Wednesday, March 19, 2008

Teater Monolog Sarimin by Butet Kertaarajasa




Art Summit tahun lalu di TIM menghadirkan pementasan teater MOnolog yang dibawakan Butet. Walaua saya nonton sendiri dan untuk liputan Media Publica saya sangat menikmatinya. Salut buat Butet, Kill The DJ, and all crews.

Monday, March 10, 2008

PROVOKE YOU!



MOESTOPO: KEMANA SAYA DAPAT MENGADU? (busuk!)

Selasa (4/3/08)

Hari pengisian KRS untuk angkatan 2004 tiba. Dan sudah berkali-kali saya menyiapkan mental untuk:
1. Mengambil slip bayaran uang heregistrasi
2. Ke Bank BNI untuk membayar uang kuliah
3. Mengambil kartu hasil studi semester sebelumnya (antri!)
4. Melihat jadwal perkuliahan yang ditempel di tembok kampus (rebutan)
5. Berkonsultasi dengan Pembimbing Akademik (hanya formalitas -antri juga)
6. Ke loket untuk cetak kartu rencana studi (antri banget!)
7. Belum lagi jika ada jadwal yang saya inginkan bentrok atau ada perubahan mata
    kuliah, maka saya harus lari bolak-balik ke lantai bawah yang temboknya ditempel
    jadwal perkuliahan untuk re-schedule
8. Cetak KTM (ngantri cuuuyyy..) yang sebenarnya KERTAS tanda mahasiswa (belum
    lagi kalau lupa bawa pas foto)
9. Sudah selesai? Belum!
Unfinished bussines of mine:
Saya tidak boleh (bukan tidak bisa) mengambil mata kuliah Penulisan Kreatif karena saya mendapat E semester lalu (perlu ditekankan karena CUTI SAKIT). Padahal, ketika saya semester enam, saya dan kawan-kawan langsung bisa mengambil mata kuliah itu tanpa kuliah prasyarat. Apalagi ketika saya ngeh kalau Penulisan Kreatif HARUS sudah lulus Hukum & Sistem Media Massa. Heelllloooo..., apa salah cetak? (saya sampai melotot meneliti super seksama bersama teman-teman saya).
Pertama, Penulisan Kreatif itu adalah subjek mata kuliah mencakup pengertian, karakteristik, jenis, dan teknik penulisan kreatif (cerpen, novel, puisi, esai, naskah iklan, skenario film. Apa relevansinya dengan Hukum & Sistem Media Massa?
Untuk jelasnya, Hukum & Sistem Media Massa secara garis besar mencakup pengertian hukum dan sistem media massa, aspek-aspek hukum dalam liputan media massa, delik-delik pers, undang-undang pers dan/atau media massa, hukum media massa dan dinamika sosial, berbagai sistem media massa, keterkaitan hukum dan sistem media massa dengan praktik humas, jurnalistik, dan periklanan. Ada yang bisa beritahu saya kira-kira kenapa Hukum & Sistem Media Massa menjadi subjek prasyarat untuk Penulisan Kreatif?
Kedua, ketika saya mengadu kepada salah satu staf akademik yang biasa mengurus nilai dan mata kuliah, jawabannya: “Saya hanya menjalankan pelaksanaannya. Saya tidak tahu.” Jawaban senada juga datang dari Wakil Dekan I, “Yang mengurus tim kurikulum dan saya juga tidak tahu.” Oh, bukankah Wakil Dekan I juga mengurusi bidang akademik dan termasuk soal kurikulum, ya? Aneh. Saya bilang aneh sebab saya diberi jawaban yang ‘gantung’.
Saya mengadu ke Kepala Jurusan Fikom, sebelas dua belas. “Mungkin penulisan yang sesuai koridor hukum dan jurnalistik.” The big question mark is: Apa semua teknik penulisan kreatif itu terpayungi hukum? Ada hukum menulis cerpen yang benar? Semester enam lalu, dosen penulisan kreatif kelas sore memang mengajarkan saya seperti yang dimaksud di atas. Lha, yang salah dosen atau kurikulumis (apalah itu namanya). Tolong segera beritahu saya!
Saya masih dongkol. Saya menghadap Pembimbing Akademik, setali tiga uang. Saya belum bertemu dengan salah satu penyusun kurikulum yang (kata Wadek I) sekarang sudah menjadi Wakil Rektor. Saya sudah SKEPTIS, apa saya akan mendapat jawaban yang jelas?
 Ironis. Apa salah ketika salah seorang mahasiswanya bertanya dan menganggap sesuatu ada yang salah? Tolong, lama-lama mulut saya pun terbungkam. Tapi, hati-hati, Jenderal. Diam bisa berarti bodoh. Atau malah sedang menyiapkan amunisi?


