Ini sampel beberapa kostum untuk print ad Kompas & Femina, penghargaan agen asuransi PT Commonwealth Life
Saturday, May 1, 2010
Switzerland
Ini sampel beberapa kostum untuk print ad Kompas & Femina, penghargaan agen asuransi PT Commonwealth Life
Sunday, March 28, 2010
Hanya Cinta Yang Sejukkan Dunia
Saya sukaaaaa sekali film2 yang menguras air mata. Mungkin salah satu alasannya agar saya bisa menangis di depan orang lain tanpa berkesan cengeng (karena ada alasan kuat: menonton film yang ceritanya menyentuh. Hehehe). Jadi, Titanic, P.S I Love You, Serendipity, sampai film Up! yang film kartun, saya bilang itu film romantis dan sempat bikin mata saya berkaca-kaca. Tokoh si Kakek yang berusaha mewujudkan impian mendiang istrinya, benar-benar disusun dengan lucu tapi "miris". Up! is a great romantic movie.
Saya skeptis saja selama ini cerita pengorbanan tentang cinta itu hanya ada di film fiksi. Tapi, seiring bertambahnya usia, teman, pengalaman hidup, cerita kerabat, saya mengamini bahwa cinta bisa mengubah dan menguatkan.
Salah satunya saya paling suka kisah perjuangan seorang perempuan yang mengidap kanker dan berhasil survive sampai akhirnya ia menemukan cinta sejati di tengah-tengah perjuangannya melawan penyakit itu. The love is seems like a fairy-tale with happy ending story. Saya sampai enggak bisa menceritakan kembali kisah Dinda tersebut saking emosionalnya setiap membaca kisah hidupnya yang sempat dimuat di Majalah Femina.
Sampai akhirnya, saya membaca informasi dari Majalah Femina setahun kemudian bahwa sang suami sudah dipanggil terlebih dahulu menghadap Yang Maha Kuasa. Terbayang bagaimana sedihnya Dinda ditinggal belahan jiwanya. Tapi, saya yakin Dinda mampu bertahan karena ia tahu sang suami tetap ingin melihat Dinda berjuang dan tidak menyerah pada nasib di dunia.
Saya yakin masih banyak lagi kisah mengharukan dua insan yang makin membuat kita menghargai bahwa kesetiaan dan pengorbanan atas nama cinta masih ada. Hahahahaa. Gila ya, jadi sentimentil begini.

Seperti yang dinyanyikan Ari Lasso dalam lagu Cukup Siti Nurbaya milik Dewa 19:
"Hanya cinta yang sejukkan dunia."
Cempaka Putih,
29 Maret 2010
Menunggu Ernestito datang ke rumah....
for further Dinda's story, check out this link:
http://www.femina-online.com/issue/issue_detail.asp?id=584&cid=1&views=28
Sunday, February 28, 2010
LoveFool
Iseng saya buka arsip2 lama untuk membereskan rak buku yang sudah berantakan banget.Eh, terselip kertas kecil ini yang ternyata..Olalaa...tak menyangka saya pernah buat puisi semacam ini!!!
Hmm....kalau diingat-ingat, sepertinya saya menulisnya saat boring di dalam kelas (karena saya menulisnya di kertas file). LOveFoOL!

Jika Malam Nanti Ia Kembali
Akan ku katakan padanya
Betapa hidup bisa begitu menggetirkan
Bahwa hanya kabar tentangnyalah
Yang bisa menggetarkan
Semburat senja bagiku seperti gula-gula berwarna jingga
Karena pertanda malam akan tiba
Dan aku akan melihat dia...
Akan kukatakan padanya
Bahwa rindu tak jauh beda menyiksa
Saturday, February 27, 2010
The Naked Traveler
http://naked-traveler.com/
one of my favorite books and i am jealous on her coz she's got my dream job already: travel writer :) Very recommended!
one of my favorite books and i am jealous on her coz she's got my dream job already: travel writer :) Very recommended!
Friday, February 26, 2010
Back To School (Yiippiiieee...!)
Di kelas Metode Penelitian Kuantitatif bersama Ir. Enisar Sangun, Ph.D
Di bawah ini saat kuliah pengganti Statistik Dalam Penelitian Sosial bersama Dr. Mei Darmawiredja

