Tuesday, December 30, 2008

Tapol


Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Ngarto Februana
This book was totally emotional! the setting was about Gestapu '65. I read this by Mas Tatu's recomendation (thank's, Hon...). He said that this was a romantic book. What?! I thought this book was only 'kiri' issue. (indonesian called communist is 'kiri'). I spent only 4 hours. Because the book is only 170's pages.I could read hundred pages of books. hehe.

The interesting parts are Ngarto was on the right rail to tell us about Indonesia Communist Party in 60's. He took some references about its history and mixed it into his story, tell us about Gestapu's victim and how they survive in 20 years later. It was great. To you, fiction readers, this one is recommended. This book is light, u can get the point without complication.

FYI, Indonesia Communist Party was about the giants of this Republic. Soekarno (his Nasakom), Soeharto (and his hell soldiers), and student movements. Then, Ngarto could combine three elements became a sentimental fiction. Can u imagine when u're innocent but this government injustice to u as their people however? And the government can destroy all side of ur life? The tragedy of Gestapu is an unforgiven sin in this Republic!

Friday, December 26, 2008

KOLASE NOSTALGIA





Kenapa saya sangat suka foto-foto?

Simpel saja.

Saya masih ingin terus mengingat masa lalu baik senang maupun susah.

Foto-foto ini AKAN menjadi selimut untuk menghangatkan saya di masa-masa manula...

Tuesday, December 9, 2008

A Cat In My Eyes, Karena Bertanya Tak Membuatmu Berdosa


Rating:★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Fahd Djibran
Guru yang baik pasti selalu mengajak murid-murid di kelasnya untuk selalu bertanya. Orangtua yang baik akan menanyakan sesuatu untuk meyakinkan mereka sendiri kalau anaknya baik-baik saja. Teman yang baik selalu menanyakan apa kita butuh bantuannya di kala kita sedang sedih. See, berarti bertanya itu tidak membuat seseorang menjadi abnormal karena bertanya itu (sungguh) tak membuatmu berdosa.

Premis itu yang menggerakkan Fahd Djibran menulis berbagai macam pertanyaan (yang tak seluruhnya bisa terjawab) ke dalam prosa, puisi, sketsa, dan cerita pendek yang terangkum dalam sebuah buku.

Judulnya sangat representatif dengan isi bukunya yang sekilas ‘ringan’ tapi ternyata bisa bikin kedua ujung alis kita bertemu juga. A Cat In My Eyes. Kucing di dalam mataku? Secara harafiah memang sedikit membingungkan. Tapi coba perhatikan hewan yang menjadi inspirasi Fahd ini; matanya tajam, selalu awas, dan curious. Dan Fahd pun sangat tepat mengumpamakan isi buku ini dengan mata kucing itu.

Penulis yang juga pendukung Persib ini mampu menenggelamkan pembaca sehingga pembaca tersadar akan segala pertanyaan yang dalam kehidupan sehari-hari terkesan biasa saja.

Walau kita yang membaca kebanyakan ikut merenungi sesuatu dan tidak mendapat jawaban secara gamblang, Fahd membebaskan diri kita sendiri untuk menemukan jawaban yang sesuai dengan kadar pengetahuan dan keimanan kita.

Coba baca bab “Pertem(p)u(r)an Dengan Tuhan”. Sisi spiritual Fahd membuat kita terharu sehingga kita berkaca pada diri sendiri kapan terakhir kali kita berjibaku dengan Tuhan.

Tapi, Fahd juga bisa ‘jahil’ dalam merangkai dan menentukan ending ceritanya. Saat kita membaca judul “Matamu Yang Sepi” dan membaca tiap alinea ceritanya, kata-kata yang tertulis sangat romantis bak pria sedang kasmaran. Tapi, kita sebagai pembaca akan ‘nyengir’ dan merasa sedikit ditipu Fahd kalau membaca bab ini sampai habis.