Saturday, March 1, 2008

Bjork, ke Jakarta Lagi, Dong..

 

12 Februari 2008, penyanyi Islandia yang eksentrik ini konser di Tennis Indoor, Jakarta. Indonesia adalah satu2nya negara di Asia Tenggara yang didatanginya, lho! Konser Volta Tour Bjork ini seperti biasa dikemas menjadi tontonan yang sangat menarik. Hahaha. Konyol bgt saya bisa bilang menarik.Padahal saya tidak menontonnya. Saya hanya bisa merengut saja ketika baca liputan konsernya di majalah2. Yang menjadi nilai plus, aksi teatrikal, kostum unik, dan peralatan musik yang canggih. Ah, seharusnya saya bisa masuk. Seharusnya... *tampang lemas*

P.S: Fotonya saya 'colong' dari dokumen kantor Sindo/Eko Purwanto. Hihihi..Fotonya bagus kok, Mas Akung..

Wednesday, February 27, 2008

Saatnya Merenovasi Moestopo

Kampus merah putihku itu memang mempunyai kisah yang panjang. Unsur sejarahnya pun masih melekat kuat pada bangunannya. Tapi, dilihat dari depan (apalagi belakang), Kampus Moestopo-ku  kok tidak ada indah-indahnya, ya?

Kampus Hang Lekir itu menjadi saksi bisu perjuangan pahlawan nasional RI, Moestopo. Pak Moes, begitu beliau akrab disapa, meninggalkan banyak teladan demi jalan yang ia tempuh, salah satunya yakni pendidikan.

Berawal dari sekolah kedokteran gigi, Universitas Prof. DR. Moestopo (Beragama) itu telah menjelma menjadi universitas dengan mahasiswa yang banyak (dan ngetop) dengan empat Fakultas; Kedokteran Gigi, Sosial Politik, Ekonomi, dan Komunikasi.

Usia bangunannya pun berarti memang sudah tua. Ya iyalah. Bangunan walaupun benda mati, ia ‘hidup’ seperti makhluk hidup. Bagaimana tidak, bangunan berdiri di atas tanah, diisi manusia, disiram air, angin, dan diterpa hujan, yang lama kelamaan akan menua dan mengalami kerusakan layaknya manusia yang sudah renta.

Ya, Moestopo-ku itu juga sudah tua. Coba Anda berdiri di depan bangunan itu (awas, tertabrak kendaraan) dan amati baik-baik. Kita telaah satu per satu. Hmm, tak ada pohon atau penghijauan lain, cek. Billboard iklan perusak pemandangan, cek. Cat yang kusam, cek. Oh, silahkan masuk saja sedikit ke dalamnya. Sampah-sampah menghiasi lanskap bangunannya, cek. Toilet seperti neraka, cek. Coba ke belakang, Bapak Ibu. Ampun, kotornya!

Jika dibandingkan dengan gedung kampus swasta sebelah, jauh. Dari segi fasilitas saja sudah ketinggalan. Ibarat balap formula 1, sudah tertinggal beberapa lap, begitu. Dengan rumah Pak Moes ditengah-tengah, sedikit membuat bingung bagi yang pertama kali bertandang ke kampus ini.

Yah, sudahlah. Singkatnya gedungnya sudah jelek dan dalamnya juga. Perlu diberi sentuhan estetika dengan rancang bangun dan interior yang membuat Moestopo makin menggoda untuk dimasuki dan dijadikan tempat belajar (dan gaul) yang nyaman. Bagaimana caranya? Singkat saja. Pakai jasa arsitek dan desainer interior, dong, Bapak Ibu. Duh!

Orang sering mengira memanfaatkan jasa arsitek atau desainer interior itu mahal. Padahal, kita sebagai klien tak perlu sungkan berdiskusi soal bujet dengan para ahli itu. Lagipula, dengan hasil yang maksimal di tangan orang berpengalaman tentu akan mendapat kompensasi yang sebanding.

Utarakan bagaimana keinginan dan selera dari pihak Moestopo. Arsitek dan desainer akan mengolaborasi keinginan dan aspek-aspek desain yang harus diterapkan pada bangunan.

Oh, saya punya saran. Saya adalah penggemar bangunan klasik seperti gaya arsitektur art-deco. Kampus Moestopo akan terlihat unik dan historical dengan konsep arsitektur tersebut. Unsur sejarah tidak akan terhapus. Tapi, unsur modern juga tak ketinggalan.