Kalau dibawah ini memang pada dasarnya kita2 narsis semua (heheee...)
"Kuliah lagi nih ceritanya?"Ya. Back to school adalah judul yang tepat dalam hidup saya mulai Oktober 2009. Setelah berdiskusi dengan keluarga dan orang terdekat saya, akhirnya saya membulatkan tekad untuk berkomitmen belajar selama dua tahun ke depan menempuh gelar S2 di bidang ilmu komunikasi (again?? hahaaa..coz that is my core).
"Ga capek, lo, Del?"
Hmmm...tak perlu dijawab panjang lebar kali ya karena biasanya saya hanya tersenyum ketika seorang teman bertanya seperti itu. Saya anggap pertanyaan itu sebagai bentuk kepedulian mereka karena tanpa jawaban gamblang, pasti mereka sudah tahu kalau bekerja sambil kuliah itu benar2 menyita waktu, tenaga, dan pikiran.
"Emang kuliah dimana?"
Tercatat sebagai mahasiswa S2 Magister Ilmu Komunikasi Universitas Prof. DR. Moestopo (Beragama), Jakarta, tugas-tugas yang saya temui ternyata buuaannnyyaaaakk tenaann! Tapi untunglah banyak kolega yang membantu (heheee..thanks, Teman2!) dan dukungan dari keluarga dan pacar yang tiada duanya. Tentunya bos dan supervisor di kantor yang juga maklum kalau saya "kabur" duluan jam 5 teng!

"Susah enggak, sih?"
Segala macam rumor kalau lulusnya susah, tugas yang melimpah, tenaga dikuras seperti sapi perah, itu semua berusaha saya lihat sebagai tantangan. Untuk yang satu ini, saya terus belajar untuk mengatur syaraf2 di otak kalau semua badai pasti akan berlalu. *Tssaaaahhh...*
"Ngapain aja, Del?"
Kuliah seperti kuliah pada umumnya, tapi memang lebih banyak berkutat pada teori dan sudah lebih spesifik dan fokus mempersiapkan mau angkat penelitian (tesis) apa. Analisis kasus dan segudang paper pastinya siap menanti. Jedddeerrr! Masih belum punya ide nih mau angkat tentang permasalahan apa buat tesis.

"Ada penjurusannya gak?"
Sama dengan S1-nya penjurusan nanti, ada jurnalistik, periklanan, dan humas (corporate PR). Tapi, saya kok lagi2 belum bisa memastikan penjurusan yang saya ambil apa yah *garuk-garuk kepala*
Sebagian pertanyaan yang sering dilontarkan para sahabat tersebut jadi semacam pengingat buat saya agar terus semangat belajar. Ga munafik sih, beasiswa yang saya dapat dari S1 sebelumnya jadi magnet terbesar agar saya bisa punya gelar master ini. Tapi, saya coba memandang lebih jauh karena saya yakin ilmu yang saya punya ini akan bermanfaat di kemudian hari, setidaknya untuk saya sendiri dulu.
Mentang-mentang S2, ga usah mikir bakal dapat gaji gede dulu kali yeee karena dari artikel pengembangan karyawan juga banyak menyebutkan kalau perusahaan kebanyakan lebih senang melihat track record dan pengalaman kerja si pelamar dibanding sekadar gelar S2. Makanya, saya juga jor-joran dan belajar untuk jadi lebih tangguh, terus bekerja sambil kuliah, pun belajar menguasai lingkup kerja, metodologi, mekanisme sistem (dan networking tentunya)
No pain no gain.
..............ngomong-ngomong, semoga semester 1 ini lulus deh ya (rada cemas juga nunggu hasil nilai semester awal
)Friday, February 12, 2010
Ujung-ujungnya Dengan Bonek Juga!

