jauh lebih kecil. Untuk memenuhi life style, loft mulai banyak dilirik oleh kaum berada di kota metropolis, khususnya eksekutif muda sampai kalangan artis yang menginginkan gaya hidup masa kini.


Aslinya, loft merupakan tempat tinggal 'buangan', karena tempatnya berupa loteng-loteng sempit. Loft dulunya sebagai tempat pelarian para seniman di Manhattan, karena mereka tidak memiliki tempat tinggal akibat tergusur kaum borjuis dan pabrik-pabrik yang menempati tanah mereka. Kemudian para seniman tersebut membangun tempat/ruangan berukuran kecil untuk memenuhi kegiatan mereka untuk tidur, makan, melukis, mandi, dan lainnya.


Loft mulai dikembangkan di Los Angeles pada 2001. Dimana adanya undang-undang yang memaksa penduduk untuk tinggal tidak berdekatan dengan pabrik maupun perkantoran. Hal inilah yang mempelopori para pengembang untuk mendirikan loft-loft baik yang murah sampai yang mahal sesuai kebutuhan.


Saat ini jumlah loft di Indonesia masih bisa dihitung. Mungkin sementara ini hanya ada di Jakarta. Dan jangan ditanya mengenai harganya. Kita harus merogoh kocek puluhan bahkan ratusan juta, bahkan ada pula loft yang harganya lebih mahal daripada membeli rumah beserta tanahnya.


Maklumlah, banyak orang yang lebih mengagungkan prestise dan manyampingkan materi. 'Loteng' yang harganya selangit itu biasanya diisi dengan furnitur yang lengkap, bahkan bisa diisi sesuai selera warna, tipe, maupun tekstur dari pemilik loft.

Tapi, lahan yang terbatas tak jadi halangan untuk memiliki rumah impian. Dengan kreatifitas dan usaha ekstra, home sweet home tetap dapat tercipta. Sumber:Kapanlagi.com ( http://www.kapanlagi.com/a/loft-of-my-life.html )


Setelah punya rumah, apa cita-citamu? Kecil saja: ingin bisa sampai di rumah saat senja supaya saya dan senja sempat minum teh bersama di depan jendela. - Joko Pinurbo

Tips:
- Pilih furnitur yang simpel, tak banyak pernik, dan ukuran midi (sedang).
- Salah satu dinding dapat dilapisi kaca yang mampu memberi kesan luas pada ruangan
- Perabot seperti lemari atau rak, pilihlah yang 'built in'
- Beri aksentuasi warna cerah pada bantal sofa, lukisan, atau bentuk furnitur yang bergaris dinamis dan modern
- Aksentuasi cukup pada 1-2 item di satu ruangan untuk pusat perhatian

Gambar: hasil googling dan dokumentasi stephendavid

Saturday, May 9, 2009

Sajadah Merah dan Bisikan Malam

Malam ini. Mulai lagi.

Aku tak pernah keberatan ketika dia menggelarku dan mulai berdiri melihat ke ujung kepalaku. Aku tergelar di ubin dingin kamarnya atas nama kesetiaan. Aku sudah ditakdirkan untuk setia selamanya padanya. Aku dan dia membentuk visual sebuah sudut siku-siku. Dia berdiri dengan tegaknya dengan pakaian semacam jubah lebar dan menutup kaki. Dan aku disini. Menunggunya duduk bercerita. Ada apa lagi dengannya?

Warnaku merah. Dia sangat menyukai warna merah pada benda sepertiku. Entah. Mungkin secara psikologis, warna merah sering diartikan sebagai warna penyemangat (tak usah disangkutpautkan dengan kemarahan.) Lebih tepatnya warna merah yang selalu kebasahan. Bagaimana tidak, aku sering dimandikan dengan air matanya. Air mata yang mengandung banyak kegelisahan dan keharuan.

Dia sering begitu. Dia suka bercerita apa saja pada Tuhannya. Dia selalu berdoa untuk semua orang yang dia sayangi. Meski kenyataannya, dia bisa saja menjadi orang yang paling menyebalkan seantero jagad. Dia tidak suka dianggap manis karena dia "mendingan" dianggap ngeselin sekalian tapi sebenarnya dia orang yang sangat tidak tegaan. Aneh. Dia salah seorang yang aneh diantara banyak manusia yang aneh.