Atau buat para cewek, membaca bab yang berjudul “Cantik”, akan membayangkan perlakuan manis cowok kita saat mereka bilang kalau kita ini perempuan miliknya yang paling cantik sedunia. Hmmm…

Ke-27 bab tulisan Fahd ini memiliki benang merah meski cerita antara bab satu dan bab lain belum tentu sama. Kita seperti membaca curhatnya Fahd dalam hal hidup, perasaan cinta yang universal, kemisteriusan waktu, sampai keyakinannya pada Tuhan.

Latar cerita dari kehidupan sehari-hari menjadi kunci agar pembaca dapat dengan mudah memahami maksud dan pertanyaan Fahd yang banyak banget (siap-siap deh, ada banyak tanda tanya pada buku ini).

Namun, ritme keseluruhan cerita yang hampir serupa bisa jadi membuat pembaca harus tarik napas sebentar atau lanjut membuka halaman selanjutnya beberapa saat kemudian. Kata-kata dalam buku ini membuat kita berpikir, sih.

Untungnya, font dan grafis yang dipakai cukup simpel sehingga tidak bikin mata kicer. Eh, masih ingat buku yang berjudul Dunia Sophie? A Cat In My Eyes bisa dibilang satu tipikal dengan buku filsafat itu. Atau Filosofi Kopi karya Dee? Konsepnya memang agak mirip. Tapi, buku ini hadir dengan versi Fahd sendiri, tentunya. Dan Fahd masih punya banyak waktu untuk bereksplorasi sehingga bisa menelurkan karya-karya lain yang juga cerdas.

Saturday, November 22, 2008

Pentul Tembem & Kinyis Kinyis




Yang satu, maniak sepak bola. Yang satu lagi, bengong sepak bola.
Yang satu, pedenya setengah mati. Yang satu lagi, ngeyelnya setengah mati.
Yang satu, Bonek. Yang satu lagi, (ngakunya) JakAngel.
Yang satu, suka kemping. Yang satu lagi, benci emping.
Yang satu, doyan keju. Yang satu lagi, demen garangasem.
Keduanya sama2 sering berbicara sarkas.
Keduanya maniak buku.
Keduanya sama2 norak.
Keduanya tak punya hewan peliharaan.

Next destination : Tanjung Puting & Pantai Pink NTT *ngareeeppp...*

Wednesday, October 15, 2008

Penting Itu Relatif

Bagi Anda sesuatu kurang penting, bagi saya justru bisa menjadi penting. Makanya judul yang tepat untuk tulisan saya saat ini.

Saya pernah baca di kaus salah seorang gadis bule di Museum Nasional.
"My friends will become nothing,
 My foes will become nothing,
 Me, will become nothing
 And then, all will become nothing" -Dalai Lama

Kurang lebih begitu inti pesan dari tulisan grafis di kaus gadis berambut kuncir kuda yang sedang berdiri di depan saya.

Ah. Nihilisme? Hmm..entah saya belum tahu. Ketika saya menulis ini, saya belum mengecek lebih jauh 'aliran' Dalai Lama dan Dalai Lama yang mana. Tapi, bisa jadi mengupas tentang kedamaian. Iyalah, manusia sudah sampai pada tahap 'advanced' jika dia bisa menerima semua dengan sangat ikhlas dan legowo. Apapun!

Yaa..karena semuanya ada awal. Dan awal itu, kita yang hanya manusia, akan selesai. Sekarang saya tak ingin bermetafora. Sekarang saya malas bersuperlatif ria. Ketika saya sedih, kamu tak perlu tahu seberapa deras air mata saya. Ketika saya bahagia, kamu tidak usah repot ikut tertawa bersama saya.

Seperti hari ini.

Saya datang memberi senyum kepada teman-teman yang jadi wisudawan.

Hahaha. Terkesan tidak ikhlas ya saya memberi mereka ucapan selamat?

Saya hanya sedih. Bukan iri. Denotasi 'sedih'. Seharusnya hari ini saya juga sama seperti mereka . Bersama mama papa tentunya.