Saya tidak suka sepakbola, namun saya tidak membenci sepakbola. Mau bangkit ya syukur, mau hancur ya sudah. Di garis keturunan keluarga (saya percaya dengan kehebatan DNA), tak ada pria ataupun wanita yang menggilai sepakbola. Tapi orang yang ada di foto atas itu, bola terus menggelinding di setiap fase hidupnya. Semua hal di dunia ini sampai zat atom alam semesta pun diasosiasikan dengan sepakbola. Ya, itulah hidupnya. His passion til the last forever...
Bicara soal passion, apa yah hal yang bikin saya tergila2? Saya tidak punya warna favorit, walau suka ungu, saya juga suka warna merah, hitam, indigo, tosca, fuschia. Soal musik, dari The Moffatts sampai Van Halen saya dengarkan. Dari Nunung cs sampai Dewi-dewi juga. Apalagi soal sepakbola. Nol besar kecuali istilah kiper yang saya tahu pasti artinya penjaga gawang

Maka, ketika saya membuka diri untuk mau mengenal dia, seperti kepala dan buntut. Beda! Oh ya, dia seorang propagandis sementara saya orang yang apatis. Dia dengan kadar emosi di atas rata-rata, saya dengan setelan emosi yang dibawah rata-rata. Dia yang sebal dengan perangai orang Jakarta, tapi hey! Saya lahir, besar, dan terdidik di antara orang-orang Jakarta.

Lucu. Dia bercita-cita ingin jadi pemain bola. Tak kesampaian, akhirnya menulis tentang bola. Ah, ya! Menulis. Aktivitas yang satu itu mungkin bisa jadi hal yang membuat kami berdua tersambung. Kami juga suka membaca. Saya menyukai orang yang menghargai orang lain seperti dia menghargai buku-buku miliknya. Satu lagi, dia menyebut dirinya Bonek, seorang pendukung Persebaya dan mencintai sepakbola negeri ini. Seperti prejudice pada para Bonek, ya, super rebel. Hahahaa, oh, Tuhan, saya seperti punya partner in crime yang bisa menantang dunia sama-sama. Tapi, bukan itu alasan utama kenapa saya menerima gandengan tangannya. Sampai sekarang, saya juga tidak tahu kenapa. Dipeletkah?

Cempaka Putih
12 Februari 2010
Menanti kabar seru dari Sydney
Sunday, January 31, 2010
23 : What i have done & Where i am now....
Januari. 28Angka itu lama-lama menjadi angka yang maknanya tergerus oleh kesibukan pikiran dan aktivitas yang kita biasa sebut : orang dewasa. Tak jarang, saat ulang tahun yang semasa kita kecil menjadi hari yang sangat istimewa (karena dirayakan di sekolah atau di rumah bersama teman2 segambreng), kini saya merasa tanggal itu hampir sama seperti tanggal-tanggal sibuk lainnya.
Tapi Alhamdulillah... puji syukur bahwa saya masih bisa memiliki orang-orang yang saya sayangi. Apalah artinya semakin lama berada di dunia namun kita tidak punya arti bagi orang-orang yang berada di sekeliling kita (baca: orang2 itu yang kita sayang).
Satu tanggung jawab tetap berada di setiap diri manusia kala ia bertambah usia: Apa yang sudah saya lakukan? Sudah ada dimana saya sekarang?
Dan saya masih merasa menjadi debu yang hanya bisa mengotori rak-rak buku di lemari. Saya yang kecil dan dianggap kotor, dan buku-buku itu adalah sosok besar isi alam semesta yang saya "hinggapi". Saya merasa belum melakukan apa-apa, dalam konteks sebagai seorang manusia yang memuja Tuhan, saya merasa masih jauh dengan Tuhan dan sering menengok ke sebelah kiri ketika ada godaan memanggil saya untuk menjauh dari-Nya.
Sudah ada dimana saya sekarang? Saya bersyukur saya masih ada di sini bersama orang-orang yang saya cintai melangkah tertatih menjalani hidup dari waktu ke waktu.
Ya, seharusnya saya menjadi orang yang tetap menunduk dan bersyukur bahwa apa yang sudah saya punya sekarang merupakan hal terbaik yang diberikan Allah dan ini semua merupakan amanat dan titipan belaka.
Maka, saya butuh kamu. Butuh kalian untuk saling mengingatkan. Bukan demi surga atau neraka, tapi demi ketenteraman hati, demi sebuah ketulusan karena hidup ini harus dinikmati dan disyukuri.....
Alhamdulillahi rabbil 'alamiin...
P.S: Untuk keluarga, sahabat, dan satu estu yang saya sayang....You're All That i Have.
Terima kasih untuk kelima anggota manis manja grup. Dipta, happy birthday, too, Mas Pras (Eka's spouse), Ruri, Bang Muzal, Sara, dan Bang Eddo.
Sunday, January 10, 2010
Wednesday, December 30, 2009
Sunday, December 6, 2009
Solusi JK