Dan malam ini si bebal memohon ampun lagi. Sederhana. Orang-orang tak perlu repot "memperhatikan"-nya. Dia hanya perlu dirinya sendiri dan Tuhannya. Semua yang dia lakukan, hanya untuk orang-orang terkasihnya. Dan dia sering bergumam diatasku, katanya dia tak mengharap apa-apa. Selain Tuhan berbaik hati mengampuni atas semua kekhilafan yang telah dia lakukan dan dia sering mengeluarkan air mata itu untuk hal itu... Termasuk malam ini.

Dia hanya duduk diatasku. Diam. Sedetik dua detik dia sering berbisik-bisik. Bisikan itu istigfar. Dan doa untuk sebuah kekuatan.

Wednesday, May 6, 2009

Graduation Day 170309





Saya anggap ini adalah akhir dari cerita lika-liku sebagai mahasiswa. Tapi dunia menganggap hari ini adalah momentum saya harus hadapi dunia yang sebenarnya. Menyesal? Tidak! Saya anggap ini sebagian kecil dari aktualisasi diri. Sekarang, saya masih mempertimbangkan apakah saya ambil beasiswa S2-nya atau tidak.



Terima kasih banyak saya haturkan:
1.papa, mama, opi yg aku sayangi dgn setiap serat tubuhku
2.pak ipul dan pak yudi yg bersedia menjadi dosen pembimbing dan atas segala saran serta bantuan Bapak.
3. Isma, Eka, Puri, Riani, Novi, Zianita. I love u so much, gals...
4. Media Publica. What can i say? I'm 'bigger' because of u
5. Andreas Harsono dan Priyo Santosa atas teori jurnalistiknya
6. Kurie Suditomo Tempo atas kesediaannya utk saya wawancara
7. Mas Pepi yg mau benerin laptop saya
8. Teman2 yg sama2 puyeng di perpustakaan era Nov08-Feb09
9. Estu Santoso. Jangan pernah bosan berusaha & berdoa untuk kita yang lebih baik
10. Anda. Yang telah mewarnai hari-hari saya






Friday, May 1, 2009

Cerita Satu Hari di Kamis Mendung

Siang ini Jakarta diguyur hujan deras yang menggoda untuk tetap diam di rumah dan membatalkan janji dengan teman saya. Tapi, berhubung saya sudah 'gerah' di rumah dan janji adalah utang, saya membuang jauh rasa malas dan bergegas mengurus keperluan saya hari ini.

Ketika saya ke bank (ah, ini karena kecerobohan saya lupa mencatat PIN atm baru. Ugh!), saya ditawari account di salah satu program tabungan yang menurut saya resikonya rendah. Sebut saja kali, ya, saya akhirnya setuju membuka account di Tabungan Rencana Mandiri. Simpelnya, tak ada salahnya menabung, lagipula persyaratannya cukup mudah dan saya bisa memiliki simpanan untuk "keselamatan finansial". Hehee..

Berbincang sebentar dengan Costumer Service, saya 'ditantang' untuk menaruh aplikasi lamaran saya di Bank Mandiri dan dia bisa membantu mengirimkannya karena setiap hari ada supir dari kantor kanwil yang mengantar surat2 kantor. Hmmm, kenapa tidak? Namanya juga usaha dan saya pun tidak berharap banyak, tidak seperti caleg yang stres karena memasang target kelewat tinggi...*hooppp!!! balik lagi ke topik..*

Hujan mereda dan saya sampai di kampus yang sudah diramaikan oleh acara musik (kampus saya kebanyakan 'seniman'. Hihihi). Namun, saya mendapat kabar duka bahwa ayah teman sekelas saya pas kuliah meninggal dunia. Saya berniat ke rumah teman saya selepas solat magrib di kampus karena teman saya ini orangnya sangat baik. Saya dijenguk olehnya ketika saya bolak-balik diinfus di RS dan bersedia mengantar saya ke Palmerah siang bolong.

Pas sebelum solat magrib saya lagi-lagi mendapat kabar duka bahwa ibu dari senior saya di kampus meninggal dunia, juga karena sakit. Lalu, ketika saya melewati daerah Palmerah, juga ada bendera kuning plastik lain yang bertengger di mulut gang. Innalillahi wa inna ilaihi raji'uun...

Untung saya sampai di rumah teman saya dengan selamat dan tidak nyasar (hahay, saya tidak takut nyasar, kok!). Kondisi teman saya baik dan terlihat sabar, bahkan dia masih sempat cubit-cubit lengan saya, dan balasannya saya selalu menggeram kesal padanya.