Untuk gaya bangunan boleh saja art-deco. Namun, interiornya bisa simpel klasik dengan benda-benda hi-tech yang tetap memberi kesan ‘kampus modern’, begitu. Art-deco itu mudahnya bisa dilihat pada gedung-gedung peninggalan kolonial Belanda yang didominasi oleh warna putih sebagai warna dominan interior dan eksterior.

Saya paling semangat saat membahas warna. Hmm, warna hitam sepertinya masih berkesan ‘kering’. Merah dan putih? Maksa, ah. Begini saja, agar tidak monoton perpaduan warna-warna cerah yang soft seperti beige bisa dipilih karena akan berkesan melapangkan. Maklum, Moestopo ‘kan sempit.

Arsitektur lanskap Moestopo juga perlu dibenahi. Lahan hijau hanya sepersekian persen dari keseluruhan luas bangunan. Susah memang karena lahan kampus yang terbatas. Soal penghijauan, tanaman pot yang digantung bisa jadi solusi praktis. Asal tidak dirusak karena civitas akademika yang usil karena buang puntung rokok atau daunnya dicabut-cabut sebagai pelampiasan pacar yang nyebelin.

Satu hal yang penting, rumah Pak Moes harus tetap berada di situ. Tapi, terserah ya mau ikut direnovasi atau tidak. Keluarga alm. Moestopo-lah yang punya hak penuh atas rumah tersebut. Kalau urusan gedung kampus, urusannya berkaitan dengan mahasiswa juga yang sudah mengeluarkan biaya banyak tapi tidak sebanding dengan fasilitas yang didapatkan (curhat colongan).

Lantas, sekarang? Saya ikhlas jika saya lulus dan keluar dari Kampus Moestopo ini dengan sense of space yang sangat minim. Asalkan ketika sepuluh tahun lagi saya mengajak anak saya berkunjung ke kampus uminya, saya bisa bangga menceritakan bahwa kampus ini menyimpan sejuta kenangan manis.

Termasuk senyuman manis para pejabat tinggi kampus yang concern terhadap estetika bangunan tempat mereka berinteraksi sesama civitas akademika. Yah, daripada uang mahal yang sudah saya bayar masuk ke kantong mereka tanpa memperhatikan ambience kampusnya.

*Selamat untuk Drs. H. Sunarto, M.Si yang telah menjabat sebagai Rektor Universitas Prof. DR. Moestopo (Beragama).

Saturday, January 26, 2008

Wisata Cap Go Meh by Komunitas Jelajah Budaya




Komunitas Jelajah Budaya mengadakan acara Wisata Cap Go Meh di Kota. Pokoknya keliling Chinatown di jakarta dah. Gw pergi sama Kiki dan Opi. Seru juga liat pawai dan kuil2 yang masih Cina banget! Budaya Indonesia ternyata memang sangat kaya. Terlepas dari unsur SARA, mereka (warga Tionghoa) berhak hidup damai dan tenang menjalankan kepercayaan dan kebudayaannya

Wednesday, January 2, 2008

Kobongan di Senen




Jakarta (24/12) - Bangunan ruko yang menjadi kantor salah satu RW di bilangan Terminal Senen terbakar akibat korsleting listrik ruko sebelah kantor RW. Tak ada korban jiwa dan saya tidak mencari tahu berapa kerugian akibat kebakaran tersebut. Petugas pemadam mampu memadamkan api hanya dalam waktu satu jam. Hal ini disebabkan warga cepat ambil tindakan dengan segera menghubungi pemadam pada saat api belum menjalar ke ruko sebelahnya,

Saturday, December 29, 2007

KAMPUS MERAH PUTIH: BENCI TAPI CINTA

Apa yang anda lakukan setiap pagi kalau anda baru beraktivitas di siang hari? Kalau saya minum segelas air putih, menonton infotainment (senang lihat yang cakep-cakep, gregetan lihat betapa retoris dan diplomatisnya seleb menjawab pertanyaan), masih leha-leha di sofa sambil sarapan sereal, sampai akhirnya jarum jam menusuk-nusuk bokong saya agar lekas mandi lalu pergi beraktivitas.