Lucu.

Kenyataan mendesak masuk dan saya harus terima apa yang ada sekarang.

Jadi, kenapa saya harus sedih terus? Cengeng! Semua 'kan akan ada waktunya.

Saya memang berkali-kali ditegur Tuhan karena sombong. Semoga 1429 H / 2008 dan seterusnya saya bisa menjadi perempuan sederhana. Kalau bisa, plus mengenyangkan batin orang.

Satu kata buat kamu, Adel: Cengeng!



Tuesday, September 9, 2008

JOB HUNTER ERA SATU ABAD LAMPAU

Dikutip dari milis sahabatmuseum@yahoogroups.com.

Membayangkan saya hidup sekitar 100 tahun yg lalu sebagai pencari kerja dan membaca pengumuman yang seperti ini:

PENGOEMOEMAN !!!
DAG INLANDER,... ..HAJOO URANG MELAJOE,...KOWE MAHU KERDJA???
GOVERNEMENT NEDERLANDSCH INDIE PERLU KOWE OENTOEK DJADI BOEDAK
ATAOE TJENTENK DI PERKEBOENAN- PERKEBOENAN ONDERNEMING KEPOENJAAN

GOVERNEMENT NEDERLANDSCH INDIE DJIKA KOWE POENYA SJARAT DAN NJALI BERIKOET:

1. Kowe poenja tangan koeat dan beroerat
2. Kowe poenja njali gede
3. Kowe poenja moeka kasar
4. Kowe poenja tinggal di wilajah Nederlandsch Indie
5. Kowe boekan kerabat dekat pemberontak- pemberontak ataoepoen maling ataoepoen mereka jang soedah diberantas liwat actie politioneel.
6. Kowe beloem djadi boedak nederlander ataoepoen ondernemer ataoe toean tanah ataoe baron eropah.
7. Kowe maoe bekerdja radjin dan netjes.

KOWE INLANDER PERLOE DATANG KE RAWA SENAJAN DISANA KOWE HAROES DIPILIH LIWAT DJOERI-DJOERI JANG BERTOEGAS :

1. Keliling rawa Senajan 3 kali
2. Angkat badan liwat 30 kali
3. Angkat peroet liwat 30 kali

Kowe mesti ketemoe Mevrouw Shanti, Meneer Tomo en Meneer Atmadjaja
Kowe nanti akan didjadikan tjentenk oentoek di Toba, Buleleng, Borneo, Tanamera, Batam, Soerabaja,Batavia en Riaoeeiland.
Governement Nederlandsch Indie memberi oepah :

1. Makan 3 kali perhari dengan beras poetih dari Bangil
2. Istirahat siang 1 uur.
3.Oepah dipotong padjak Governement 40 percent oentoek wang djago. Haastig kalaoe kowe mahoe..

Pertanggal 31 Maart 1889 Niet Laat te Zijn Hoor.. Batavia 1889 Onder de naam van Nederlandsch Indie Governor Generaal H.M.S Van den Bergh S.J.J de Gooij

( Iklan ini benar-benar asli kutipan dari koran bertahun

1889 diambil di perpustakaan nasional )



The Pony-Mad Princess 3:Teka-Teki Untuk Putri Ellie


Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Childrens Books
Author:Diana Kimpton
Penerbit : PT Primamedia Pustaka Kelompok Gramedia Majalah
Tahun terbit : Desember 2005
Tebal : 96 halaman

Tak sengaja saya menemukan buku mungil ini ditumpukan majalah bekas di salah satu kios terminal Senen. Warna sampulnya sangat ‘princessa’; pink dan kuning. Judulnya juga lucu yang bisa menggugah rasa ingin tahu pembaca dari segmen anak-anak. Ketika saya membuka-buka halaman buku ini, font-nya juga nyaman dimata. Plus ilustrasi sketsa gambar-gambar yang cute tentang karakter tokohnya. Saya langsung tawar dan dapat potongan harga sekitar 80% dari harga asli buku ini. Untuk keponakan saya? Hahaha. Bukan! Saya beli untuk saya sendiri.