Pulangnya, saya meneduh di mulut gang di kedai kopi yang tutup. Di situ ada seorang Bapak sedang nongkrong sambil merokok. Dan saya suka mengobrol dengan orang asing. Tapi ini sangat mengandalkan insting saya dan alhamdulillah selama ini saya dilindungi Allah SWT. Kami bercerita (dan saya bercerita ala kadarnya) dan begitu tahu bahwa saya seorang jobseeker, Bapak itu turut mendoakan agar saya segera dapat kerja (AMIN!) dan insya Allah berjodoh dengan pria yang akan menjemput saya sebentar lagi. Amin, amin!

Waktu sudah menunjukkan jam 21.30. Ketika sampai di rumah, saya mengobrol sebentar dengan Bapak via telepon. Menanyakan kabar dan mempersilahkan Bapak untuk menyempatkan diri datang ke rumah saat Beliau ke Jakarta Juli nanti bersama cucunya nonton MU! Alhamdulillah, Bapak mau menyempatkan diri datang dan ingin melihat saya (heheee..).

Dan Beliau juga menanyakan apakah saya sudah mendapat pekerjaan. Tumben, saya dengan ringan menjawab, "Belum, Pak. Saya sudah melamar tapi belum dipanggil-panggil." Beliau mengajak saya untuk berpikir pada jalur lain.

"Insya Allah nanti dapat. Allah belum memberi berarti Allah mau kita merasakan prihatin dulu. Kalau langsung dapat nanti kita kesenengan. Yang penting tetap meminta, saya juga sebagai orang tua hanya bisa mendoakan anaknya."

..............
.............
.............

Saya merasa bersyukur dan adem. Bagaimana tidak, saya memiliki dua Bapak dan Bapak yang satu itu sangat mampu menentramkan hati saya. Doaku untuk Bapak dan keluarga disana, semoga selalu diberkahi kesehatan dan keselamatan. Matur sembah nuwun, Pak.


P.S; Turut berduka cita atas wafatnya ayahanda Bari di Rawa Belong dan ibunda Bang Rahmat MP di Klender. Semoga Allah menerima amal ibadah beliau dan keluarga diberi ketabahan. Amin.




Friday, April 10, 2009

Harapan / Kenyataan

Di tengah ketidakpastian. Terus berdoa kepada Tuhan bahwa ia mampu menjalani semua. Di bawah purnama, ia hirup hawa jalanan berpolutan. Memejamkan mata meyakinkan diri semua akan berjalan baik. Menanamkan benak bahwa Tuhan selalu bersamanya. Aliran darah pun menderas seiring kuatnya hati yang berharap. Membuka mata. Meraba kembali kenyataan. Tapi, yang disayanginya menggenggamnya lembut. Seolah juga dapat merasakan.  Tanpa harus berucap, tanpa harus berseru. Bahwa mereka akan menghadapinya bersama.

040909
Sudirman

Tuesday, February 17, 2009

Catatan Hati di Setiap Sujudku


Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author:Asma Nadia, dkk
Terima kasih, Opie, sudah menghadiahiku buku ini. Ternyata telepati kita nyambung, ya. Aku pengen buku ini dari kapan tahu tapi tertunda terus kalah sama barang lain yang harus aku beli. Bukunya bagus sampai aku gak berhenti baca dari cerita satu sampai terakhir karena dalam buku ini persis kumpulan cerpen tapi nonfiksi. Kamu baca cerita pertama aja udah sedih banget, kan?

Di setiap udara yang kau temukan
Di sana akan kau jumpai Allah
Yang senantiasa mendengar doamu

Kalau aku ditanya tentang bait di atas, aku bakal jawab, “Iya. Gue bangeeett..!” Setiap aku mau tidur, bangun tidur, selagi bengong di kamar mandi, selagi jalan kaki (pokoknya ‘me time’) aku sering review apa yang sudah terjadi dan membayangkan apa yang akan terjadi. Alhamdulillah, aku bisa berpikir objektif jadi lebih santai.

Eh, tahun ini kita berdua sama-sama punya target lulus, ya? Makanya kita lagi rajin-rajinnya salat. Hehee. Ada maunya. Tapi, nyadar gak sih kalau Allah memang suka dipinta? Dia Yang Maha memampukan yang tak berdaya. Dia yang menjadi segenap tumpuan doa. Dan Dia suka dirayu, kita mengiba pada-Nya. Siapa sih yang tidak suka dirayu sama seseorang yang kita sukai?