Tapi, berhubung empat bulan ini saya harus off tiba-tiba dari seluruh kegiatan sehari-hari saya, jadi belakangan ini tidur saya tambah larut dan bangun tidur saya tambah siang setelah sembahyang sampai saya tidak pernah lagi mendengar suara penjual bubur berteriak di pagi buta. Emptiness syndrome (sindrom ruang kosong) dan berbagai sindrom-sindrom psikis lain yang harus saya nikmati tiap malam membuat pikiran saya sering kemana-mana. Sampai akhirnya, timbul kata-kata umpatan dan betapa payahnya kenyataan lalu saya sadar mungkin itu adalah bagian dari godaan syaitan yang membuat saya tidak mensyukuri nikmat hidup. Namun, satu hal ini, bukan karena godaan syaitan. Karena ini adalah salah satu introspeksi diri dan sok mengkritik keadaan lingkungan saya.

Adakah kampus yang ideal?
Ya. Adakah kampus yang ideal? Maaf. Ini hanya versi saya. Ketika kita bisa menikmati waktu kuliah dan merasakan sibuknya tugas-tugas laknat tapi (padahal) bisa memperkaya wawasan kita, dan MEMBAYAR MAHAL UNTUK PENDIDIKAN, tentu kita berharap lebih pada institusi pendidikan tempat kita menuntut nilai (HA! Yang penting lulus dapat nilai bagus katanya). Sekali lagi, saya hanya sok mengkritik karena terjebak dalam hegemoni petinggi yang sok benar 100%.

Versi ideal MENURUT SAYA:
  1. Dosen yang capable, credible, dan “bel-bel” lainnya. Kreatif, inovatif, kooperatif (tidak apa-apa tegas dan super disiplin tapi harus fair dan tidak egois)
  2. Saat keluar kelas dan pada jam istirahat, tak apa tidak punya kantin, tapi memang seharusnya ada kantin dengan makanan “bersih” dan tidak mahal (walau mahal itu relatif)
  3. Toilet yang ada tiga wastafel, kloset jongkok, pisah untuk laki dan perempuan, kaca, air kran, bersih pastinya!
  4. Buku di perpustakaan juga harus lengkap banget, pakai sistem komputer (disertai kartu yang ada foto kita dan PIN), dan pustakawan yang ramah tapi tegas. Oya, ada internet GRATIS dan ruang AC tentu
  5. Kalau ujian, pakai kartu yang ada foto pesertanya. Tidak perlu pakai sistem komputer segala. Manual tapi “jujur” tak apa.
  6. Komputernya Pentium 4, gigabyte yang besar, bisa on-line, ada daftar nilai dan sistem pembayaran kuliah yang bisa kita akses lewat internet dan ATM
  7. Laboratorium memang harus lengkap dan harus dimanfaatkan
  8. Ruang kelas AC? Jelas!
  9. Ikatan alumni yang solid
  10. TERAKHIR TAPI PENTING! Diperbolehkan cuti hamil & melahirkan, menerima izin untuk mengikuti seminar & workshop yang relevan di luar kampus (jadi absen masuk kelas tak membebani), dan kemudahan bagi mahasiswa yang tidak bisa kuliah dalam jangka waktu tertentu (karena sibuk kerja atau masih sakit dan harus dirawat). Jadi, mereka-mereka itu tidak menjadi mahasiswa marjinal. Mereka masih bisa mengikuti kuliah on-line via internet, mengumpulkan tugas via internet, dan berdiskusi dengan dosen juga via internet. Tidak ketinggalan pelajaran dong, pastinya walau tidak masuk kelas karena alasan yang rasional.
  11. BEASISWA DIMUDAHKAN BIROKRASINYA UNTUK MAHASISWA YANG TIDAK MAMPU SECARA FINANSIAL
  12. Semester pendek bisa untuk memperbaiki nilai dan atau mencuri waktu untuk beberapa mata kuliah di semester selanjutnya
  13. Birokrasi jelas tapi tidak menindas!

Tak usahlah ada parkir mobil. Kendaraan pribadi cuma bisa bikin macet dan polusi. Yang penting ada aula besar buat acara2 kampus seperti konser dan seminar ;)

Itulah top 13 kampus ideal nan simpel versi si penulis. Hmm.., mungkin nanti saya bisa jadi rektor ya biar tidak omong doang! Easier said than done. Tapi, yang paling esensial dan substansial adalah niat dan tekun dari mahasiswa itu sendiri dalam menjalani kuliah. Kuliah sekalipun di universitas unggulan, kalau orang itu malas-malasan, ya sami mawon!

Tapi, yang paling saya sesali adalah saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk teman-teman saya yang terpaksa tidak kuliah karena biaya padahal semangat untuk jadi sarjana masih ada (gelar masih menjadi momok dalam keluarga tertentu & untuk melamar kerja). Siapapun WNI berhak mendapat pengajaran dan pendidikan, YA KAN??? Satu pertanyaan yang selalu ada di kepala: ada apa dengan republik kita?