Sayang, saya hanya dapat salah satu edisi dari keempat edisi serial Putri Ellie. Putri yang memiliki sifat sedikit bebal ini tergila-gila dengan kuda poni. Walau Raja dan Ratu sempat melarang Ellie (sang putri lebih suka dipanggil begini daripada Aurelia) karena tentu saja akan membuat putri tampak kotor dan bau. Soalnya, Ellie lebih memilih menunggang kuda poni dan membersihkan kandang kuda daripada menemani tamu kerajaan.

Putri Ellie sangat mencintai keempat kuda poninya. Ketika ia berkeliling hutan bersama sahabatnya, Katie, cucu juru masak kerajaan, kuda poni yang ditunggangi Ellie menolak untuk masuk lebih jauh ke dalam hutan. Apa Rainbow, kuda Putri Ellie, melihat hantu? Mereka pun merasakan sesuatu yang aneh ketika berada di hutan yang dingin. Tapi, Ellie malah makin penasaran dan berniat memecahkan teka-teki ini. Kira-kira benar ada hantu enggak, ya?

Apa yang membuat saya memberi empat bintang untuk novel anak-anak ini?
1. Putri Ellie sangat pemberani dan rendah hati. Ia tidak risih bersahabat
dengan cucu juru masak kerajaan.
2. Pecinta binatang.
3. Walau orangnya cuek, Putri Ellie tahu ia harus sopan ketika menemani
tamu kerajaan yang awalnya tidak ia sukai
4. Putri Ellie suka sebel karena tidak semua kamar dan pakaian seorang
putri harus berwarna pink ‘kan?
5. Putri Ellie tidak manja. Dengan senang hati ia merawat keempat kuda
poninya
6. Sayang, Putri Ellie suka malas menyisir rambut *Hihihi…*
7. Putri Ellie berjiwa feminis.
8. Putri yang cerdas

Thank God I’m female! Seperti kebanyakan gadis kecil lain, dari dulu saya suka cerita putri-putrian. Sampai sekarang saya pun mengoleksi serial Princess Diaries. Kartini juga saya anggap seorang putri walau ayah bundanya bukan raja dan ratu. Seorang putri tidak melulu menunggu pangeran berkuda dan hidup bak di negeri dongeng. Helllloooo.., seorang putri sejati adalah dia harus punya keberanian. Itu saja. Agar dia bisa menjaga dirinya sendiri dan tak seorang pun mampu membuat jiwanya mati.

Monday, September 1, 2008

Petualangan Phonebook Menjelang Ramadhan

Ah, terlena dengan urusan pribadi masing-masing sampai saya hanya bisa bercengkerama via ponsel dengan kerabat menyambut bulan nan agung. Jempol saya lembur membaca pesan-pesan pendek di ponsel dari teman-teman yang mengucapkan selamat berpuasa dan memohon maaf agar lebih plong beribadah di Ramadhan. Dari kalimat pesan yang lucu, formal, sampai ada yang terkesan ‘garing’ diterima ponsel low-end milik saya.

 Tapi bagi saya tak peduli bagaimana kalimat yang dirangkai karena sebagian besar kalimatnya serupa. Siapa pengirimnyalah yang saya perhatikan. Walau nomor-nomor tujuan sudah terprogram semua di ponsel sehingga bisa saja teman saya itu hanya perlu menekan tombol ‘Select All’ setelah mengetik pesan (jadi terasa kurang intim ‘kan?).

 Ini yang membuat saya perhitungan ketika mengirim pesan ucapan selamat berpuasa atau selamat berlebaran karena saya tidak mau menekan tombol ‘Select All’ di daftar nomor tujuan. Pun niat saya mengirim SMS menjelang bulan puasa sesungguhnya adalah menjaga silaturahim dan bersyukur kita semua masih panjang umur. 