Dan kita hanya perlu meminta. Insya Allah Dia akan memberi jalan yang tidak terduga.

Semoga usiaku yang ke-22 ini segalanya dilancarkan oleh Allah dan diberi kekuatan apapun yang terjadi. Walau aku masiih punya banyak salah, bisa jadi orang yang jahat, tapi Allah tetap memberikan aku karunia yang tak ternilai; mama papa, adik, sahabat, mas Tatu, rezeki sehat dan napas di ruang matahari yang selalu bersinar berganti dengan bulan yang malu-malu temaram. Kadang aku kalau lagi waras sering terbersit, kita semua kecil banget. Ini sebuah insting. Perasaan. Bahwa ada sesuatu zat yang besar. Allahu Akbar.

Tuesday, February 10, 2009

A-Score-Fetish

 
Jumat kemarin (6/2) saya ngobrol dengan salah satu wartawan Tempo di kantornya berkaitan dengan wawancara soal Laskar Pelangi yang menjadi objek penelitian saya.

Ternyata fisiknya mungil tapi tipikal wartawan, ngomongnya ceplas-ceplos. (haha..saya tidak tahu. Tapi sejauh ini saya mengenal mereka seperti itu). Saya panggil dia, Mbak Kurie. Orangnya santai dan saya selalu menghargai orang yang memperlakukan orang yang baru dia temui tanpa harus kaku dengan segala manner. Kami mengobrol santai di ruang rapat yang kosong sembari dia melahap bakmi ayamnya. Dan saya tahu dia pintar.

Tidak bisa dihindari kami akan berbincang di luar soal penelitian. Awalnya saya menanyakan pola kerja dan bagaimana Tempo mendidik wartawannya, sampai akhirnya saya merasa percakapan siang itu memang klik. Nyambung.

Entah bagaimana mendeskripsikan bagaimana orangtua saya mendidik anaknya. Yang jelas, harus rajin sekolah dan melaksanakan perintah Allah SWT. Saya tidak brilian, tapi saya juga tidak bego-bego amat. Dan sekali saya 'dendam' akan nilai saya yang jeblok, saya bisa menjadi orang yang sangat mengagungkan nilai A.

Kelihatannya saja saya orangnya santai. Padahal di kepala sudah banyak target tapi saya tidak akan menunjukkannya. Karena saya suka sebal dengan orang yang terlalu ambisius mengejar nilai bagus (ingat 'kan masa2 sekolah dulu, ada teman yang kelihatan cari muka?). Tapi adik saya tidak begitu, kok.

Oke, kembali pada obrolan saya bersama Mbak Kurie. Tempo memberlakukan cukup ketat untuk 'menjaga' atau 'mendepak' wartawannya. Singkatnya, jika performa seorang wartawan itu dinilai bagus oleh rekan dan atasannya, dia survive.

"Jadi apakah itu (atmosfir kompetisi) yang membuat Mbak Kurie betah disini?" tanya saya sembari memasukkan majalah ke dalam tas.

"Hmmm..," gumamnya sambil mengaduk-aduk sisa gulungan mie di piringnya. "Saya jadi ingat ketika saya mengambil master di luar negeri. Saya nguping ketika ada seorang anak yang menggerutu bahwa dia ingin semuanya cepat selesai sehingga dia tidak usah memikirkan nasib nilainya lagi. Well, menurut saya itu gak mungkin. Ketika dia sudah lulus dan harus bekerja, nilai yang dia butuhkan lebih besar lagi dan di bangku kuliah belum ada apa-apanya. We must survive."

"Hahahaa. Ya. Justru semua dimulai ketika sudah lulus," ujar saya pelan.

Mungkin bagi yang sudah terbiasa memburu nilai A, sudah memiliki bekal dasar untuk bertempur nanti di dunia kerja. Ah, perasaan saya jadi tidak enak...


Sunday, February 8, 2009

A Night in The Old Town







Actually, this is my “little project”. I have some intentions to re- design of my life. I think I should do some advantage things to improve my English, for instance, because I have less grammar. Okay, so I will tell u about my happiness because we sometimes must bored if someone tells u about sadness, right? (but it’s all OK if u had very generous friends).