-Orang kalut yang hanya bisa menulis kegundahan hatinya

Friday, December 21, 2007

Wayang Orang Bharata di Senen




MALAM YANG MENGEJUTKAN

24 November 2k7, 11 pm, sendirian, bingung, crowded!

Saat gue lagi berjuang memotret pertunjukan wayang orang Bharata di Senen, ternyata beda tujuh toko dari gedung pertunjukan ada kebakaran. Walhasil, setengah jam show mau selesai udah mati lampu dan gak maksimal dapat foto yang cihuy!

Yang bikin ngenes, gw sendirian (walau bareng 5 org anak kampus tp tetep aja gw lenggang sendiri) dan sahabat yang gw harap bisa gw andalkan gak bisa dihubungi handphone-nya. Ya Allah, gw sedikit jiper juga! Gw ingat nyawa gw dan kamera poket yang gw bawa karena aura terminal senen jam sebelas malam tuh gimanaaaa gitu walau gw sering lewat situ juga tengah malam.

Tapi, jiwa pemberani gw timbul (hihihi). Gw jepret2 aja sebisa gw dan hasilnya...yaa ahncur hehehe. Alhamdulillah, gw sampai rumah dengan selamat naik taksi. Hahahh..tapi hari itu gw sangat shock. Dari pagi udah liputan ke Ciledug (bo, gw keluar rumah dari jam 7 pagi, luar biasa!), jalan kaki mpe gempor ma teman magang gw, sampai akhirnya hari sabtu gw ditutup dengan kejadian seru (kalau ga mau dibilang shocking!). Hohoho..wonder woman kan gw?? ;p

(foto2nya liat di album bagian atas aja yaps..)

rabu kelabu di malam takbiran biru

 

Date     : Dec 19 2K7

Place    : My bedroom

Time     : 11.12 pm

Mood   : Sick, suck, what else?

Song    : Maria by Blondie

 

If I could tell someone about my day that makes me feel: i-am-the-poor-one. But in fact, I’m only in PMS which is everything seems so suck today.

  1. Saya mengawali hari dengan tanpa gairah. Pilih baju yang mau dipakai hari ini saja bingung
  2. Siangnya, saya jatuh dari motor saat boncengan dengan teman mau ke Kemang. Lantaran kecelakaan kecil itu (keserempet motor SAJA! Pengemudi brengsek yang nabrak itu? Ya.., langsung kaburlah!), batal dapat buku, makan, dan nonton film documenter gratis. Pulang membawa dua luka dan dua memar. Alhamdulillah, we’re OK anyway.
  3. Perpus di kampus sampah. Buku kurang lengkap, fasilitas komputer minim, no hotspot, no Xerox, haahhh..capek deeehh. Dikorup tuh duit gue dan teman2 gue!
  4. Sepertinya semua orang Jakarta norak mau pulang naik busway malam ini. Halte transit busway semua penuh BANGET! Bercampur dengan supporter tim Indonesia versus durmont belanda. Bah! Tak perlu nonton berita, paling juga Indonesia kalah…
  5. Akhirnya, saya memutuskan dari Harmoni balik lagi ke Sarinah (Thamrin-Sudirman dipastikan macet)
  6. Niatnya dari Sarinah mau naik taksi sampai rumah. Ternyata susah dapat taksi kosong. Terpaksa jalan sampai Tony Roma’s Agus Salim. Lumayan bikin garing nunggu satu jam di pinggir jalan jaksa (dan pupil mata gw tergenang sedikit air mata yang siap membuncah)
  7. Mau sih minta tolong sama siapaaa gitu minta jemput. Tapi saya ‘kan wonder woman. Saya tidak butuh bantuan siapapun karena saya kuat (wiueeuuuww.. sounds cynical, huh??).
  8. Tapi, lama2 saya frustasi. Balik lagi jalan kaki sampai gedung PBB thamrin, dan menyetop mobil kalong. Lumayanlah irit ongkos taksi. Jakarta busuk!!!
  9. SMS diterima. My Beloved Mom. Message: Jangan suka pulang malam, kalau habis kuliah langsung pulang, dilihat orang perempuan pulang malam-malam sendirian kurang bagus. HELLOOO??? Sekalipun Presiden melarang saya pulang malam, saya tidak peduli.
  10. Saya menginjak kotoran kucing. Sangat tepat diasosiasikan hari ini dengan tai.
  11. Kadang, saya ingin sinis terhadap Tuhan….tapi saya tidak bisa. Saya ingin cintaNya!!!