Saya sudah bertahun-tahun tidak ketemu si Anu ketika melihat namanya tertera di ‘Phonebook’. Apa matching kalau saya menyampaikan pesan; Marhaban-ya-Ramadhan-Mohon-Maaf-Lahir-Batin? Terakhir kali saya kirim SMS serupa dua tahun lalu. Selama ini kami sudah lama banget tak berhubungan meski kami bersahabat. Ehm, kalau begitu saya harus memutar otak untuk merangkai kalimat yang pas tapi tidak biasa dengan makna pesan; silaturahmi harus tetap terjaga meski hanya lewat ponsel dan setahun sekali saya kirim pesan pendek padanya. Intinya, saya masih ingat padanya dan saya harap dia masih mengingat saya.
Ketika saya melihat daftar si Fulan. Jempol saya tertahan lagi. Dia sudah tidak care dengan saya. Dia pun kerjanya kurang becus yang bikin kerjaan saya ikutan berantakan. Lagipula jabatan dan usia saya diatasnya. Kenapa saya yang SMS duluan? *Istigfar* Apa harus begitu juga saya memperlakukan manusia seperti mereka yang apatis? Dengan legowo saya kirim SMS padanya karena saya tidak seperti si Fulan itu.
Sekarang, mata saya terhenti pada sosok nama yang melegenda di hati. “Film-hitam-putih” terputar kembali dalam benak. Timbul sentimentil rasa rindu dan ingin menyampaikan pesan lebih dari sekadar ucapan selamat berpuasa setelah sekian lama terputus kontak.

 Asslm. Mas, apa kabar? Selamat berpuasa ya.   - Ah, biasa.
 Mas, masih ingat aku tak? Ini adelia. Masa lupa, sih? Kita kan mau puasa..  -Idih, genit amat.
 Asslm. Marhaban Ya Ramadhan. Semoga ridho Allah selalu menyertai kita. Bgmn kabar? Sekarang berdomisili dmn? Adelia.  -Yah, okelah, whatever. Send.
 Wlkmslm. Alhmdullh. Sama2. Saya di Bontang sekarang. Maaf, ini adelia mana, ya? Tahu nomor ini darimana?

 Oh! Jempol saya kaku. Ternyata saya belum siap dilupakan.
 
#Selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga kita semua menjadi pemenang di jalan Allah. Amin.

Friday, August 29, 2008

EVERY WOMAN SHOULD....

MAYA ANGELOU'S BEST POEM EVER

A WOMAN SHOULD HAVE .....
enough money within her control to move out and rent a place of her own
even if she never wants to or needs to...

A WOMAN SHOULD HAVE ....
something perfect to wear if the employer or date of her dreams wants to
see her in an hour...

A WOMAN SHOULD HAVE ...
a youth she's content to leave behind....

A WOMAN SHOULD HAVE ....
a past juicy enough that she's looking forward to retelling it in her
old age....

A WOMAN SHOULD HAVE .....
a set of screwdrivers, a cordless drill, and a black lace bra...

A WOMAN SHOULD HAVE .....
one friend who always makes her laugh... and one who lets her cry...

A WOMAN SHOULD HAVE ....
a good piece of furniture not previously owned by anyone else in her
family...

A WOMAN SHOULD HAVE .....
eight matching plates, wine glasses with stems, and a recipe for a meal
that will make her guests feel honored...

A WOMAN SHOULD HAVE ....
a feeling of control over her destiny...

EVERY WOMAN SHOULD KNOW...
how to fall in love without losing herself..

EVERY WOMAN SHOULD KNOW...
HOW TO QUIT A JOB,
BREAK UP WITH A LOVER,
AND CONFRONT A FRIEND WITHOUT RUINING THE
FRIENDSHIP.. .

EVERY WOMAN SHOULD KNOW...
when to try harder... and WHEN TO WALK AWAY...

EVERY WOMAN SHOULD KNOW...
that she can't change the length of her calves, the width of her hips,
or the nature of her parents..