On beautiful Wednesday afternoon, I and Puri treated our college friends at Blok M, somewhere in South Jakarta and many young people hang out with their fellows there. I know even though we’re slim women but we have an enormous taste for food. Any kinds of halal-food. So, we ate roasted chicken at the edge of Blok M area. And ribs. Ooohhh..what a food! ( I don’t tell u where the restaurant is. They don’t endorse us. Hahaha)

We’re women who called “wonder women”. While we’re together, we have to do some adventurous. No, no..we don’t want to go to malls. It just waste our (limited) budget. We usually do some fun, cheap, and the point is we take many pictures. Narcissism! FYI, Jakarta has no art if it only was built for jet-set-places. Since Jakarta has many artsy spots, we decided to get insane at Kota Tua. In English: Old Town. Whooo… (for more information, check it out: kotatua.blogspot.com. Or u can googling, guys, for details).

We know, the best thing in the world is when we’re happy, all beloved people laugh with us. But once we’re in sorrow, they will serve their shoulders with pleasure. I hope we’re belong together. Without stabing each other..

Friday, January 16, 2009

TERIMA KASIH ATAS UJI COBA JAM MASUK SEKOLAH 6.30

Memang saya sudah kuliah dan sebentar lagi akan lulus (amin, amin, amin….!!!). Tapi, jelas hal ini mencuri perhatian saya karena saya pernah menjadi anak sekolah dan adik saya pun sekarang masih usia sekolah. Kalau dalam keilmuan yang saya pelajari, saya dan persoalan ini memiliki “proximity” (kedekatan).
Sebut saja, macet. Banjir. Kriminalitas. Urbanisasi. Pemerintah DKI memang punya banyak PR yang harus segera dikerjakan dan dibenahi. Salah satu “kerjaan” mereka ya ini, anak-anak sekolah jadi uji coba untuk mengurangi kemacetan di Jakarta. Lhaaa…, kok anak sekolah yang kena getahnya? Sekarang, panjang jalanan Jakarta sudah terdesak oleh berbagai kendaraan bermotor. Lucu. Anak sekolah yang harus mau digeser jam sekolahnya lebih pagi oleh pemerintah.

 Sudah dua minggu uji coba peraturan dijalankan. Eh, tapi, apa masih jadi uji coba? Sampai kapan? Anggap saja sudah diberlakukan tetap. Tapi, apa kabar macet? Bisa kita lihat sendiri dan tentu saja peraturan ini buang-buang tenaga dan sama aja memble-nya.

Jumlah anak sekolah hanya sekian persen dibanding jumlah pekerja kantoran dan pengguna lalu-lintas lainnya. Ibu-ibu (dan supir kalau punya supir pribadi) harus bangun lebih pagi dan waktu belajar anak-anak jadi kepagian.
 
 Kenapa pajak kendaraan bermotor tidak dinaikkan? Kenapa transportasi massal tidak diperbaiki fasilitas dan pelayanannya SECARA TOTAL sehingga aman dan nyaman (kadang bis-bis kota tidak memanusiakan manusia)? Kenapa jalanan yang rusak tidak segera diperbaiki? Kenapa uji emisi kendaraan bermotor tidak diterapkan SECARA TOTAL? Sayang, kita harus telan bulat-bulat “kenapa” itu.

Tuesday, December 30, 2008

Tapol


Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Ngarto Februana
This book was totally emotional! the setting was about Gestapu '65. I read this by Mas Tatu's recomendation (thank's, Hon...). He said that this was a romantic book. What?! I thought this book was only 'kiri' issue. (indonesian called communist is 'kiri'). I spent only 4 hours. Because the book is only 170's pages.I could read hundred pages of books. hehe.

The interesting parts are Ngarto was on the right rail to tell us about Indonesia Communist Party in 60's. He took some references about its history and mixed it into his story, tell us about Gestapu's victim and how they survive in 20 years later. It was great. To you, fiction readers, this one is recommended. This book is light, u can get the point without complication.

FYI, Indonesia Communist Party was about the giants of this Republic. Soekarno (his Nasakom), Soeharto (and his hell soldiers), and student movements. Then, Ngarto could combine three elements became a sentimental fiction. Can u imagine when u're innocent but this government injustice to u as their people however? And the government can destroy all side of ur life? The tragedy of Gestapu is an unforgiven sin in this Republic!