| Rating: | ★★★ |
| Category: | Books |
| Genre: | Biographies & Memoirs |
| Author: | Hamid A |
Sudah basa-basinya. Kita masuk ke penilaian saya pada buku ini. JK. Dua huruf yang kondang dan menyisakan kesan positif selepas menjadi wapres. Ingat media tv pernah menayangkan saat beliau bermain bersama cucu-cucunya di rumah saat lepas tugas jadi wapres? Bagi saya itu cukup menyentuh. Sosoknya yang tidak 'sok kuasa', tidak jaim (jaga image), dan penuh humor menjadi nilai plus tersendiri di mata publik.
Nah, segi positif JK dalam berpikir, bersikap, bertindak, menjadi inti dari isi buku ini. Terlepas dari keterbatasan beliau sebagai manusia, sisi positif siapapun bisa menjadi contoh tauladan. Jujur dari opini pribadi saya, saya angkat topi untuk kerja keras beliau. Terlahir dari keluarga Sulawesi Selatan dengan tipikal budaya yang khas, beliau membuktikan bahwa beliau mampu dan berusaha sebaik-baiknya menjadi seorang pemimpin.
Pemikirannya yang mencerminkan 'terbiasa terjun ke lapangan' memberi solusi tersendiri yang kadang terkesan ekstrem, tidak mainstream. Yang jelas, buku ini bisa jadi pelajaran yang baik bagaimana saat kita menjadi pemimpin dan memperlakukan orang lain dengan sebaik-baiknya tanpa memandang siapa dan dari keluarga mana orang itu berasal.
Sedikit menyoal Golkar disini, Papa saya pendukung Golkar. Pandangan politiknya mengarah ke pohon beringin itu sejak dulu sampai sekarang. Tapi, saya menyarankan Papa untuk jadi "fans" saja, tak usah "tercebur" langsung. Berada di luar lingkaran memudahkan kita untuk menjadi obyektif. Oke, balik ke topik. Termasuk ketika JK mencalonkan diri jadi presiden, tanpa ragu Papa saya mencontreng wajah JK. Juga keluarga Kalla ternyata mendapat tempat tersendiri di hati Papa saya. Dan beliau antusias saat saya membeli buku ini dan kapan-kapan ingin ikut membaca juga.
Tapi, maaf ya, Pa, belum selesai aku baca sampai sekarang, hihihii....
Friday, November 6, 2009
Rengekan : Mau Ke Dufaaaannnnn...!!!
Sudah lama aku tidak merengek seperti bocah yang minta dibelikan balon atau mainan. Tapi, sekarang aku punya "keranjang hidup" yang menampung semua rengekan sepele yang menurutku justru penting. Termasuk:
"Mau ke duuufffaaaannnn......!!!!!"
Tak pernah bosan aku bilang begitu sampai permintaanku terwujud. Entah roh mana yang merasuki hingga tercetus ide dan hasrat menggebu untuk berteriak, tertawa, bergandeng tangan bersama, pamer sunglasses yang (padahal) sudah dibeli dua tahun lalu, foto-foto, dan jalan-jalan. Logikaku tergeser oleh ambisi untuk melepas kekangan cukup satu hari saja. Aku tahu aku jarang meminta banyak. Tapi, dia pusat keceriaanku sekarang ditengah rapatnya tugas dan setan rutinitas.....Please, ke dufan ya...

Subscribe to:
Posts (Atom)