EVERY WOMAN SHOULD KNOW...
that her childhood may not have been perfect...but its over...

EVERY WOMAN SHOULD KNOW...
what she would and wouldn't do for love or more...

EVERY WOMAN SHOULD KNOW...
how to live alone... even if she doesn't like it...

EVERY WOMAN SHOULD KNOW...
whom she can trust,
whom she can't,
and why she shouldn't take it personally.. .

EVERY WOMAN SHOULD KNOW...
where to go...
be it to her best friend's kitchen table...
or a charming inn in the woods...
when her soul needs soothing...

EVERY WOMAN SHOULD KNOW...
what she can and can't accomplish in a day...
a month...and a year...

Tuesday, August 19, 2008

Pinka & Biru




Saya tinggal di Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Polusi? Jangan ditanya. Kawasan pun sudah padat. Tapi, setiap pagi ketika saya shalat subuh, masih bisa terdengar kicau burung gereja dan burung lain yang saya tidak tahu apa. Rasanya tenteram banget. Mereka masih suka hinggap di atap balkon depan jendela kamar saya dan nangkring di tali tiang listrik seperti Pinka dan Biru itu.

Sampai kapan mereka akan menemani saya ketika "curhat" dengan Kekasihku? Ada pohon mangga besar yang berusia lebih tua dari saya (mungkin sudah 25 tahun). Semoga pemilik rumah tetap mempertahankan pohon itu supaya saya masih bisa menikmati nyanyian burung-burung mungil di pagi hari.

P.S: Stop Illegal Logging

Monday, August 18, 2008

Dibalik Layar "GARIS MATI"






16 Agustus 2K8
Day ‘til night
Kampus merah putih

Jam 09.00 saya terbangun karena pesan pendek di ponsel dari Octi. Katanya masih diperlukan orang-orang untuk meramaikan dan mengisi di frame film pendek ini di kampus. Wah, heran. Anak-anak MP kan narsisnya luar biasa. Tumben kekurangan orang. Awalnya saya urung datang karena siang ini ada 2 janji yang harus saya tepati. Tapi, toh akhirnya, saya datang karena dimana ada keramaian pasti ada adel (bohong, ding!).

Singkat cerita, tujuan utamanya film ini ditayangkan ketika Jambore Fikom 08. Sisanya, mau dipasang di XXI *tampang datar*. Semangat bendera mandiri a.k.a independenlah pokoknya. Sebenarnya, saya bukan fotografer untuk mendokumentasikan dibalik layar film ini. Seperti yang saya bilang, saya hanya seorang dari tim hura-hura. Jadi, yang berkapasitas lebih untuk mempromosikan film ini anggota Media Publica angkatan 2006-2007. Mereka yang sudah pontang-panting memproduksi film pendek ini. Kami-kami ini (baca: senior) membantu apa yang bisa kami bantu selama itu hal positif.

Tapi yang pasti, film ini ‘owkeyy’ karena dibantu figuran yang tak diragukan lagi profesionalnya. Hahaha. Sekali gitu, ternyata bagian saya kepotong karena saya masuk hanya dua scene kalau tak salah. Ah, biar! Pak produser, honor saya mana neeehhhh…??? :-)

Info lengkap hubungi :
Moci MP’07 : 021-98855037
Qori MP’06 : 085692211995
@MPdotco

Tuesday, July 15, 2008

Black Interview


Rating:★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Andre Syahreza
Judul : Black Interview
Penulis : Andre Syahreza
Penerbit : Gagas Media
Tebal : 240 halaman


Jakarta dengan segala problema dan kisah manisnya. Jakarta dengan segala atribut harapan dan simbol metropolitan dalam kemajuan zaman. Jakarta dengan segala aneka rupa dan karakteristik yang memberi sejuta warna. Seribu anekdot, pujian, dan kritik tentang Jakarta berpadu menghasilkan karya yang dituang dalam bentuk seni. Baik itu berupa sastra, lukisan, film, lagu, ataupun grafis.