Friday, December 26, 2008

KOLASE NOSTALGIA





Kenapa saya sangat suka foto-foto?

Simpel saja.

Saya masih ingin terus mengingat masa lalu baik senang maupun susah.

Foto-foto ini AKAN menjadi selimut untuk menghangatkan saya di masa-masa manula...

Tuesday, December 9, 2008

A Cat In My Eyes, Karena Bertanya Tak Membuatmu Berdosa


Rating:★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Fahd Djibran
Guru yang baik pasti selalu mengajak murid-murid di kelasnya untuk selalu bertanya. Orangtua yang baik akan menanyakan sesuatu untuk meyakinkan mereka sendiri kalau anaknya baik-baik saja. Teman yang baik selalu menanyakan apa kita butuh bantuannya di kala kita sedang sedih. See, berarti bertanya itu tidak membuat seseorang menjadi abnormal karena bertanya itu (sungguh) tak membuatmu berdosa.

Premis itu yang menggerakkan Fahd Djibran menulis berbagai macam pertanyaan (yang tak seluruhnya bisa terjawab) ke dalam prosa, puisi, sketsa, dan cerita pendek yang terangkum dalam sebuah buku.

Judulnya sangat representatif dengan isi bukunya yang sekilas ‘ringan’ tapi ternyata bisa bikin kedua ujung alis kita bertemu juga. A Cat In My Eyes. Kucing di dalam mataku? Secara harafiah memang sedikit membingungkan. Tapi coba perhatikan hewan yang menjadi inspirasi Fahd ini; matanya tajam, selalu awas, dan curious. Dan Fahd pun sangat tepat mengumpamakan isi buku ini dengan mata kucing itu.

Penulis yang juga pendukung Persib ini mampu menenggelamkan pembaca sehingga pembaca tersadar akan segala pertanyaan yang dalam kehidupan sehari-hari terkesan biasa saja.

Walau kita yang membaca kebanyakan ikut merenungi sesuatu dan tidak mendapat jawaban secara gamblang, Fahd membebaskan diri kita sendiri untuk menemukan jawaban yang sesuai dengan kadar pengetahuan dan keimanan kita.

Coba baca bab “Pertem(p)u(r)an Dengan Tuhan”. Sisi spiritual Fahd membuat kita terharu sehingga kita berkaca pada diri sendiri kapan terakhir kali kita berjibaku dengan Tuhan.

Tapi, Fahd juga bisa ‘jahil’ dalam merangkai dan menentukan ending ceritanya. Saat kita membaca judul “Matamu Yang Sepi” dan membaca tiap alinea ceritanya, kata-kata yang tertulis sangat romantis bak pria sedang kasmaran. Tapi, kita sebagai pembaca akan ‘nyengir’ dan merasa sedikit ditipu Fahd kalau membaca bab ini sampai habis.

Atau buat para cewek, membaca bab yang berjudul “Cantik”, akan membayangkan perlakuan manis cowok kita saat mereka bilang kalau kita ini perempuan miliknya yang paling cantik sedunia. Hmmm…

Ke-27 bab tulisan Fahd ini memiliki benang merah meski cerita antara bab satu dan bab lain belum tentu sama. Kita seperti membaca curhatnya Fahd dalam hal hidup, perasaan cinta yang universal, kemisteriusan waktu, sampai keyakinannya pada Tuhan.

Latar cerita dari kehidupan sehari-hari menjadi kunci agar pembaca dapat dengan mudah memahami maksud dan pertanyaan Fahd yang banyak banget (siap-siap deh, ada banyak tanda tanya pada buku ini).

Namun, ritme keseluruhan cerita yang hampir serupa bisa jadi membuat pembaca harus tarik napas sebentar atau lanjut membuka halaman selanjutnya beberapa saat kemudian. Kata-kata dalam buku ini membuat kita berpikir, sih.

Untungnya, font dan grafis yang dipakai cukup simpel sehingga tidak bikin mata kicer. Eh, masih ingat buku yang berjudul Dunia Sophie? A Cat In My Eyes bisa dibilang satu tipikal dengan buku filsafat itu. Atau Filosofi Kopi karya Dee? Konsepnya memang agak mirip. Tapi, buku ini hadir dengan versi Fahd sendiri, tentunya. Dan Fahd masih punya banyak waktu untuk bereksplorasi sehingga bisa menelurkan karya-karya lain yang juga cerdas.