Jakarta telah menginspirasikan banyak orang untuk menulis lika-liku dinamikanya. Ada banyak buku yang mengisahkan kehidupan masyarakat Jakarta yang tak pernah habis cerita. Tengok saja di jajaran rak toko-toko buku ternama. Karya kontroversial milik Moammar Emka menjadi salah satu yang mencuri perhatian masyarakat. Emka membeberkan kehidupan seks Jakarta”. Bukunya laris manis sampai terbit hingga beberapa edisi. Pun Seno Gumira Ajidarma (SGA) dengan “Affair”-nya menjadikan kota Jakarta sebagai inti isi karyanya.

Andre Syahreza, jurnalis yang matanya juga sangat terbuka lebar terhadap kisah manis getirnya Jakarta. Setelah mengumpulkan laporan jurnalistiknya menjadi sebuah buku The Innocent Rebel : Sisi Aneh Orang Jakarta (GagasMedia, 2006), pria ini kembali mengemas kisah kota kelahirannya dengan sudut pandang yang tentunya berbeda. Black Interview menjadi salah satu karyanya yang -boleh dibilang- lebih “bandel”.

Black Interview merupakan nama rubrik di majalah djakarta! sejak edisi ke-48 ketika djakarta! masih berbentuk majalah bulanan (hal. viii). Seperti dalam chapter “Classical Black” yang berisi wawancara imajiner dengan tokoh-tokoh bikinan Andre. Kemudian, Black Interview ini mengalami perubahan konsep di edisi 84 dengan menekankan setting waktu dan “terungkap” bagaimana keadaan Jakarta satu abad mendatang.

Memang bukan seluruhnya interview yang bisa ditemukan di buku ini. Pun bukan hasil ramalan Andre. Penyebab semua kisah Jakarta pada seratus tahun kemudian merupakan kebalikan dari logika-logika yang sedang terjadi kini. Apa yang bisa kita lihat sama-sama dari jakarte kite sekarang? Macetnya, penduduk padatnya, gubernurnya, budaya konsumerismenya, menjadi beberapa topik dari sekian banyak gambaran kehidupan Jakarta.

Jangan harap pembaca dapat menemukan wajah Jakarta yang cantik seratus tahun mendatang. Yang ada hanyalah orang gila, gubernur yang goblok, kota yang berbahaya, dan serangkaian hitamnya Jakarta yang membuat kita berpikir: jangan-jangan Andre juga ikutan gila. Cerita milik pria yang selama kurang lebih lima tahun sebagai editor-in-chief majalah djakarta! ini kental dengan aroma sarkastis. Andre mengklaim bukunya kali ini berkonsep baru, yakni black comedy - sindiran- dengan ending yang terkadang bikin gemas. “Manusia Bulan” dan “Danger Tour”, contohnya.

Membaca tulisan-tulisannya yang mirip cerpen, ada kekaguman terhadap cara Andre mengkonstruksi setting Jakarta dengan segala keanehan isi kotanya. Berpadu dengan tulisan yang dibuat layaknya penulisan berita, sepertinya kita akan “dipaksa” membuka halaman selanjutnya untuk ikut mereka-reka akan jadi apa Jakarta. Atau bisa jadi malahan sebaliknya. Kita jadi tidak kuat, muak, serta takut apa yang ditulis Andre ada benarnya juga. Semua tergantung interpretasi kita sebagai seorang pembaca. Toh, Andre punya hak untuk beropini ria.

Apakah keadaan Jakarta sekarang hanya akan mewarisi bobroknya Jakarta buat cucu-cicit kita nantinya? Banyak kalimat di buku ini sekilas membuat kita beranggapan bahwa Andre membenci Jakarta. Tapi, siapa tahu kalau jauh di alam bawah sadar Andre (juga kita) mencintai -dan justru SANGAT care dengan mengkritik- Jakarta?

-Rizky Adelia
Anggota aktif LPM Media Publica
Universitas Prof. DR. Moestopo (Beragama), Jakarta